Tampilkan postingan dengan label bugis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bugis. Tampilkan semua postingan

Kamis, 27 Juni 2013

MJIB - 19. Sejarah Kampung Muslim Loloan dan Air Kuning Jembrana - Bali


_____________________________

Oleh : DHURORUDIN MASHAD



Al-Qur’an Kuno di Masjid Baitul Qodim Loloan
Hari masih pagi, tetapi sinar mentari sudah terang benderang menyinari bumi. Tetapi di sepagi itu saya dkk sudah sampai di wilayah Loloan,  tempat komunitas Islam yang telah sangat lama keberadaannya.  Sangat tepat jika eksistensi kampung itu disebut sebagai kampung kuno saja.
Sejarah keberadaan komunitas muslim Loloan  merupakan keturunan dari tanah Melayu (Kuala Trengganu) dan kaum Bugis yang sudah beberapa abad  lalu masuk Bali.  Eksistensi mereka ini juga menjadi bukti historis bahwa Islam telah lama masuk di wilayah Jembrana ini.  Hingga kini mereka bertahan dengan agama Islam dan adat-istiadat Melayu. Bahkan,  berbeda dengan komunitas muslim yang juga tergolong kuno di lokasi lainnya yang umumnya memakai bahasa Bali sebagai alat komunikasi seharí-hari,  komunitas di tempat ini ternyata tetap menggunakan bahasa melayu sebagai bahasa keseharian di kalangan mereka.
Daerah Lolohan terbagi menjadi tiga wilayah:  Lolohan Selatan, Timur, dan Barat. Masyarakat setempat biasa menyebut Lolohan Selatan dengan Markesari. Penduduk Markesari 95   persennya  memeluk agama Hindu. Adapun Lolohan Barat dihuni penduduk Muslim dan non Muslim. Dengan perbandingan 50 persen Muslim dan 50 persen lainnya non Muslim, campuran antarai: Hindu, Budha, Kristen dan lainnya
Dengan dibatasi sebuah sungai yang membentang dan atau membelah wilayah,  di sebelah  timur lokasi ini membentang wilayah yang disebut Loloan Timur. “Sungai itu dahulu banyak sekali buayanya”,  kata sesepuh kampung yang sempat kami jumpai. Lolohan Timur adalah sebuah kawasan penduduk di pulau Bali yang hampir 96 persen penduduknya memeluk agama Islam. Lolohan Timur masuk wilayah Negara (baca: Negare), Kabupaten Jembrana, Bali. Tempat ini berada kurang lebih 25 km. dari Pelabuhan Gilimanuk, dan berjarak sekitar 84 km. dari Kota Denpasar. Lolohan Timur merupakan desa yang hijau. Bermacam-macam tanaman tumbuh subur disana.  Penduduk Lolohan Timur sebagian besar bekerja sebagai nelayan yang tidak mencari ikan di laut, tetapi di pengambengan. Pengambengan menyerupai danau kecil yang banyak dihuni ikan.  Pengambengan mungkin lebih tepat disebut rawa.  (Ali Romdhoni,, ”Mengintip Aktifitas Masyarakat Muslim Lolohan Timur Bali”,  AMANAT, Edisi 101/ Agustus 2004).
Di Loloan Timur yang dominan Muslim inilah terdapat beberapa pesantren, termasuk Pondok Pesantren Manbaul Ulum. Usia pesantren ini tergolong paling tua. Pondok ini didirikan KH Ahmad Dahlan Al-Hadi (tahun 1935) yang asal-usulnya dari  Semarang. Pondok ini pernah besar dan santrinya mencapai ribuan orang. Namun sejak terjadi gempa tahun 1976, yang meruntuhkan seluruh bangunan pondok, jumlah santri tersisa 11 orang. Selang beberapa waktu dari peristiwa gempa itu,  KH Ahmad Dahlan Al-Hadi wafat. Kemudian tampuk pimpinan pondok diteruskan menantunya, KH Zaki Abdurrahman, suami Hj Musyarofah, putri tertua dari istri ke-2 KH Ahmad Dahlan.
Masyarakat Muslim Lolohan timur mendapat perlakukan istimewa termasuk dalam hal mendirikan tempat ibadah. Bagi masyarakat Muslim Bali, mendirikan bangunan rumah ibadah (mushola apalagi masjid) tidaklah mudah. Namun,  khusus untuk Lolohan Timur hal itu tidak lagi menjadi masalah. Khusus daerah ini, mendirikan masjid tidak perlu melalui prosedur yang berbelit-belit sebagai mana yang terjadi di daerah lainnya.
Hingga sekarang, Loloan dikenal sebagai daerah muslim terbesar di Bali. Menariknya, peninggalan Islam tersebut masih terpelihara dengan baik. Seperti prasasti dari ukiran kayu dan Al-Qur’an hasil tulisan tangan yang saat ini disimpan di Masjid Jami’ Baitul Qadim, Loloan Timur. Al Qur’an dan ukiran kayu yang berusia lebih dari dua ratus tahun, berbunyi, Hijrah Nabi S.A.W 1268 tahun Wau (arab) kepada tahun Ha (Arab) sehari bulan Zulhijah hari Senin.  Masjid di Loloan Timur usianya juga sama tuanya dengan keberadaan masyarakatnya.  Hanya saja bangunannya sama sekali sudah tidak meninggalkan bekas-bekas aslinya,  karena semua sudah dirubuhkan diganti total dengan bangunan modern.  ”Namun,  beberapa sisa kayu belandar masih tersimpan di lantai dua”,  kata seorang pengurus masjid yang saya temui,  sekaligus mengantarkan ke atas untuk menunjukkan sisa-sisa kayu blandar yang ada.
”Tapi apalah artinya sisa onggokan kayu yang digeletakkan begitu saja.  Pasti tak akan lama lagi  kayu itu akan terbuang juga”,  kata hatiku menyayangkan pembongkaran ini.  Sekali lagi,  inilah bukti bahwa bangsa kita dimanapun lokasinya, apapun pangkat dan derajadnya,  rakyat ataupun pejabat,  tampak  kurang  menghargai segala hal berbau sejarah. Mereka umumnya silau terhadap imitasi kemodernan termasuk dalam segi bangunan. Hanya ketika mereka melancong ke mancanegara dan memperhatikan bangunan-bangunan kuno yang terawat baik,  mereka berdecak kagum tanpa kesadaran mendalam untuk merawat koleksi sejarah yang ada di negaranya.
Selain Loloan,  saya dkk diantarkan pula ke komunitas Muslim tua lainnya yakni di Desa Air Kuning. Desa Air Kuning ini bersebelahan dengan Desa Yeh Kuning yang juga berarti air kuning.  Bedanya, jika Air Kuning komunitas penghuninya adalah muslim,  maka Yeh Kuning ditempati oleh komunitas Hindu. Pada masa perjuangan 1945 desa Air Kuning ini dijadikan tempat persinggahan pejuang yang tergabung dalam Pasukan Sunda Kecil yang dipimpin Kol (Anumerta) I Gusti Ngurah Rai, yang sekarang namanya diabadikan sebagai nama Bandara Internasional di Bali.
Komunitas Muslim Loloan dan Air Kuning di Jembrana alias Jimbarwana ini yang pertama ada  berasal dari Bugis. Mereka datang  dalam dua tahap, pertama tahun 1653-1655,  dan kedua tahun 1660-1661 menyusul berakhirnya perang Makasar antara kerajaan Gowa vs.  VOC.  Kaum Bugis/Makasar ini umumnya merupakan pelarian   menyusul perjanjian Bungaya setelah kekalahan Gowa oleh Belanda.  Kaum pelarian ini  sempat beberapa kali pindah tempat,  sebab mereka memang  dikejar-kejar Belanda.  Mereka nomaden di   sekitar  daerah pantai timur dan utara Sumatera, pantai barat dan selatan Kalimantan (disebut orang Bugis Pegatan),  Jawa Barat (Banten),  Pasuruan (Jawa Timur),  dan terakhir Badung  dan Air Kuning -Jembrana (Bali).
Pelarian asal Sulawesi Selatan itu memang terus dikejar-kejar serdadu VOC (pasukan Spelman) dan Arung Palaka karena sebagian perahu sisa sekuadron Bugis/Makassar itu masih memiliki senjata meriam.  Kala itu VOC kepada masyarakat sengaja membangun image negatif bahwa kaum pelarian itu adalah perompak,  karena mereka memang kerap melakukan serangan terhadap kapal-kapal VOC. Bahkan,  setelah Makassar jatuh di tahun 1667 Belanda membuat sayembara bahwa siapapun yang dapat menangkap sekuadron perahu-perahu keturunan sultan Wajo (berjumlah 4 buah) yang disebut Iinun  alias perompak ini akan diberi hadiah sepuluh ribu ringgit.
Sebelum ke Bali pelarian dari Gowa itu sempat bersembunyi di teluk Panggang Blambangan,  dan bertahan hidup sebagai nelayan. Sebagian dari mereka berikutnya kemudian pindah ke Buleleng (pantai Lingga),  namun ada pula yang ke Jembrana. Kala itu, baik Blambangan maupun Jembrana memang berada di bawah pengaruh kekuasaan Buleleng.  Daeng Nachoda  misalnya,  tertarik untuk pindah ke Jembrana tahun 1669.  Semula mereka mendarat di Air Kuning dan memasuki Kuala Perancak,  serta tinggal untuk sementara di lokasi yang disebut kampung Bali. Peninggalannya sampai kini masih ada berupa sumur yang jernih, yang oleh warga disebut sumur Bajo.  Akhirnya mereka diberi ijin penguasa Jembrana, yakni marga Arya Pancoran (Gusti Ngurah Pancoran),  untuk menetap. Tempat  mereka itu kini dikenal sebagai  pelabuhan Bandar Pancoran (pelabuhan lama di Loloan Barat) (Saleh Saidi & Yahya Anshori (eds), Sejarah Keberadaan Umat Islam di Bali,  Denpasar: MUI, 2002.)..
Eksistensi kaum pengungsi ini dalam kenyataannya tidak menjadi beban melainkan justru menjadi berkah bagi Jembrana dan wilayah-wilayah Bali lainnya.  Untuk di wilayah lain,  saya telah menguraikan bahwa mereka akhirnya menjadi kekuatan keamanan utama.  Khusus untuk di Jembrana ada manfaat khusus yang didapatkannya, yakni: masyarakat muslim asal Sulawesi Selatan itu akhirnya berhasil membangun simpul ekonomi baru berupa pelabuhan.
Berkat  perahu-perahu pedagang jelmaan sekuadron keturunan Sultan Wajo itu,  Jembrana  akhirnya menjadi wilayah yang tak lagi terisolir dari dunia luar. Realitas ini menyebabkan hubungan antara kaum Bugis/Makasar  dan keraton menjadi akrab.  Apalagi,  Daeng Nachoda dan penembak-penembak meriam Bugis/Makasar ini akhirnya menjadi tulang punggung kekuatan Jembrana,  terutama ketika I Gusti Ngurah Panji Sakti (1660) raja Den Bukit,  Singaraja (Buleleng)  menyerang  Jembrana. Jembrana memang kalah,  dan menjadi kerajaan vasal  Buleleng,  namun dukungan kaum Muslim ini tetap tertancap kuat dalam benak keraton.
Di era penguasaan Buleleng ini,  kaum Muslim memanfaatkan situasi untuk memperlebar jaringan dagang sekaligus penyebaran Islam.  Daeng Nachoda dan anak buahnya misalkan,  utuk memperlebar sayap perniagaan ke Buleleng,  sekaligus untuk menyebarkan Islam.  Perahu-perahu yang mereka miliki dijadikan penghubung logistik (perekononian) yang penting antara Buleleng-Jembrana.  Walhasil, meski secara politik berada di bawah kekuasaan Buleleng,  tetapi Jembrana  kala itu justru berkembang maju terutama dalam konteks pelabuhan dan atau perniagaan.
Ketika  I Gusti Ngurah Panji Sakti (raja Buleleng) melepaskan pengaruh  kekuasaannya atas Blambangan,  sehingga  dilepaskan pula pengaruhnya atas Jembrana yang kala itu di bawah kendali Dhalem Dewa Agung Jambe (yang sangat fanatik Hindu bahkan feodalistik).   Kala itulah raja Mengwi mengambil alih Jembrana,  mengingat Mengwi memang ikut  berjasa dalam penaklukan Blambangan.  Apalagi  raja Mengwi  adalah pula ipar Panji Sakti sendiri.
Tahun 1697 terjadi banjir bandang,  Sungai Ijo Gading meluap,  menghancurkan keraton Brambang (pusat kerajaan Jembrana) termasuk keluarga raja I Gusti Ngurah Putu Tapa dan rakyatnya. Meski ikut keterjang banjir,  tetapi perkampungan Bugis di Bandar Pancoran selamat. Wakil Raja (I Gusti Ngurah Made Yasa)  juga selamat, karena kala banjir bandang ia sedang  berkunjung ke Mengwi untuk mengundang Ngeluwur (Pengabenan Besar).  Mengwi sebagai negara ”atasan” membantu patih untuk membangun kembali kerajaan Jembrana,  yang akhirnya dipindahkan dari Brambang ke Jembrana.  Ketika membangun istana yang diberi nama Jero Andol ini kaum ”pelarian” asal Blambangan yang terdesak oleh perkembangan Islam ikut membantu juga.
I Gusti Ngurah Putu Yasa ”dinilai” tak mampu memimpin negeri, oleh karena itu akhirnya diambilkan raja pengganti, yakni  putra bungsu raja Mengwi I Gusti Agung Alit Takmung dengan gelar Anak Agung Ngurah Jembrana. Namun raja baru ini masih kecil,  sehingga ia  didampingi ibu (I Gusti Ayu Ler Pacekan) dan kakeknya ( I Gusti Ngurah Takmung) sebagai patih yang membangun puri Jeroan Pasekan.  Khusus kepada keluarga Marga Arya Pancoran (penguasa lama) diberi jabatan sebagai kepala pasukan perang dengan dibantu Arya Bengkel dan Arya Kelaladian yang datang dari Mengwi bersama raja.  Umat Islam Jembrana menjadi inti dalam pasukan Marga Arya Pancoran ini.
Kala itu para Arya dan umat Islam hidup rukun,  dan Jembrana mencapai puncak kemasyhuran, terutama berkat  pelayaran perdagangan kaum Bugis hingga ke Palembang. Bandar Pancoran menjadi pelabuhan perniagaan, di tengah realitas Jembrana yang masih tertutup hutan belantara..  Oleh karena itu,  perahu-perahu Bugis pun membawa kuda dari  Sumbawa untuk keperluan transportasi darat di Jembrana.
Di era raja ketiga (Anak Agung Putu Handul),  yakni putra I Gusti Agung Lebar,  kerajaan Jembrana diserang raja Cokorde Tabanan. Namun, serangan ini berhasil dihadang pasukan dan atau para pendekar Islam.  Tahun 1670 Raja Badung, Cokorde Pemecutan juga menyerang dari arah selatan desa Perancak,  tetapi juga gagal karena banyak yang dimakan buaya.
Ketika Anak Agung Putu Handul digantikan  putranya,  Anak Agung Putu Sloka (sebagai raja keempat) dan adiknya Anak Agung Nyoman Madangan (wakil raja)  perlakuan kerajaan terhadap umat Islam kian baik.  Bahkan, untuk kian mendekatkan diri dengan komunitas Islam,  maka di tahun 1798 raja membangun  puri baru di sebelah utara Bandar perkampungan Islam,  di sebelah barat sungai Ijo Gading,  yang diberi nama Negeri (Negara). Di era itulah  datang lagi beberapa perahu dari Sulawesi Selatan serta  minta ijin tinggal di Air Kuning.  Mereka dipimpin para mubaligh seperti : H. Sihabuddin dan  H. Yasin (Bugis asal Buleleng), Tuan Lebai (Melayu asal Serawak) dan Datuk Guru Syekh (0rang arab).
Selain perahu Bugis,  datang juga iring-iringan perahu pimpinan Syarif Abdullah Al Qodri yang tak lain  adik Sultan Pontianak Syarif Abdurrahman Al Qodery.  Kala itu Sultan Pontianak takluk pada Belanda  (1799). Karena,  sang adik  (Syarif Abdullah Al Qodery) tidak terima  realitas itu,  ia meneruskan perlawanan di Lautan,  serta berpetualag dengan membawa sekuadron bersenjata meriam. Satu perahu menetap di Lombok Timur,  sisanya sampai di Air Kuning Jembrana.  Syarif Abdullah Al Qodri mengadakan kesepakatan dengan umat Islam di Jembrana. Ketika menyusuri  Sungai Ijo  Gading ke utara menuju Shah Bandar,  Syarif Abdullah memberi aba-aba pada anak buah dengan bahasa kalimantan Liloan (tikungan),  sehingga kampung di sekitarnya lantas diberi nama Loloan hingga sekarang.
Dua ekspedisi (Bugis dan Pontianak) tadi merupakan gelombang kedua kedatangan Islam di Jembrana. Kedatangan dua kelompok muslim ini disambut baik raja.  Ada alasan mendasar kenapa dua kelompok umat Islam ini diterima dengan tangan terbuka: Pertama,  eksistensi umat Islam di Jembrana yang telah ada ternyata mampu menjalin hubungan baik dengan komunitas Hindu.   Kedua,  umat Islam yang telah ada di Jembrana terbukti mampu menjadi tenaga pasukan yang sangat diandalkan serta mempunyai loyalitas tinggi.  Terbukti,  ketika keraton Jembrana hancur dan keluarga raja tumpas oleh banjir bandang,  komunitas Islam tak lantas membangun sebuah kerajaan tersendiri.  Mereka bahkan membantu pembentukan keraton baru yang dilakukan Patih atas bantuan raja Mengwi. Ketiga,  kenyataannya umat Islam memiliki jasa luar biasa dalam pengembangan pelabuhan perniagaan yang memiliki pengaruh sangat positif bagi kemajuan kerajaan. Keempat, kala itu Blambangan telah dikuasi Belanda,  sehingga dapat mengancam pula keamanan bahkan masa depan Jembrana.  Walhasil,  kehadiran para pelarian asal Kalimantan dan Sulawesi yang semuanya bekas pasukan kerajaan ini tentu dapat menampah kekuatan kerajaan.
Menurut aturan kerajaan seluruh meriam sebenarnya harus diserahkan ke raja,  seperti telah dilakukan kaum Bugis yang telah datang duluan pasca perang Makasar.  Tetapi,  Syarif Abdullah menawarkan  cara lain,  yakni:  meriam tetap dikuasai sendiri, tetapi akan digunakan untuk membela Jembrana. Kesepakatan dicapai dan kepada kaum Islam asal Kalimantan ini dipersilahkan tinggal di kanan kiri tebing sungai Loloan seluas 80 hektar.  Lokasinya ada di sebelah utara Bandar Pancoran.
Syarif Abdullah membuat  perkampungan darurat di sebelah timur sungai yang kini disebut Loloan Timur. Perahu perang yang dimiliki diubah menjadi kapal perniagaan,  bahkan akhirnya menjelajah hingga Singapura. Kala itu Loloan Timur dan Loloan Barat akhirnya menjadi desa administratif konsesi untuk umat Islam di Jembrana. Sedangkan,  desa administratif yang berbentuk desa adat Hindu adalah desa Mertasari, Lelaleng, Banjar Tengah, dan Baler Bale Ageng.  Loloan Barat  dan Timur akhirnya  menarik minat umat Islam dari Jawa dan Madura untuk ikut menetap.
Seiring dengan adanya komunitas Islam yang baru tadi,  Jembrana kian mengalami kemajuan terutama dalam perekonomian.  Raja Buleleng (Anak Agung Gde Karangasem) tertarik pada kemakmuran Jembrana,  sehingga di tahun 1828 Buleleng menyerang:  ingin menaklukkan Jembrana untuk kedua kalinya.   Raja Jembrana, Anak Agung Putu Seloka dan adiknya (yang tak lain wakil raja) diungsikan dengan perahu Bugis ke Banyuwangi. Pada penyerangan pertama,  pasukan Jembrana yang diperkuat pasukan Bugis-Pontianak ini berhasil mengalahkan Buleleng,  bahkan panglima Buleleng Anak Agung Gde Karang tewas.  Namun, pada penyerangan yang kedua,   pasukan Jembrana dapat dikalahkan,  meskipun perang gerilya tetap berlanjut (Saleh Saidi & Yahya Anshori (eds), Sejarah Keberadaan Umat Islam di Bali,  Denpasar: MUI, 2002.)..
Umat Islam Jembrana kembali memperlihatkan kesetiaan,  tetap memegang teguh janji persahabatan dengan kerajaan Jembrana. Terbukti, meskipun sampai tahun 1832 selama 4 tahun ada kekosongan  (karena raja dan wakil raja mengungsi),  umat Islam tak lantas melepaskan diri (apalagi mengambil alih kekuasaan)  dari Jembrana.  Mereka bahkan terus membantu rakyat Hindu yang susah karena perang. Baru pada tahun  1835 terjadi kesepakatan damai antara Jembrana – Buleleng,  menyusul penguasaan Buleleng atas Jembrana untuk kedua kalinya. Intinya: raja Jembrana tetap diberi hak memerintah,  tetapi dibawah pengaruh/supremasi Buleleng.
Di era ini hubungan harmonis umat Islam-Hindu (termasuk dengan kerajaan) tetap berlanjut. Itulah realitas seluk beluk Kerajaan Jembrana (Negara) yang sangat erat hubungannya dengan umat Islam. Hingga kini panji-panji Islam bertuliskan kalimat “La Illaha Ilallah” misalnya,  masih disimpan di Puri Negara, sebagai penghargaan atas perjuangan pengikut Syekh Syarif Al Qodri (pemuka Islam) menghadang serangan dari kerajaan lain
Kebersamaan kaum Hindu dengan komunitas lama kampung Islam ini juga terjalin hingga pada sektor sosial dan ekonomi. Orang Islam ada yang menggarap tanah pemeluk agama Hindu, begitu juga sebaliknya. Bahkan,  diantara dua komunitas juga terbangun sebuah akulturasi.  Bentuk lain akulturasi umat Islam dengan masyarakat Hindu  di lokasi ini dapat dilihat melalui kesenian Rebana. Kesenian ini dimainkan oleh beberapa orang yang semuanya mahir memainkan Rebana besar. Lirik dan syairnya bernafaskan Islam menggunakan bahasa Arab ataupun bahasa Melayu. Namun, agar mudah diterima masyarakat sekitar, para seniman Rebana ini mengaransemen lagu-lagu yang mereka mainkan dengan irama khas Bali. Dengan begitu, masyarakat akan lebih menyukai kesenian ini dan makna syiar yang menjadi tujuan utama dapat tersampaikan dengan efektif. ***


SUMBER : http://dhurorudin.wordpress.com/2013/03/02/kampung-islam-loloan-dan-air-kuning-di-jembrana-bali-sebuah-entitas-lama-tulisan-21






Sabtu, 18 Mei 2013

MJIB - 12. Asal-Usul & Tradisi Islam di Pegayaman Bali (2)


______________________________
 oleh : Achmad Suchaimi 

I Gusti Ngurah Panji Sakti
 
Asal Usul Penduduk Muslim Pegayaman
Ada beberapa versi. Menurut satu versi, seperti yang diceritakan oleh salah satu tetua desa Pegayaman (Bapak Ibrahim), bahwa umat Islam di Pegayaman sudah ada sejak zaman kekuasaan Raja Buleleng, I Gusti Ngurah Panji Sakti, yang berkuasa pada abad ke-15. Menurut  versi ini, Raja dari Solo pernah menghadiahkan seekor gajah dan 80 prajurit kepada Raja Panji Sakti sebagai tanda persahabatan. Para prajurit dari Solo ini kemudian ditempatkan di Desa Pegayaman untuk membentengi Puri Buleleng dari serangan raja-raja Bali Selatan, yaitu Raja Mengwi dan Badung. Mereka hidup menetap dan berbaur dengan penduduk desa lainnya.  
 Cerita Ibrahim tersebut memang tidak didukung oleh bukti tertulis. Dalam berbagai lontar sejarah Bali yang tersimpan di Gedong Kirtya, Singaraja, tidak ada catatan khusus mengenai sejarah Islam Pegayaman. Dalam Babad Dalem, dokumen tentang raja-raja di Bali pun hanya tertulis masuknya Islam ke Bali secara umum, bahwa pada abad ke-15, di masa pemerintahan Raja Gelgel, Klungkung (sekitar 32 km sebelah timur kota Denpasar), Sang Raja  mendapat bantuan 40 prajurit dari Raja Majapahit yang mayoritas muslim, sepulangnya mengikuti konferensi Raja-raja se Nusantara di ibukota Majapahit atas undangan Hayam Wuruk.
Pada masa-masa selanjutnya, kedatangan para prajurit  Majapahit ini lalu diikuti arus migrasi dari Jawa, Madura, Bugis,  Sasak, dan Lombok. Beberapa dari mereka inilah yang kemudian menetap di Pegayaman. 

Ada juga catatan dalam sebuah lontar tentang sekelompok imigran Islam yang datang ke Buleleng pada masa pemerintahan I Gusti Ketut Jelantik, tahun 1850. Rombongan ini diduga berasal dari Bugis, Sulawesi Selatan. Sebab, sampai sekarang beberapa tetua desa Pegayaman masih mengaku keturunan Bugis. Imigran ini menetap di Desa Pegayaman, yang hanya berjarak 9 km di selatan Singaraja, ibu kota Buleleng. Di desa ini mereka kemudian berbaur dan terjadilah kawin campur.

Memeluk agama Islam tidak membuat tata cara kehidupan penduduk Pegayaman harus berbeda  dengan penduduk yang menganut Hindu. Perbedaan mencolok hanya tampak dari hiasan rumah. Umat Islam Pegayaman tidak memakai hiasan ukir-ukiran yang pada bangunan milik warga Bali seakan wajib hukumnya. Juga tidak ada bangunan sanggah, tempat pemujaan keluarga yang umum terdapat di setiap rumah penduduk Hindu Bali.
Penduduk muslim Pegayaman memang penduduk “asli” Bali. Bukan “orang Islam pendatang” yang dikonotasikan sebagai pedagang sate, bakul jamu, atau sejenisnya. Seperti penduduk desa sekitarnya, pekerjaan pokok mereka berkebun dan bertani.
   Perbedaan itu pun tak membuat mereka mengambil jarak, apalagi menjadi eksklusif. Bila warga Hindu menyongsong hari suci Nyepi, warga muslim beramai-ramai membantu mengusung ogoh-ogoh, boneka gergasi yang dibuat sehari menjelang Nyepi.
Mengarak Ogoh-ogoh
  Mereka juga ikut menghentikan kegiatan sehari-harinya dan hanya berdiam di rumah pada hari Nyepi. Pada hari raya  Galungan, umat Hindu juga tetap ngejot, yakni tradisi mengantarkan makanan ke rumah tetangga, meskipun tetangganya muslim.  Sebaliknya, pada Idul Fitri dan Idul Adha, umat Islam Pegayaman ngejot ke para tetangga Hindu.



Penjor
Pada waktu Idul Adha, penduduk yang beragama Islam membuat penjor, yaitu bambu berhias yang ditancapkan di depan rumah. Tentu saja tanpa disertai sesajen. Dalam pembuatannya, warga Hindu ikut membantu menghias sampai menancangkannya. Umat Islam hanya membuat penjor saat Idul Adha yang perayaannya lebih meriah ketimbang Idul Fitri. Mereka menggelar tari-tarian khas daerah itu, memasak makanan lebih banyak, dan anak-anak memakai baju baru. Pada saat Idul Fitri, mereka hanya menjalankan salat id dan bersilaturahim. Tidak ada kemeriahan lainnya.

Ketika memberikan nama, misalnya, mereka tetap mengikuti tradisi. Sebagaimana orang Bali, umat Islam Pegayaman menggunakan nama depan Wayan (anak pertama), Nengah (anak kedua), Nyoman (anak ketiga), dan Ketut (anak keempat). Namun nama belakang mereka biasanya menggunakan nama Islam yang berbahasa Arab. Misalnya Nengah Ulul Azmi, Ketut Sholahuddin, Ketut Asghor Ali, Nengah Maghfiroh dan seterusnya.
Ketika mereka saling memberikan salam, terdengarlah “bunyi” yang unik: “Assalamu’alaikum, Pak Ketut Ibrahim”, kemudian dibalas “Wa’alaikumsalam, Wayan Arafat!”
Ketika datang bulan Ramadhan, menjelang malam, sekitar pukul 6 sore itu, suasana desa mulai terlihat ramai di jalan, terutama oleh anak-anak yang sedang bermain. Mereka menunggu waktu berbuka puasa. Di antara anak-anak tersebut, sebagian anak terlihat berjalan sambil membawa makanan dalam tas plastik. Mereka membawanya ke rumah paman, bibi, atau keluarganya yang lain, dan tetangga dekat. Mereka sedang Ngejot.


Ayo, Ngejot!
 Tradisi Ngejot setiap datangnya bulan Ramadhan adalah salah satu bentuk akulturasi antara tradisi Hindu dan Islam di Desa Pegayaman. Ngejot menunjukkan bahwa umat Islam di Pegayaman masih melakukan tradisi yang sama dengan umat Hindu di Bali. Selama tradisi tidak melanggar batas keyakinan agama (aqidah), hal ini sah-sah saja untuk dilakukan. Apalagi kalau sekedar berbagi dengan orang lain.

Makanan yang diberikan umat Islam saat Ngejot tidak jauh berbeda dengan yang diberikan umat Hindu Bali, antara lain berupa jaja uli, buah, rengginang, dodol, dan semacamnya.
 Tradisi Ngejot tidak hanya dilakukan umat Islam di Pegayaman. Sebagian muslim di daerah lain seperti di Denpasar pun melakukan hal yang sama. Biasanya tradisi Ngejot di daerah yang masyarakatnya plural malah diberikan kepada umat agama lain, termasuk umat Hindu.
Tradisi Ngejot, mengantar makanan
Selain tradisi Ngejot, masih banyak tradisi lain yang menunjukkan bentuk akulturasi antara tradisi-budaya Hindu dan Islam di Bali. Dalam hal ini, umat Hindu dan Islam saling mengisi dan tanpa harus menimbulkan ketegangan.




Kamis, 16 Mei 2013

MJIB - 9. Profil Perkampungan Muslim Bugis di Pulau Serangan Bali


Penulis : Achmad Suchaimi


Monumen Penyu : Ikon Pulau Serangan Bali.


Orang Bugis mudah ditemukan di mana-mana. Mereka membentuk perkampungan di pesisir pantai, juga menjadi roda penggerak sentra ekonomi di berbagai daerah.

 
Perjanjian Bongaya pada tahun 1667 yang melarang warga Bugis memiliki kapal berukuran besar, menjadi pemicu banyaknya orang Bugis yang merantau ke pulau Serangan Denpasar. Perantau yang datang ke Serangan ini umumnya berasal dari Bugis Wajo dan ada pula dari Soppeng atau Bone. 


Pulau Serangan adalah sebuah pulau kecil yang terpisah dari daratan Pulau Bali, berjarak sekitar 17 Km arah selatan kota Denpasar. Pada tahun 1995 telah dibangun sebuah dermaga kecil dan jembatan yang menghubungkan kedua pulau ini.   
Jembatan penghubung P. Serangan dan Denpasar (P. Bali)
Luas Pulau Serangan sebelum direklamasi hanya 101 hektare, sementara setelah direklamasi luasnya menjadi 491 hektar. Dari 491 hektare luas pulau itu, hanya 101 hektar yang menjadi milik masyarakat dan ummat Islam tinggal di areal seluas 2,5 hektare. Pulau ini berjarak sekitar 250 meter dari pantai sebelah tenggara Pulau Bali. Pulau ini tepatnya terletak di sebelah selatan Pantai Sanur. Secara administratif, pulau ini termasuk wilayah Kota Denpasar dan dihuni oleh sekitar 3 ribu penduduk. 
Penangkaran penyu di P. Serangan
 Menurut penduduknya, asal nama “Serangan” diyakini berasal dari kata “sira angen” yang artinya perasaan sayang atau kangen. Munculnya nama ini didasari oleh sebuah cerita para pelaut Bugis. Ketika mendarat di pulau ini untuk minum, mereka terkena “sira angen”. Mereka merasa betah berada di pulau ini dan tidak mau pergi meninggalkannya. Para pelaut Bugis yang beragama Islam ini bahkan memilih tinggal di pulau ini dan hidup rukun bersama penduduk setempat yang beragama Hindu. 


Selanjutnya, mereka pun membentuk pemukiman yang dikenal dengan Kampung Bugis yang masih ada hingga saat ini. Karena banyak dihuni oleh perantau Bugis yang mayoritas beragama Islam, maka pulau ini kemudian dikenal sebagai kampung Islam Bugis. Konon, asal mula kampung ini hanya dibangun 40 orang perantau Bugis yang dipimpin oleh Syeikh Haji Mu’min akibat tak sefaham dengan Belanda sebagai efek dari perjanjian Bongaya.
Makam Tua H. Mukmin di Serangan
 Pada awal keberadaan mereka di sana justru dicurigai oleh pihak Kerajaan Badung Bali sebagai mata-mata Belanda. Kecurigaan yang wajar tentunya. Selama ditawan, rombongan ini menunjukkan sikap kebencian mereka terhadap Belanda dan mampu meyakinkan Raja Badung, Ida Cokorda Pemecutan III. Akhirnya, rombongan itu diberi kebebasan tinggal di istana untuk sementara waktu, kemudian mendiami kampung Gelagi Gendong di sebelah barat Puri (istana) kerajaan Pemecutan.

 
Puri Pemecutan di Denpasar : kediaman Raja Pemecutan


Kebiasaan melaut para perantau Bugis membuat mereka tak betah menetap di tengah daratan. Atas persetujuan Raja Badung yang mengetahui sepenuhnya bahwa perantau Bugis memiliki keahlian di bidang pelayaran, maka mereka diberi tempat di Pulau Serangan yang waktu itu masih berupa hutan. Haji Mu’min dan pengikutnya membuka pemukiman di bagian selatan pulau. Hubungan ini terus terjalin dengan baik. Diceritakan, ketika  Kerajaan Badung merasa terdesak menghadapi Kerajaan Mengwi,  Raja Badung tidak segan-segan minta bantuan kepada para perantau dari Bugis tersebut. 
Pura Sakenan : salah satu Pura Hindu di P. Serangan Bali

Kampung seluas 2,5 hektar ini dihuni oleh sekitar 280 warga muslim dan mereka dikelilingi perkampungan Hindu, dengan sejumlah pura. Kendati demikian, warga di sini hidup rukun dan dapat menjalankan ibadah maupun aktivitas sehari-hari sebagai nelayan. Kampung ini memiliki tradisi unik yang disebut Ngejot, yakni membawa jajanan atau makanan untuk diberikan kepada tetangga non-muslim atau sebaliknya. Adapula tradisi membaca Diba’ dan catatan sejarah kekerabatan Bugis dan Bali setiap selesai shalat Id di Hari Raya Idul Fitri. Tradisi inilah yang memperkuat kerukunan hidup beragama. Dan hingga kini, tradisi tersebut masih dipelihara. Selain pura, di kampung ini terdapat pula Masjid As-Syuhada’ yang diperkirakan didirikan pada abad ke-17 masehi.
Masjid Asy-Syuhada' di kampung Bugis Serangan Bali
 Di Kabupaten Tabanan, kampung Bugis juga bisa ditemukan di pesisir pantai Soka. Di Kabupaten Buleleng, mereka dapat ditemukan di kampung Sumber Kima, Lovina, Grokgak, Singaraja, Celuk Bawang dan Seririt. Di Kabupaten Jembarana, mereka bermukim di kampung Loloan, Cupel, dan Yeh Sumbul. Adapula yang tinggal di pesisir Ujung dan Buitan Karangasem.
Kerukunan Umat Islam dan Hindu di Bali menjadi bukti, bahwa perbedaan agama dan suku bukanlah alasan untuk saling menghindari dan berselisih paham.