Jamaah Pengajian Google+

Rabu, 30 Juli 2014

MJIB - 40. Mengenal Beberapa Kampung Muslim Gelgel di Kab. Klungkung Bali

______________________
Oleh : Dhurorudin Mashad


Kampung Muslim Gelgel


Saya sungguh beruntung,  karena di tahun 2011 ini berkesempatan mengunjungi kampung  Muslim Gelgel di Bali.  Saya sebut beruntung,  karena kunjungan spesial ke kampung muslim Bali ini tentu sangat jarang dilakukan oleh Muslim lain di Indonesia.  Mereka umumnya datang ke pulau dewata,  paling-paling hanya untuk berpiknik atau maksimal  untuk keperluan konferensi. Bahkan, apa dan bagaimana umat Islam di Bali mereka mungkin tidak  tahu atau bahkan tidak mau tahu.
Selama di Bali,  Saya (dan beberapa teman dari Jakarta)  didampingi oleh Ahsanuddin Biks (Bali Islam Candi Kuning).  Pak Ahsan –kami lebih suka memanggil Hasan—memang seorang muslim Bali asli. Dia berasal dari desa Candi Kuning di Baturiti/Bedugul Kabupaten Tabanan.  “Kaum Muslim asal Candi Kuning memang biasa menambahkan nama Biks ketika berhubungan dengan orang di luar Bali.  Sebagai identitas”,  jelas pak Hasan tentang sebutan Bick dibelakang namanya. 
Bersama Hasan Bicks inilah kami bersilaturrahmi mengunjungi kampung-kampung Muslim di pulau Dewata, termasuk khususnya kampung Gel-gel, cikal bakal komunitas muslim di negeri seribu pura ini.   Sedikit orang tahu bahwa meski dikenal sebagai pulau Dewata,  tetapi Bali sebenarnya menyimpan khasanah keislaman yang terhitung luar biasa.  Di seluruh pelosok negeri yang mayoritas Hindu itu,  terselip berbagai kampung Muslim yang berumur sangat tua dengan segala kultur yang ikut mewarnai spektrum sejarah negeri itu. Sejumlah komunitas Muslim di Bali antara lain tersebar di Banjar Saren Jawa di wilayah Desa Budakeling (Karangasem), Gelgel (Klungkung), Kepaon, Serangan (Kota Denpasar), Pegayaman (Buleleng) dan Loloan (Jembrana), dan masih banyak lagi kampung kampung lain yang penduduknya mayoritas Muslim.
Apa dan bagaimanakah  Kampung Gelgel ?   Kampung ini dari pusat kota Denpasar meluncur ke arah timur melalui jalan By Pass melalui jalan pantai di Gianyar dan Klungkung (dengan menempuh sekitar 65 km). Penduduk kampung ini  menurut Kepala Kampung Gelgel, Hanani,  kini (tahun 2011) berjumlah 286 KK.  Mereka dahulunya petani dan pemelihara kuda/dokar, tetapi seiring perkembangan Pariwisata Bali mereka beralih ke usaha konveksi seperti  pakaian, kerajinan daun lontar yang antara lain berisi kaligrafi, bahkan menjadi penyuplai utama pasar Seni Sukawati yang sangat kesohor bagi para wisatawan. ”akibat bom Bali 2002 yang berimbas pada anjloknya jumlah wisatan,  menyebabkan banyak pengrajin Gelgel gulung tikar”, uangkap Kepala Kampung Gelgel, Hanani.
Desa Kampung Gelgel  ini merupakan komunitas Muslim yang paling spesial, sebab kampung Gelgel ini merupakan komunitas Muslim pertama di pulau dewata.  Kedatangan muslim generasi pelopor ini dilakukan orang Jawa di era Dalem Ketut Ngelesir berkuasa di Bali (1380-1460 M).  Sebagai wilayah taklukan Mojopahit  Dalem Ketut Ngelesir memang mengadakan kunjungan ke Mojopahit, ketika Prabu Hayam Wuruk (1350-1389 M) mengadakan konferensi kerajaan-kerajaan vassal di seluruh Nusantara di awal 1380 an. Ketika kembali ke Gelgel  Dalem Ketut Ngelesir diberi 40 orang pengiring.  Keempat puluh orang pengawal itu ternyata semua beragama Islam, serta akhirnya menetap bertindak sebagai abdi dalem kerajaan Gelgel serta  menempati satu wilayah di Gelgel.  ALASAN KENAPA ke empatpuluh pengiring yang ditugaskan Majapahit semua dipilih orang Islam,  meski mayoritas penduduk Majapahit kala itu mayoritas Hindu,  tentu sangat menarik dan menantang untuk diteliti lebih lanjut.  Hal yang sudah pasti adalah para pengiring itu lantas mendirikan sebuah masjid, sekaligus menandai sebagai tempat ibadah umat Islam tertua di Bali. Masjid yang kini bernama Masjid Nurul Huda kini terletak di pinggir jalan raya.  Sayang sekali tempat ibadah peninggalan muslim Bali generasi pertama itu kini sama sekali tak meninggalkan ciri-ciri era kelampauan  pada bentuk bangunannya.
Ketika Waturenggong (1460-1550) menjadi penguasa Bali,  kekuatan Majapahit kian surut.  Bahkan,  sekitar tahun 1518, Demak pimpinan Raden Patah (yang tak lain putra Brawijaya V) dengan berbagai alasan politik  akhirnya menaklukkan Majapahit yang kala itu telah direbut dan dipimpin orang yang menyebut diri Brawijaya VI dan berikutnya VII, meski kedua orang itu bukan dari trah Wijaya.
Berikutnya,  di era Demak inilah ekspedisi silaturahmi dari kerajaan Islam Demak datang ke Gelgel, Klungkung yang kala itu dipimpin Watu Renggong.  Ekspedisi damai  ini secara permukaan bertujuan untuk menjalin hubungan sebagai sesama mantan vassal Mojopahit, sama-sama memiliki darah Mojopahit.  Namun,  inti tujuan ekspedisi ini adalah untuk menyebarkan Islam. Tampaknya Watu Renggong tidak berkenan terhadap Islam.  Apalagi penguasa Gelgel kala itu telah menempatkan Danghyang Nirartha alias Pandita Sakti Wawu Rawuh  yang  migrasi dari Jawa (Daha lantas ke Blambangan) ke Bali justru karena menghindar dari Islamisasi. Sebab,  dengan perkembangan Islam yang pesat di Jawa, maka ruang gerak kebagawantaannya menjadi semakin pudar.  Logikanya adalah,  Nirartha hampir pasti  menasehatkan kepada sang penguasa untuk tidak menerima Islam Demak.
Penolakan Waturenggong memang tidak dilakukan secara frontal, karena:  pertama,  hubungan Muslim dan penguasa Bali  tidak ada problem bahkan telah  dicontohkan oleh Ketut Ngelesir melalui 40 pengiring muslimnya yang setia.  Kedua,  Watu Renggong tidak ingin membangun hubungan negatif dengan penguasa Demak. Ketiga,  justru karena pengakhiran Mojopahit era Brawijaya VII oleh Demak telah mengukuhkan Bali dari status vassal Mojopahit  serta menjadi kerajaan merdeka.
Seperti Mojopahit, Demak memang juga melancarkan aksi politik perluasan wilayah: mengislamkan seluruh Jawa bahkan akhirnya merontokkan kejayaan Mojopahit. Tetapi,  penguasaan Demak atas wilayah-wilayah  Mojopahit dalam konteks agama tidak sekedar melalui kekuasaan.  Menurut De Graaf dan Pigeaud, cerita yang bertebaran dalam masyarakat Jawa banyak yang menyebut Islamisasi berlangsung damai. Artinya,  peradaban Jawa-Mojopahit-Hindu sedikit demi sedikit diislamkan.  Terbukti, agama dan corak kemasyarakatan pra Islam (Hindu dan Buddha) masih tetap bertahan sampai pada abad ke 16.  Ekspedisi damai Demak terhadap Gelgel juga menjadi tambahan bukti dari logika tadi.
Dalam sejarah di sebutkan bahwa utusan (yang menghadap Waturenggong) datang dari Mekah. Berdasar sumber C.C. Bergh diketahui bahwa utusan Mekah tersebut  yang dimaksud adalah  dari Demak Bintoro.  Ekspedisi 100 orang ini dipimpin Dewi Fatimah.   Kala itu Waturenggong menantang pimpinan ekspedisi untuk mengadu kesaktian.  Watu Renggong bersedia disunat (dipotong kulup kelaminnya sebagai salah satu tanda keislaman)  asalkan Fatimah mampu memotong bulu kakinya.   Ternyata, Fatimah gagal melakukan yang berarti Waturenggong sebagai pemenang. Fatimah akhirnya dihukum mati (dengan cara membunuh dirinya) dengan tikaman keris. Mayat Dewi Fatimah lantas  dikuburkan di Desa Satra sekitar 3 km selatan Klungkung atau 1,5 km baratdaya Gelgel. Hingga sekarang lokasi kuburan Dewi Fatimah itu dikenal dengan Sema Jarat atau Sema Pajaratan.  Jarat merujuk nama Gujarat India, dimana para saudagarnya sangat berjasa dalam pengislaman di tanah air,  sehingga hampir setiap orang Islam juga dinisbahkan dengan Gujarat. Kuburan itu terletak tepat disamping sungai dan sempat terkena banjir bandang,  sehingga pekuburan terseret banjir dan hilang bekas-bekasnya.    Bahkan,  Tanah Jarat –bekas tanah makam leluhur—itu, menurut kepala Kampung Gelgel,  Hanani,  akhirnya dijual kepada orang Hindu yang tinggal di desa Satra,  dan hasil penjualan akhirnya dibelikan tanah untuk membangun madrasah di kampung Gelgel.
Dengan tidak dibunuh tetapi dihukum bunuh diri atas Fatimah,  Watu Renggong punya tujuan strategis agar tidak menimbulkan konflik bersenjata Gelgel  Vs. Demak yang telah terbukti berhasil mengalahkan kerajaan besar Majapahit.  Oleh sebab alasan itu pula,  meskipun Waturenggong tak mau menjadi Muslim,  tetapi anggota ekspedisi tidak diusir. Kaum muslim itu akhirnya bergabung dalam komunitas Muslim Gelgel 40 pengiring Muslim di era Dalem Ketut Pengelesiran. Mereka lantas kawin mawin  dengan wanita lokal serta membangun cikal bakal komunitas muslim Bali.
Meski semangat membendung Islam sangat kuat menggejala dalam benak Raja Bali dan Penasehatnya,  tetapi komunitas Muslim Gelgel tetap hidup aman.  Kepada mereka diberikan sebidang tanah di pesisir pantai  sekitar Gelgel, bahkan ditambah lagi dengan kampung Jawa kampung dan kampung Lebah seiring dengan membengkaknya jumlah umat Islam.  Ketiga kampung ini memang spesial diberi oleh Puri lengkap dengan kuburan Muslimnya. Dapat dipahami jika kampung Muslim tadi,  menurut kepala desa Kampung  Gelgel, Hanani,  sekarang memiliki status kepemilikan dengan sertifikat. Padahal kaum Hindu disekitar komunitas kampung Muslim justru hanya memiliki status tanah Magersari Puri, sebagai pekarangan  desa atau meminjam/hak pakai saja  meski untuk waktu selamanya.
Kaum Muslim di ketiga wilayah itu mempertahankan adat istiadat dan keyakinannya tetapi tetap bersosialisasi dengan masyarakat sekitar dan saling berinteraksi dengan saudara-saudaranya yang Hindu dalam pergaulan akrab dan saling menolong.  Tidak ada kultur sejarah adanya konflik terbuka antara Amat Hindu dan Muslim.  Kalaupun di era belakangan muncul letupan konflik,  hal itu terutama terjadi hanya karena persoalan anak muda. Keharmonisan historis antar komunitas ini dapat dilihat misalnya dari realitas adanya Pura di samping makam leluhur  Umat Islam yang biasa disebut Sema Jarat. Sebagai penghormatan Pura terhadap Kuburan tokoh-tokoh Islam itu,  pura sejak dahulu melarang dua hal:  membawa sesajian daging babi dan melakukan upacara sabung ayam/tajen/tumpah getih,  dua hal yang memang Sangat dilarang dalam Islam.
”Tradisi di Pura itu bahkan telah berubah menjadi kepercayaan di kalangan Hindu Gelgel bahwa pelanggaran terhadap aturan leluhur ini dipercaya dapat membawa sial. Oleh sebab itu,  aturan tersebut dipegang kokoh sampai kini”, ungkap  Nasrullah mengakhiri penjelasannya.  Ucapan guru asli kampung Gelgel itu sekaligus menandai akhir kunjungan  kami ke kampung Muslim Bali generasi paling awal ini.***

Kampung Muslim Kusamba

 Setelah hari pertama dan kedua blusukan ke Kampung Gelgel, Kampung Lebah, dan Kampung Jawa,  pada hari berikutnya  dengan diantar pak Hasan Bick saya (dan beberapa teman, yakni: mas Hamdan Basyar,  Indriana Kartini, Heru Cahyono alias Ali Abdurrahman,  dan Afadlal) meluncur ke Kampung Kusamba yang juga merupakan salah satu komunitas Muslim Bali kuno di Klungkung. Kusamba terletak di Kabupaten Klungkung, Bali bagian Timur. Dari Denpasar butuh waktu tempuh sekitar 1,5 jam sampai ke sana. Selain dikenal sebagai pantai nelayan, Kusumba konon juga menjadi pusat pembuatan garam secara tradisional yang terbesar di pulau wisata ini.
Di Kusamba,  kami lihat banyak ibu-ibu dan remaja putri yang memakai jilbab. Sedang laki-lakinya bersongkok atau berkopiah putih. Ini menjadi simbol bahwa perkampungan tersebut adalah perkampungan Muslim. Simbol ini sangat penting di Bali, untuk membedakan mana masyarakat yang beragama Islam dan yang bukan. Sebab,  kalau lelaki Hindu yang dikenakan adalah udeng, yakni ikat kepala yang terbuat dari kain, persis seperti lelaki Jawa yang sempat kulihat di masa kecilku dahulu. Selain itu,  kaum Hindu baik wanita maupun pria banyak yang melilitkan kain di pinggang mereka, yang kebanyakan kuning atau sebagian lagi putih warnanya.
Namun,  dalam beberapa segi sebenarnya antara Muslim-Hindu di Kusamba telah melakukan akulturasi,  mengingat antara kedua komunitas ini telah memiliki hubungan geneologis yang kokoh akibat proses kawin mawin antar keduanya. Di kalangan umat Islam Kusamba misalnya,  mereka memakai juga nama-nama Wayan, Ketut, Nengah sebagai ciri khas kebalian mereka.  Wayan Mohammad Syaefullah,  seorang tokoh Kusamba yang saya temui,  merupakan salah satu contoh akulturasi nama dari : kebalian dengan keislaman.    Muslim Kusamba juga memiliki kemampuan berbahasa Bali halus,  sebagai lambang bahwa mereka adalah bagian dari komunitas asli Bali.
”Legenda nama Kusamba terjadi ketika seorang muslim asal Banjar  Kalimantan datang merapat ke Pantai desa itu. Ketika orang Banjar melihat seseorang (konon  pedagang  asal  Bugis)  sedang sholat lantas didekatinya. Si Bugis lantas bertanya : ”siapa kamu ?. Si Banjar menjawab: ”Ku Sama”,  yang di telinga si Bugis  terdengar Kusamba”, jelas Wayan Mohammad Syaefullah,  tokoh asli Kusamba yang pernah menjabat kepala desa setempat sejak 1984-2002 (Wawancara di Klungkung, 25 Mei 20011).
Kampung Islam Kusamba dikenal sebagai kampung Islam yang menyimpan banyak sejarah Islam di Bali. Dalam catatan sejarah disebutkan bahwa Desa Kusamba, Klungkung memiliki ikatan sejarah yang sangat besar atas perkembangan Islam di Tanah Dewata. Bukti sejarah tersebut ditandai adanya makam Habib Ali Bin Abubakar Bin Umar Bin Abubakar Al Khamid. Letaknya tepat di pesisir pantai Kusamba, Klungkung. Semasa hidupnya Habib Ali dikenal sangat dekat dengan keluarga Kerajaan Gelgel, Klungkung. Bahkan, ia ditunjuk menduduki jabatan sebagai penerjemah atau ahli bahasa yang bertugas mengajarkan bahasa Melayu kepada Raja yang saat itu dipimpin oleh Raja Dewa Agung Jambe. Karenanya Habib Ali mendapat perlakuan yang istimewa dari Raja. Ia diberi seekor kuda jantan putih yang gagah perkasa untuk melakukan tugas kerajaan. Tak hanya itu, ia merupakan satu-satunya rakyat biasa yang bebas keluar masuk kerajaan.
Konon karena perlakuan istimewa ini  akhirnya sempat menghembuskan angin permusuhan di internal kerajaan. Apalagi ia seorang Muslim yang “oleh kelompok dengki” dinilai tidak sesuai dengan keyakinan yang dianut waktu itu. Kedekatannya dengan Raja Dewa Agung Jambe akhirnya menuai petaka. Suatu hari,  usai menghadap sang raja, Habib Ali dihadang oleh sekelompok pasukan tak dikenal. Akhirnya, terjadi pertempuran (tepatnya: pengeroyokan) sengit dan tidak imbang yang mengakibatkan Habib Ali terbunuh. Mendengar penterjemahnya tewas, raja Klungkung, Dewa Agung Jambe memerintahkan prajurit kerajaan untuk memakamkan jasad Habib Ali di tepi pantai Kusamba, tempat dimana ia wafat.
Selain makam tersebut, bukti sejarah terkait keberadaan masyarakat Islam di Kusamba adalah penemuan benda bersejarah yaitu al-Qur’an tertua. Qur’an ini diakui telah berusia hampir 400 tahun. Al-Qur’an tertua tersebut ditulis tangan oleh ulama besar asal Bugis. Konon, al-Qur’an yang ditemukan di Kusamba merupakan salah satu al-Qur’an kembar tiga. Ternyata, al-Qur’an tertua di Bali ditulis dan dibuat sebanyak 3 buah dalam kurun waktu yang berbeda oleh ulama yang sama. Sayangnya, siapa pembuat ketiga al-Qur’an kembar tersebut sampai kini belum diketahui (Bahrul Ulum/Suara Hidayatullah AGUSTUS 2008).  Dan sayang sekali juga,  saya tidak berkesempatan melihat ketiga al Qur’an itu.
Dalam konteks kekinian  Hubungan masyarakat kampung yang mayoritas keturunan Banjar ini dengan kampung lainnya yang beragama Hindu secara umum sangat baik. Masyarakat Hindu bersikap toleran terhadap warga Muslim. Di kampung ini terdapat juga sebuah masjid yang cukup besar, bernama Masjid Al-Huda. Selain itu,  kampung ini juga memiliki sarana pendidikan berupa sekolah Islam.
Hal lain yang menarik,  ternyata sebagaimana komunitas Gelgel, hubungan masyarakat Muslim di kampung Kusamba dengan pihak kerajaan juga sangat baik. Demikian juga hubungan  Muslim Kusamba dengan komunitas Hindu di sekelilingnya,  semua terjalin sangat baik.  “Memang,  pernah sekali terjadi gesekan.  Kala itu terjadi pengepungan orang-orang Hindu terhadap kampung ini. Hal itu terjadi akibat kesalahpahaman saja.  Dan kala itupun,  penyulut peristiwanya bukanlah Muslim Kusamba,  tetapi seorang pendatang yang kebetulan kurang paham terhadap kultur Bali.  Dia membentak-bentak secara keterlaluan terhadap seorang Hindu dari kasta Brahmana –tapi miskin– yang kebetulan melakukan kesalahan.  Hal ini sempat menimbulkan ketersinggungan ”secara kolektif”.  Tapi,  setelah saya lakukan dialog dengan tokoh-tokoh Hindu,  akhirnya kami saling memaafkan.  Sebab,  kami  satu sama lain  hakekatnya kan memiliki hubungan kekerabatan akibat proses kawin mawin.  Nenek saya pun berasal dari komunitas mereka, seorang muallaf asal Hindu ”,  ungkap Wayan Mohammad Syaefullah, pengusaha penyewaan alat-alat berat ini.
Umat Islam di Kusamba secara historis dikenal sebagai umat yang jujur dan teguh memegang janji. Anggapan ini sudah ada sejak zaman nenek moyang mereka. Misalnya, dalam hal perjanjian untuk tidak saling mengganggu, atau menyakiti antar umat yang berkeyakinan beda.  Umat Islam adalah kelompok yang belum pernah mengingkari perjanjian-perjanjian seperti itu.  Selain itu, umat Hindu Klungkung juga melihat kaum Muslim itu sebagai masyarakat yang memiliki aturan lengkap. Misalnya aturan dalam kehidupan sehari-hari. “Mereka sangat hormat kepada muslim yang taat menjalankan agamanya,  secara percaya diri memperlihatkan identitas keislamannya,  seperti dilakukan komunitas muslim asli Bali.  Orang-orang Islam pendatang yang tidak shalat,  mabuk, yang tidak taat agama lah yang justru menyebabkan kaum Hindu menjadi kurang respek pada umat Islam”,  tegas Wayan.
Pada dasarnya umat Hindu di tempat itu memandang positif terhadap  umat Islam. Hal ini karena sudah terbukti bahwa Islam bisa hidup berdampingan dengan masyarakat sekitarnya. Buktinya, setiap adanya perayaan nyepi yang bersamaan dengan shalat Jumat, bisa berjalan beriringan.  Pada saat Nyepi, meski umat Hindu melaksanakan catur berata panyepian (mati karya, mati lelangunan, mati geni, dan mati lelungan), namun umat Islam juga menunaikan shalat Jumat di masjid,  tentu saja dengan  tidak menggunakan pengeras suara ke luar, tapi cukup ke dalam,  agar tidak mengganggu umat Hindu yang sedang merayakan hari besarnya.
Di Kabupaten Klungkung sebenarnya terdapat satu lagi kampung kuno Muslim yaitu
Kampung Toya Pakeh di Kecamatan –atau tepatnya pulau– Nusa Penida. Untuk menuju ke tempat itu,  kita harus naik kapal –atau tepatnya perahu—rakyat dalam waktu dua setengah jam.  “Bahkan,  waktunya bisa lebih lama terutama bila ombak lautan sedang bergejolak”,  jelas pak Hasan. “Oleh karena itu,  bila bermaksud mendatangi Toya Pakeh,  minimal kita butuh waktu seharian,  untuk pulang pergi dan  sedikit menyempatkan waktu menelusuri lokasi”. Namun, sejak semula saya memang tak berniat ke lokasi itu,  mengingat perahu rakyat di tempat itu tergolong kecil, sedangkan gulungan ombaknya terbilang besar.  Hati saya merinding  membayangkan bila harus berayun-ayun di samodera menuju Toya Pakeh.
Kampung Toya Pakeh sebenarnya merupakan pengembangan dari komunitas Gelgel-Bugis-Banjar di Kusamba.  Maka hampir sama dengan masyarakat kampung Gelgel yang merasa punya hubungan genealogis dengan kampung Lebah,  komunitas Kusamba merasa punya hubungan darah dengan masyarakat Toya Pakeh.  “Dapat dipahami jika sampai kini di Kusamba misalnya,  masih beroperasi pelabuhan (rakyat)  yang sangat penting menghubungkan Pulau Bali dengan  Pulau Nusa Penida”, jelas Wayan Mohammad Syaefullah mengakhiri penjelasannya.  Dengan berakhirnya penjelasan dari tokoh asal Kusamba tadi,   maka berakhir pula kunjungan kami di kampung Kusamba ini.  Dengan menembus hujan rintik-rintik di senja hari,  mobil kami beranjak meninggalkan kampung kuno yang dihuni komunitas muslim asli Bali.


Hubungan Historis-Kultural Muslim – Hindu di Klungkung

Pada hari keempat di kabupaten Klungkung,  saya dan teman-teman diajak pak Hasan Bicks menelusuri kembali jalan di kampung-kampung kuno Muslim.  ”Agar suasana kehidupan komunitas muslim Klungkung nyantel dalam ingatan”,  tegas pak Hasan sambil menyetir mobil dengan  penuh waspada.  Maklum, hari itu kami memang berniat melanjutkan perjalanan ke kabupaten Bangli.
Pagi  itu udara terasa dingin.  Langit mendung tipis,  dan mentari malu-malu menampakkan diri.  Bahkan,  gerimis kecil mulai turun membasahi bumi.  Udara di luar membeku,  tetapi alhamdulillah kami di dalam mobil tidak ikut beku. Kami tetap terhangatkan oleh semangat  yang menyala untuk mengunjungi kampung-kampung muslim di Bali lainnya.
Sebelum meninggalkan Klungkung,  kami   diajak mampir dahulu ke pelabuhan rakyat di desa Kusamba.  Ini merupakan kunjungan yang kesekian kalinya ke pelabuhan rakyat untuk menuju pulau Nusa Penida ini. Kenapa kami merasa perlu balik ke tempat ini ?  Alasannya hanya satu: menyantap sate ikan yang luar biasa lezatnya.  Sebenarnya,  tempat dan penyajiannya  tak ada yang istimewa alias sederhana saja.  Tetapi,  rasa khas nya  benar-benar menendang lidah kita.  Menunya: sate ikan yang ditusuk dengan potongan kecil pelepah daun kelapa,  sop dengan isi pentolan bakso terbuat dari ikan juga,  plecing kangkung,  kacang goreng, ditambah sambal yang pedasnya menyengat lidah kita.   Sungguh,  kelezatannya masih kuingat kembali ketika saya menulis naskah ini.
Di Kabupaten Klungkung   komunitas-komunitas muslim yang baru tumbuh sejak era pariwisata sebenarnya tidak ada.   Lima Kampung Muslim yakni Gelgel,  Lebah,  Jawa,  Kusamba, dan Toya Pakeh semuanya merupakan kampung Kuno.  Kaum Muslim yang  datang belakangan apalagi di era pariwisata Bali sejak tahun 1970an  sebagian kecil menginduk kepada kelima kampung kuno itu, tetapi kebanyakan justru tinggal membaur di komunitas-komunitas Hindu. Kaum pendatang baru di Klungkung ini pun jumlahnya tidak terlalu signifikan. ”Di Kabupaten Klungkung jumlah seluruh Muslim maksimal hanya sekitar 30 ribu jiwa atau sekitar 8000 KK yang sebagian terbesar tinggal di 5 Kampung kuno Muslim.  Bahkan,  angka itu sebenarnya masih kebesaran,  terutama jika dirujukkan pada realitas jamaah sholat di hari raya”,  kata ketua MUI Klungkung, Mustafid Amna.
Jika jumlah itu dibagi oleh komunitas 5 kampung Muslim,  maka rata-rata maksimal hanya berpenduduk 6 ribu jiwa perkampung.  Dengan data semacam ini maka jumlah pendatang Muslim di Klungkung tentu sangat sedikit. ”Di Kampung Gelgel saja misalnya,  kampung seluas 8,5 hektar yang dihuni 288 KK Muslim itu,  ternyata pendatangnya hanya tercatat 10 KK yang umumnya berprofesi sebagai pedagang”,  ungkap Kepala Kampung Gelgel, Hanani.
Masyarakat Muslim di Klungkung secara kesejarahan memiliki hubungan khusus dengan masyarakat Hindu lokal,  termasuk khususnya dengan elit pemerintahan kerajaan. Komunitas-komunitas Muslim lama di berbagai tempat (terutama kampung Gelgel dan Kampung Lebah) memiliki hubungan historis dengan Penguasa Hindu,  sehingga mereka secara kesejarahan diperlakukan secara sangat terhormat,  termasuk dalam simbolitas undangan di setiap acara adat yang diselenggarakan  keturunan para raja. Jika di Puri ada hajatan seperti Pitra Yadnya atau potong gigi (masangih) tokoh Kampung Islam lama biasanya diundang ke Puri dengan status yang justru diistimewakan, posisi duduk setingkat dengan raja.  Kesenian Islam bahkan pula ditampilkan dalam acara-acara adat mereka.
Ada satu hal lain dimana muslim Gelgel memperoleh keistimewaan, yakni: khusus masjid kampung Gelgel mendapatkan aliran air subak secara gratis seberapapun kuantitas yang digunakannya. Air subak terus mengalir deras siang malam –untuk keperluan bersuci– tanpa dipungut biaya.  Jika ada sebagian orang Hindu mempertanyakan hal ini,  otoritas Puri langsung tampil membela,  karena perlakuan istimewa ini  memang telah dijalankan ratusan tahun lamanya,  ada sejarah di dalamnya,  sehingga sampai kapanpun tak boleh digugat apalagi dibatalkan keberlakuannya.
Realitas kedekakatan kampung Islam dengan Puri itu terbangun, karena:
Pertama,   secara historis memang terjadi ikatan emosional antara komunitas Muslim dengan sebagian besar raja Klungkung,  terutama akibat  dukungan komunitas Muslim tersebut dalam berbagai peperangan antar kerajaan di Bali.  Perlu dicatat bahwa di era lama,  peperangan antar kerajaan di Bali memang seringkali terjadi.  Dalam peristiwa-peristiwa inilah kaum Muslim  kala itu dimintai bantuan agar menjadi bagian dari pasukan khusus.
Kedua,  terdapat hubungan perkawinan antara Muslim keluarga raja, bahkan juga diikuti pada level masyarakat biasa, yakni antara para pengikut, saudara, dan keturunan tokoh-tokoh Islam dengan wanita-wanita Hindu. Proses kawin mawin ini bahkan juga terjadi di kampung-kampung Islam yang muncul pada periode-periode berikutnya (tetapi juga kampung tua),  seperti kampung Kusamba, Kampung Jawa, dan Kampung di Nusa Penida.
Realitas sosio historis ini secara psikis akhirnya menumbuhkan ikatan emosional genealogis antara komunitas Hindu lokal dengan  kaum Muslim lama.  Oleh karena itu sebutan Nyamo Slam/saudara Muslim bukan sekedar istilah basa-basi tetapi memang memiliki sejarah genealogis. Kedua hal tersebut menyebabkan hubungan erat antara komunitas muslim lama dan kaum Hindu, bahkan sampai disebutnya sebagai Nyamo Slam,  saudaraku Muslim.
Sejarah masuknya Islam ke sejumlah lokasi di Bali yang kini lebih dikenal dengan Banjar Muslim, tidak merupakan satu kesatuan yang utuh, namun satu sama lainnya kemudian saling berinteraksi. Namun perlu dicatat bahwa Keberadaan muslim Klungkung terhitung paling tua dalam catatan sejarah Muslim Bali. Mereka yang terutama tinggal di Gelgel bahkan tercatat sebagai  generasi pelopor muslim di wilayah Bali pada umumnya.
Sebagaimana telah disinggung pada tulisan sebelumnya (tulisan pertama), kedatangan Muslim pertama di Bali  terjadi sejak era Dalem Ketut Ngelesir.  Sebagai kepanjangan penguasa Majapahit,  Dalam Ketut Ngelesir  (1380-1460) memang pernah mengadakan kunjungan ke Majapahit, ketika Hayam Wuruk mengadakan konperensi kerajaan-kerajaan vasal (taklukan) di seruruh Nusantara. Ketika kembali Ketut Ngelesir diberi 40 orang pengiring beragama Islam. Kaum muslim tersebut lantas menetap di Bali bertindak sebagai abdi dalem kerajaan Gelgel,  serta  menempati satu permukiman dan membangun sebuah masjid dan menjadi  tempat ibadan umat Islam tertua di Bali. Sejak itu komunitas muslim mulai muncul di Bali dan terus berkembang, walaupun tidak sepesat di Jawa.
Ketika Dalem Waturenggong (1460-1550) menggantikan Ketut Ngelesir,  perkembangan Islam di nusantara makin pesat terutama setelah tahun 1518 Demak/ Raden Patah (putra Brawijaya V) meruntuhkan Majapahit (pimpinan orang yang menyebut diri Brawijaya VII) dengan berbagai alasan politik. Di era Demak inilah, misi Islam datang lagi ke Gelgel, Klungkung.
Memang,  waktu itu Watu Renggong yang tak lain cucu Dalem Krisna Kepakisan tidak berkenan terhadap Islam.   Banyak muncul versi bagaimana cara Waturenggong menolak himbauan Islam,  namun  satu versi yang dianggap kuat adalah Waturenggong menantang pimpinan ekspedisi (Dewi Fatimah, yang masih kerabat Waturenggong sendiri) untuk mengadu kesaktian,  dan ternyata Waturenggong menang.  Konsekuensinya misi Islam tidak dapat diterima melalui jalur kerajaan,  sedangkan  kaum muslim dalam ekspedisi itu diijinkan bergabung dalam komunitas Muslim Gelgel yang telah ada sebelumnya. Mereka membangun  misi dengan cara lain yakni kawin mawin  dengan wanita lokal serta membangun cikal bakal komunitas-komunitas muslim di Bali.  Ketika kampung Gelgel sudah tak mampu menampung,  kerajaan memberi tanah pelungguhan baru di kampung Lebah. Dua kampung itulah sebagai komunitas muslim tertua di tanah Bali. Bahkan Watureggong konon senantiasa memberikan sangu/tambahan bekal kepada umat muslim yang akan menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci Mekkah. Keturunan komunitas yang telah ada sejak 500 tahun lalu ini jejak sejarahnya masih ada dan masih mempertahankan adat istiadat dan keyakinannya. Mereka bersosialisasi dengan masyarakat sekitar dan saling berinteraksi dengan kaum Hindu.
Hubungan Muslim – Hindu Klungkung dalam konteks kekinian tetap harmonis. Kalaupun  terjadi friksi umumnya terkait dengan kenakalan remaja (seperti beberapa kali terjadi di kampung Lebah). Namun,  tetap harus dicermati bahwa: terutama seiring dengan terbangunnya Bali sebagai wilayah wisata maka problema-problema baru memang muncul.  Tetapi umumnya,  problema bukan bersifat kultural,  tetapi lebih bersifat ekonomi.  Dengan status wilayah wisata,  maka banyak pendatang baru, yang umumnya muslim. Problemnya adalah: motivasi utama mereka adalah ekonomis,  tanpa diimbangi oleh usaha pemahaman terhadap kultur dan kearifan lokal. Problema politik nasional ditambah euphoria politik otonomi daerah  –yang acapkali dibumbui oleh eksploitasi semangat primordial oleh mereka yang berebut kuasa– tampaknya ikut pula merembeskan pengaruh negatifnya terhadap konstelasi hubungan sosial  di wilayah Klungkung.
Rinai kecil pelan-pelan membesar.  Suaranya makin lama kian bergemuruh. Sesekali kilat menyambar di udara,  meski tanpa suara.  Langit menangis.  Udara membeku.  Tapi kami tetap bersemangat melanjutkan perjalanan,  menerobos hujan menuju kota tujuan: Bangli.   ***
Dhurorudin


---------------------------
Sumber :
http://dhurorudin.wordpress.com/2011/12/18/mengunjungi-kampung-muslim-gelgel-di-klungkung-bali-tulisan-1/
http://dhurorudin.wordpress.com/2012/01/19/berkunjung-ke-kampung-muslim-kusamba-bali-tulisan-2-2/
http://dhurorudin.wordpress.com/2012/02/19/hubungan-historis-kultural-muslim-hindu-di-klungkung-bali-tulisan-3/