Jamaah Pengajian Google+

Rabu, 22 Mei 2013

MJIB - 14. Akluturasi Budaya Islam - Hindu di Pegayaman (4)

______________________
Oleh : Achmad Suchaimi


Kesenian Muslim Pegayaman dalam rangka Perayaan Maulid Nabi



Mengarak ogoh-ogoh
Ogoh-ogoh saat Muludan sama persis dengan ogoh-ogoh yang diarak umat Hindu menjelang Nyepi. Begitu pula dengan Seka (kelompok) Zikir yang melantunkan sejarah hidup Nabi dengan cara mekidung, adalah sama seperti yang dilakukan oleh umat Hindu dalam melantunkan mantera-mantera doa Hindu.

Seni Burdah
Sedangkan hadrah adalah kegiatan melagukan syair  qosidah yang berisi sholawat dan kisah perjalanan hidup Nabi Muhammad disertai iringan musik tradisional rebana. Para pemain hadrah menggunakan pakaian adat khas Bali seperti udeng (ikat kepala), kamen (sarung), dan baju adat (baju takwa putih).


Tak hanya dalam soal ritual atau ibadah. Pengaruh budaya Bali pun terlihat pada masih diterapkannya Subak. Sebagian besar warga Pegayaman bekerja sebagai petani padi, kopi, maupun cengkeh. Dalam hal ini, Subak tidak hanya sebagai kelompok pengairan, tetapi juga sebagai sebuah budaya. 
Sebagai anggota Subak, para petani muslim melakukan upacara-upacara dalam urutan pertanian. Mulai dari menanam sampai panen. Bedanya, tradisi ini dilakukan oleh petani muslim dengan cara mengaji (membaca Al-Qur’an, Dzikir, Tahlilan dan doa-doa Islam lainnya) di mushola-mushola dekat sumber mata air atau sawah. Tiap selesai panen, misalnya, para petani muslim di Pegayaman melaksanakan tradisi dzikir Abda’u, yakni tradisi tasyakuran dengan membuat sate gempol dari daging sapi dan ketupat. Sebelum bersantap menikmati makanan ini, mereka terlebih dulu membaca doa-doa dan puji-pujian dalam Bahasa Arab, yaitu membacakan dzikir Abda'u (abda-u bismillahi wa rahmani....)
 
Sistem pengairan Subak di Pegayaman.

Budaya “subak” tidak hanya ada di Pegayaman, akan tetapi juga di perkampungan muslim lainnya seperti  di  Loloan, Yeh Sumbul dan tempat lainnya.
Dalam tataran budaya, umat Islam di Loloan Jembrana telah “berbaur” dengan budaya setempat. Hal ini terlihat dari lembaga adat yang tumbuh di masyarakat muslim Bali, ternyata sama dengan lembaga adat pada masyarakat Hindu Bali. Sistem pengairan bidang pertanian tradisional (subak) misalnya, para petani muslim menerapkan pola pengaturan air seperti yang dilakukan oleh para petani Hindu, meskipun cara mensyukuri saat panen berbeda.
Petani muslim yang mengolah lahan pertanian di Subak Yeh Sumbul, Medewi, Pekutatan dan Yeh Santang (Kabupaten Jembrana) menerapkan sistem pengairan secara teratur seperti umumnya dilakukan oleh para petani Pulau Dewata, Adanya unsur kesamaan ini dapat dijadikan tonggak untuk menciptakan ‘kemesraan‘ dan tali persaudaraan antara umat Hindu dan Islam, serta umat beragama lainnya di Pulau Dewata.