![]() |
Cungkup makam Habib Ali Al-Hamid "Walipitu " di Kusamba Bali |
PENGERTIAN WALIPITU BALI
Jika di Jawa
diketahui ada istilah Walisongo (Tis’atul Awliya’,
sembilan wali), maka di Bali ada istilah Walipitu
(Sab’atul Awliya’, tujuh wali). Hanya saja, istilah Walisongo
Jawa sudah dikenal ratusan tahun yang lalu, sedangkan Walipitu
Bali dikenal dan dipopulerkan beberapa tahun yang lalu, era tahun 1990-an.
Selain itu, ada sedikit perbedaan pemahaman tentang kata “wali” dalam
istilah Walisongo dan kata “wali” dalam istilah Walipitu.
Kata “wali”
sesungguhnya merupakan kependekan dari kata “waliyulloh” (Walinya
Gusti Alloh), yang secara umum dapat diartikan sebagai orang sholeh kekasih
Alloh yang memiliki kedekatan hubungan dengan-Nya dan memiliki karomah
tertentu.
Pemahaman dan
pengertian Walipitu nampaknya mengacu pada pengertian di atas.
Dengan demikian, yang dimaksud dengan istilah Walipitu Bali
adalah tujuh orang sholeh kekasih Alloh di Bali yang memiliki kedekatan
dengan-Nya dan memiliki karomah tertentu, baik semasa hidupnya maupun setelah
wafatnya.
Tentu saja
konotasinya berbeda dengan pengertian “Walisongo” di Jawa , dimana
kesembilan Waliyulloh ini tidak dipahami sekedar sebagai orang sholeh yang
sangat dekat dan dicintai Alloh serta memiliki karomah tertentu, akan
tetapi juga dikaitkan dengan peranan
mereka sebagai penyebar Islam terpenting pada awal-awal pertumbuhan Islam di
Jawa, dengan dibuktikan oleh sejarah perjalanan hidup dan perjuangan mereka
yang sudah jelas dan diakui kebenarannya oleh para ahli sejarah dan masyarakat
umum. Jika istilah “Walisongo” dipahami
sekedar sebagai orang sholeh yang sangat dekat dengan Allah dan memiliki
karomah, tentu saja jumlah Waliyulloh di pulau Jawa tidak terbatas
sembilan orang, tetapi bisa jadi ratusan, bahkan ribuan orang.
Sedangkan pengertian
“Walipitu” nampaknya tidak dikaitkan dengan peranan mereka sebagai
muballigh atau penyebar Islam terpenting di Pulau Bali.
Kalaupun “dipaksakan” untuk dicarikan keterkaitannya, beberapa orang diantara
mereka masih belum ditemukan sejarah hidup dan perjuangannya secara jelas lagi
diakui oleh ahli sejarah. Oleh karena itu tidak mengherankan jika sebagian
kalangan melontarkan “gugatan” atau protes terutama terhadap keanggotaan
Walipitu ini, karena beberapa anggotanya dipandang tidak ada keterkaitannya dengan
proses penyebaran Islam di pulau Bali, sementara beberapa “tokoh” yang
dipandang cukup berjasa dalam penyebaran Islam justru tidak diakomodasi, sebut
saja : Kiyai Abdul Jalil, Raden Modin, Syarif Tua Abdullah bin Yahya bin Yusuf
bin Abu Bakar bin Habib Husain Al-Gadri,
Lepas dari pro dan
kontra seperti di atas, penemuan “Walipitu di Bali” yang saat ini sudah kadung
(terlanjur) populer ini merupakan langkah positif yang perlu mendapatkan
apresiasi dan dukungan dari berbagai pihak, mengingat dampak positifnya yang
begitu besar terutama bagi kemajuan dan perkembangan industri pariwisata di
pulau Bali, atau minimal membangun suatu citra bahwa di tengah kehidupan
masyarakat Bali yang mayoritas Hindu ternyata ada Waliyulloh-dan
komunitas muslim yang dapat hidup berdampingan dengan umat Hindu secara damai
dan penuh toleransi.
PROSES PENEMUAN WALIPITU BALI
Berbeda dengan Walisongo
yang sudah dikenal sejak beberapa abad yang lalu, maka istilah Walipitu
di Bali baru dikenal dan populer sejak beberapa tahun yang lalu. Tepatnya sejak
tahun 1992 M/ Muharram 1412 H oleh KH Toyib Zaen Arifin 1) bersama timnya dari Jama’ah Akhlaqul
Hasanah - Jam’iyyah Manaqiban Al-Jamali Kota Denpasar yang dibinanya, telah
mengadakan penelitian dan penelusuran untuk mewujudkan adanya tujuh orang
auliya’ (Sab’atul Auliya’) di pulau Bali.
Gagasan,
penelusuran dan penemuannya berawal dari isyarat sirri (berupa
ilham atau hatif)2) sebagai hasil dari Riyadhoh yang dilakukan
oleh KH Toyib Zaen Arifin pada bebarapa malam (sehabis shalatul lail)
bulan Muharram 1412 H/1992 di rumahnya (Sidoarjo). Diantara hatif yang
didengarnya berbunyi : “Wus kaporo nyoto ing telata Bali
iku kawengku dining pitu piro-piro wali. Cubo wujudno” (Di daerah Bali nyata dihuni oleh tujuh orang Wali. Coba wujudkan).
Dan begitu seterusnya hatif di malam-malam selanjutnya.
Persoalannya, siapa
yang termasuk hitungan Walipitu Bali?
Dari berbagai sumber yang penulis dapatkan, ada beberapa versi tentang
siapa yang termasuk hitungan Walipitu tersebut. Sebagai berikut :
Versi 1 :
1. Habib Ali
Bafaqih
2. Pangeran Mas
Sepuh alias Raden Amangkuningrat
3. Habib Umar bin
Maulana Yusuf Al-Maghrobi
4. Habib Ali Bin
Abu Bakar bin Al-Hamid
5. Syech Abdul
Qodir Muhammad / Wali Cina
6. G.A. Dewi Siti
Khotijah
7. Habib Ali bin
Zainal Abidin Al-Idrus,
Versi 2, (Sumber: http://mistikus-sufi.blogspot.com/)
1. Pangeran Mas Sepuh alias Raden
Amangkuningrat
2. G.A. Dewi Siti
Khotijah
3. Habib Umar bin
Maulana Yusuf Al-Maghrobi
4. Habib Ali bin
Zainal Abidin Al-Idrus
5. Syekh Maulana
Yusuf Al-Baghdi Al-Maghrabi
6. Habib Ali Bin
Abu Bakar bin Al-Hamid
7. Syech Abdul
Qodir Muhammad / The Kwan Lie
Versi 3, (http://dadieditor.multiply.com/journal/item/142/142)
1. Pangeran Mas Sepuh alias Raden
Amangkuningrat
2. G.A. Dewi Siti
Khotijah /
3. Pangeran
Sosrodiningrat
4. Habib Umar bin
Maulana Yusuf Al-Maghrobi
5. Habib Ali Bin
Abu Bakar bin Al-Hamid
6. Syekh Maulana
Yusuf Al-Baghdi Al-Maghrabi dan Habib Ali bin Zainal Abidin Al-Idrus
7. Syech Abdul
Qodir Muhammad / The Kwan Lie
Versi 4, (http://zulfanioey.blogspot.com/2010/10/wali-pitu-.html)
1. Pangeran Mas Sepuh alias Raden
Amangkuningrat
2. G.A. Dewi Siti
Khotijah
3. Pangeran
Sosrodiningrat
4. Habib Umar bin
Maulana Yusuf Al-Maghrobi
5. Habib Ali Bin
Abu Bakar bin Al-Hamid
6. Syekh Maulana
Yusuf Al-Baghdi Al-Maghrabi
7. Habib Ali bin
Zainal Abidin Al-Idrus
Versi 5. (Buku Sejarah Wujudnya Makam Sab’atul Auliya’, Wali Pitu)
1. Pangeran Mas
Sepuh alias Raden Amangkuningrat
2. Habib Ali bin
Abu Bakar bin Umar bin Abu Bakar Al-Hamid,.
3. Habib Ali bin
Zainal Abidin Al-Idrus
4. Syekh Maulana
Yusuf Al-Baghdi Al-Maghribi.
5.Habib Umar bin
Maulana Yusuf Al-Maghribi
6. The Kwan Lie,
Syekh Abdul Qodir Muhammad,.
7. Habib Ali bin
Umar bin Abu Bakar Bafaqih,.
Dari beberapa versi tersebut, urutan penyebutan nama para wali yang termasuk hitungan Walipitu beserta nama makam keramatnya yang akan penulis uraikan berikut ini adalah menurut penuturan dan pendapat KH Toyib Zaen Arifin, dengan alasan bahwa beliau merupakan orang yang pertama kali menggagas dan menciptakan istilah “Walipitu” di pulau Bali, didalam bukunya yang berjudul “Sejarah Wujudnya Makam Sab’atul Auliya’, Wali Pitu di Bali”. Adapun nama-nama ketujuh nama auliya’ ini sebagaimana yang tercantum pada versi 5 di atas. Sedangkan, nama-nama para auliya’ yang disebutkan dalam beberapa versi lainnya (versi ke-1 s/d ke-4), nampaknya mengacu pada bukunya KH Toyib Zaen Arifin di atas.
______________________
*) Diolah dari berbagai sumber
1 ) KH Toyib Zaen Arifin yang lahir di Semarang
pada tahun 1925 ini merupakan pengasuh Pondok Pesantren Putri Al-Khoiriyah yang
didirikannya pada tahun 1987 di dusun Belahan Wedoro Waru Sidoarjo Jawa Timur.
Beliau merupakan Pengasuh dan Pembina
Jama’ah Akhlaqul Hasanah - Jam’iyyah Manaqiban Al-Jamali (Jawa-Madura-Bali)
yang berpusat di Jl. Gunung Merbabu Kota Denpasar. Beliau adalah penggagas ditemukannya Makam
Keramat Walipitu di Bali.“
2 ) Hatif“ adalah semacam suara sayup-sayup
yang terdengar secara jelas oleh orang yang ahli riadhoh / tirakat, namun tidak
tampak siapa yang berbicara. Orang Jawa bilang, “suworo tanpo rupo”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar