Jamaah Pengajian Google+

Senin, 13 Mei 2013

MJIB - (6). Proses islamisasi di Bali Barat dan Utara (Jembrana dan Buleleng)



Penulis : Achmad Suchaimi


Festival Pencak Silat di kampung muslim Pegayaman Buleleng
Masuknya Islam ke Jembrana diperkenalkan oleh orang-orang Bugis  Makasar. Peristiwanya sejak Makassar berselisih dengan Kompeni Belanda pada tahun 1653-1655 M. ini mengakibatkan banyak nelayan Bugis pindah ke Bali, dan pasukan Gowa pun juga banyak yang mampir ke Bali. Banyak masyarakat Jembrana yang masuk Islam setelah Arya Pancoran, yakni salah satu dari keluarga penguasa Jembrana, I Gusti Ngurah Pancoran, menyatakan  masuk Islam. Hal ini kemudian diikuti oleh banyak penduduknya.
Hubungan antara kedua masyarakat tersebut semakin akrab. Terbukti, ketika terjadi pertempuran antara penguasa Den Bukit Singaraja yang bernama I Gusti Ngurah Panji Sakti melawan pasukan Jembrana pimpinan Arya Pancoran pada tahun 1690 M, orang-orang Bugis dan Melayu membantu pasukan Jembrana dengan meriam-meriamnya. Sebagai imbalannya, mereka diberikan hadiah berupa tanah seluas 200 hektar untuk pemukiman khas bagi orang Melayu-Bugis tersebut.
Al-Qur'an Tua tulisan tangan di Masjid Baitul Qodim Loloan
 Pada tahun 1715 M, I Gusti Agung Alit Tekung yang saat itu menjadi penguasa di Jembrana banyak bekerjasama dengan umat Islam Bugis seperti Daeng Ma’rema dan daeng Kudadempet. Keduanya adalah ahli silat yang dianggap sakti dan menjadi guru silat di Jembrana.
Sumber lain mengungkapkan, bahwa penyebaran agama Islam di Jembrana semakin semarak dengan datangnya Syarif[1] Abdulloh Bin Yahya Bin Yusuf Bin Abu Bakar Bin Habib Hussain Al-Gadri5)[2] dari Pontianak pada tahun 1790. Di Loloan Bali, beliau terkenal dengan sebutan “Syarif Tua”,[3] karena beliaulah anak tertua dari ke-5 bersaudara putra Syarif Yahya bin Yusuf bin Abu Bakar bin Habib Husain Al-Gadri. Kakek buyut beliau, yakni Syarif Abu Bakar bin Habib Husein Al-Gadri, adalah adik Sultan Pontianak I, Syarif Abdurrahman Bin Hussain Al-Gadri. 
Masjid Jami' Al-Gadri di Jembrana
 Menurut Catatan tua (prasasti)[4] dan catatan Belanda tertanggal 18-07-1818, bahwa “Syarif Tua” Abdullah bin Yahya Al-Gadri meninggalkan kerajaan Islam Mempawah Pontianak pada awal tahun 1800-an dengan membawa rombongan terdiri dari orang-orang Bugis, Banjar dan Melayu. Mereka berlayar menaiki 4 kapal besar.  Desa Loloan di Jembrana Bali merupakan persinggahan terakhir, setelah singgah di Trengganu (Malaysia), pulau Natuna (Kepri) dan pulau Sembilan. Missi utamanya adalah berdakwah menyebarkan agama Islam secara damai dan santun di daerah-daerah yang disinggahi.
Selain catatan tersebut, juga dijumpai informasi sahih tentang datangnya orang-orang Melayu-Bugis di Bali di seputar tahun itu,  bahwa ulama-ulama dari negeri Kucing dan Serawak (sekarang masuk wilayah Malaysia Timur) juga berdatangan ke Loloan. Setelah masa itu kemudian datang  Syekh Ahmad Bawazir dari Yaman untuk berdakwah. Mereka mengajar agama Islam kepada warga Loloan dengan menggunakan bahasa pengantar bahasa Melayu, sesuai bahasa sehari-hari di Loloan saat itu. Hal inilah yang kemudian membuat bahasa Bugis lambat laun tersisih, hingga akhirnya hanya bahasa Melayu yang digunakan di Loloan.
KH Sayid Ali Bafaqih
Keberadaan budaya Islam Melayu di Jembrana-Bali  semakin kuat dan kokoh setelah generasi-generasi muda Loloan mulai dikirim belajar ke Mekkah. Bahkan, di antara mereka ada yang berkhidmat di Mekkah hingga 30 tahun, seperti H. Agus Salam, H. Muhammad Said dan H.M. Asad yang sempat mondok di Masjid al-Haram sebelum faham Wahabi masuk ke Arab Saudi. Sepulangnya dari jazirah Arab, mereka membangun pesantren-pesantren di Loloan. Termasuk didalamnya adalah KH Sayyid Ali Bafaqih.

Meski jumlah umat Islam di pulau Bali sangat kecil bila dibanding dengan umat Hindu yang mayoritas, namun mereka juga ikut serta dalam mewarnai khazanah kebudayaan Bali. Pengakuan atas mereka teraktualisasikan pada beberapa Pura di Bali. Mereka membangun Masjid di Air Kuning yang sampai sekarang masih berdiri. Inilah peninggalan arkeologi tertua tentang Islam di Bali, sekalipun sekarang bentuknya berubah karena pemugaran.
Jejak-jejak Islam di pulau Bali Barat dan Utara ini dapat dilihat dari terbentuknya komunitas muslim di Jembrana seperti desa Loloan, Palasari dan Yen Sumbul, serta di Buleleng seperti desa Pegayaman, Bedugul, dan desa-desa sepanjang pantai utara Buleleng (seperti desa Temukus, Banjar Jawa, sampai Kampung Bugis). Di samping itu ditemukannya makam tua “Walipitu Bali”, diantaranya makam keramat Karang Rumpit milik Syekh Abdul Qodir Muhammad (The Kwan Lie) di desa Temukus, makam keramat KH Sayyid Ali Bafaqih dan makam keramat “Syarif Tua” Abdullah bin Yahya Al-Qadri di Loloan, serta makam keramat Habib Umar bin Maulana Yusuf al-Maghribi di bukit Bedugul dan lain-lain.  




[1] )  Sebutan “Syarif” merupakan nama gelar bangsawan Hadhramaut keturunan para Raja atau Ahlu Bait.
[2] )  Al Habib Hussain Bin Ahmad Bin Hussain Bin Muhammad AlQadri adalah seorang waliyyulloh  kelahiran Hadramaut Yaman yang mengajar di kerajaan Mempawah Pontianak atas undangan sang Raja waktu itu, hinnga diangkat menjadi mufti besar Negeri Mempawah. Dari Habib Husain Al-Qadri inilah nasab-keturunan Raja-raja Pontianak bermuara. 
[3] )  Makam “Syarif Tua” Abdullah bin Yahya Al-Qadri saat ini berada di kampung Loloan Timur, kurang lebih setengah km dari makam keramat Sayyid Arif (Habib Ali Bafaqih).
[4] )  “Prasasti Melayu” yang disimpan di Masjid Al-Qadim Loloan Barat kabupaten Jembrana - Bali. Didalam prasasti itu dituliskan, bahwa salah seorang rombongan Syarif Abdullah Yahya al-Qadri bernama Ya’qub asal Trengganu, pada tanggal 1 Dzulqa’dah 1268 H  mewaqafkan barang-barang milik istrinya dan mewaqafkan semua warisannya berupa al-Qur’an (tulisan tangan) dan sawah satu petak  di Mertosari. Saksinya adalah Syarif Abdullah bin Yahya al-Qadri dan Khatib Abdul Hamid. Makam kuburan Ya’qub saat ini masih ada, yakni di pelataran Masjid Al-Qadim .