Jamaah Pengajian Google+

Sabtu, 18 Mei 2013

MJIB - 13.Profil Kampung Muslim Pegayaman Bali (3)

____________________________
 oleh : Achmad Suchaimi

 
Pawai Ta'aruf Nyama selam di Pegayaman
  
PERKAWINAN BEDA AGAMA. 
Dalam masalah perkawinan, sepertinya ada kesepakatan tak tertulis di antara penduduk muslim dan Hindu di Pegayaman.  Bila pihak pria beragama Islam, istrinya mengikuti agama suaminya. Begitu pula sebaliknya. Perkawinan di Bali memang menganut sistem patrilinial. Proses ke jenjang perkawinan di Pegayaman berbeda dengan masyarakat desa sekitar.
Bila seorang pemuda bertandang ke rumah gadis, mereka tak boleh bertemu langsung face to face. Sang cewek tetap berada di dalam kamar, sedangkan si pria di luar. Keduanya ngobrol lewat sela-sela daun pintu atau jendela yang tetap tertutup. Tapi, pasangan yang tak punya hubungan asmara malah boleh bertemu langsung.  “Kencan” tak boleh dilakukan di malam hari. Sebab ada aturan, bahwa gadis atau remaja putri tidak boleh keluar rumah setelah maghrib. Tidak disebutkan hukuman bagi pelanggar aturan itu.


Bentuk akulturasi lain di Pegayaman adalah pada urutan perayaan hari besar. Umat Islam di desa ini punya tradisi Penyajanan (membuat jajan), Penapean (membuat tape), dan Penampahan (memotong hewan) menjelang hari raya Idul Fitri, Idul Adha dan Maulid Nabi. Sebagaimana tradisi ini juga dilakukan oleh umat Hindu dalam menyambut hari raya dan upacara ritual mereka tertentu, Tradisi-tradisi tersebut, selain untuk menambah semangat saat berhari raya juga untuk saling berinteraksi antar warga. Misalnya Penampahan, tradisi ini dilakukan dengan memotong sapi yang dibeli secara urunan, disebabkan harga sapi per ekornya cukup mahal. Dengan cara urunan ini warga muslim dapat saling berbagi beban, sekaligus belajar membagi secara adil.
Tradisi Male di Pegayaman

Maulid Nabi di Pegayaman : Pawai Mengarak Sokok Talu
Di Pagayaman  ada semacam tradisi masyarakat  setempat yang  menunjukkan adanya toleransi  yang kuat dalam masayarakat Bali,  yang disebut MaleMale adalah bentuk ritual ketika masyarakat muslim Bali memperingati hari Maulid Nabi Muhammad SAW. Sebelum membaca Shalawat Nabi (Diba’ / Barzanji) di masjid, masyarakat Islam di Bali mengadakan pawai berkeliling kampung dengan membawa “sokok”, yaitu hiasan dari telur atau bunga, yang dihias sesuai dengan keinginan pemiliknya, Sokok Basa terbuat dari bunga sedangkan Sokok Taluh dari telur. Sokok ini mirip pajangan dalam upacara umat Hindu Bali.  Beragam bentuk akan ditemukan, mulai dari bentuk Pura, Perahu, Masjid dan lain-lain. 
Membuat Sokok Taluh
Sokok berupa telur atau bunga yang ditusuk bambu dan dihiasi kertas warna menyala ini kemudian diusung keliling kampung secara berombongan yang dikawal dengan pasukan khusus dari adat Bali yang disebut Pager Uyung, yaitu kaum ksatria adat baik muslim maupun Non Muslim.  Dalam pawai ini, ada hadrah, pencak silat, drum band, ogoh-ogoh (patung raksasa) dan berakhir di masjid. Sesampainya di masjid ada pembacaan kitab Al-Barzanji yang berisi riwayat kelahiran Nabi Muhammad dan doa bersama. Setelah itu ada khotbah singkat. Terakhir, setelah dibacakan doa, sokok-sokok itu kemudian dibagi-bagikan kepada anak-anak yang datang. Saat pembagian sokok hampir sama seperti saat pembagian apem Gerebegan Suro di Solo dan Yogyakarta.