Jamaah Pengajian Google+

Rabu, 30 Juli 2014

MJIB - 31. Mengenal Kampung Muslim Lebah dan Kecicang Islam, Dua Kampung Muslim di Karangasem Bali



Asal Usul Kampung Muslim di Kabupaten Karangasem*)


Pagi sekali,  pak Hasan Bick mengajak kami meninggalkan Bangli. Suasana sangat sejuk,  atau bahkan cenderung dingin.  Dedaunan masih menggigil.  Dahan-dahan juga menggigil.  Bahkan,  pepohonan ikut menggigil.  Kedinginan. Maklum,  semalaman hujan mengguyur bumi Bangli. Namun,  saya tidak terperangkap pada situasi serba dingin ini. Hati saya telah menghangat akibat dibakar keinginan untuk segera menapaki bumi Karangasem yang keberadaannya selama ini hanya ku dengar dari berbagai kabar.
Sekitar jam 11 siang,  pak Hasan membelokkan mobil langsung ke lokasi kantor Departemen Agama (KUA Islam dan Penyelenggara Haji) Karangasem. Di tempat inilah  saya dkk mendapatkan informasi awal tentang enclave-enclave komunitas muslim di Kabupaten Karangasem. “Kabupaten Karangasem memiliki penduduk muslim berjumlah 19 ribu Jiwa.  Mereka hidup tersebar di 6 dari 8 kecamatan di seluruh wilayah Karangasem.  Namun, mereka terutama terkonsentrasi di 4 kecamatan, yakni: Kecamatan Karangasem (11.729 jiwa),  kecamatan Bebandem (4.438 jiwa),  kecamatan Sidemen (820 jiwa),  dan Kecamatan manggis (465 jiwa).  Sisanya sekitar 2000 jiwa tersebar, terutama di kecamatan Kubu dan kecamatan Rendang”,   kata pimpinan Depag urusan Islam,  sambil menyodorkan data tertulis kepada kami.
Muslim di Kecamatan Kubu terutama tinggal di wilayah Galian C.  Sedangkan, muslim di Kecamatan Rendang jumlah muslimnya hanya sekitar 13 KK.   Mereka memang memiliki musholla an Nur, yang sempat dipakai presiden SBY sholat ketika ke Karangasem. Namun,  musholla ini tak boleh dipasang papan nama,  dengan alasan  bertentangan dengan aturan adat setempat.
Komunitas muslim terbesar pertama  berada di kecamatan Karangasem,  yang tersebar di wilayah perkotaan dan pegunungan.  Pertama,  Muslim di perkotaan terutaman ada di kelurahan Karangasem, yang tersebar di 13 dusun/kampung,  antara lain : Kampung Telaga Mas (memiliki kepala dusun muslim),  Dusun Ujung Desa,  Dusun Segara Katon, Karang Tohpati, Karang Langkung, Bangras, Grembeng (atas dan bawah),  Karang Ampel, Jeruk Manis (dikenal dengan Jerman), Karang Tebu, Karang Bedil, Tiing Tali, Dangin Sema (komunitas Muslim terbesar setelah Dusun Kecicang Islam).  Selain itu ada pula di Desa Tegal Linggah,  yang memiliki dua kampung muslim yakni: Karang Cengen dan Kampung Nyuling.  Berikutnya di Kelurahan Subagan, terdapat di dua kampung yakni:  kampung Karang Sokong dan Telaga Mas (bahkan kepala kampungnya muslim).  Kedua,  muslim di pegunungan terdapat di sebelah timur  yakni di Kelurahan/Desa Bukit tersebar di 6 dusun/kampung,  yakni: Bukit Tabuan,  kampung  Anyar, Karang Sasak, Tibulaka Sasak, Tiing Jangkrik,  dan Dangin Kebon.  Selain itu di Desa Tumbu juga ada,  tepatnya di Dusun Ujung Pesisi karena letaknya memang di ujung laut.
Kantong Muslim terbesar kedua terdapat di Kecamatan Bebandem,  yakni di dusun Kecicang Islam (kampung Islam terbesar di Karangasem) yang terdapat di Banjar Kangin,  Banjar Lebah  Sari, dan  Dusun Saren Jawa.  Adapun kecamatan dengan komunitas muslim terbesar ketiga ada di Sidemen,  yakni di dusun Sinduwati yang mencakup kampung Sindu, Buu dan Tegal. Selain ketiga kecamatan tadi,  kecamatan Manggis sebagai tempat komunitas muslim terbesar keempat, yang terdapat: di Buitan, Padang Bai,  dan Pertamina Manggis.  Di Buitan meski muslim hanya 27 KK, namun telah memiliki masjid.   Di Padang Bai  ada pula masjid milik pelabuhan,  dan kaum muslimnya pun umumnya para pegawai kapal  (yang transit). Begitu pula di Pertamina Manggis  kaum muslimnya adalah para pekerja dan pemili usaha kecil (warung) di lokasi itu.
Setelah mendapatkan data kuantitatif, pak Hasan Bick mengantarkan saya dkk menemui tokoh-tokoh Islam dan Hindu untuk mendapatkan informasi seputar sejarah dan konteks hubungan sosial komunitas muslim di kabupaten Karangasem ini. Keberadaan Muslim Karangasem mula-mula dibawa oleh raja Bali (era Kerajaan Karangasem) dari daratan Lombok.   Waktu itu Lombok memang berada dibawah pendudukan kerajaan Karangasem.  Secara historis,  penguasaan Bali atas Lombok sebenarnya terjadi jauh sebelum kerajaan Karangasem,  yakni sudah terjadi di sekitar abad 16  oleh kerajaan Gelgel era kepemimpinan Watu Renggong.  Waktu itu Watu Renggong (pasca runtuhnya Majapahit oleh Demak) berhasil menguasai  Blambangan (1512),  bahkan meluas sampai ke Lombok (1520),  Sumbawa.  Tujuan Waturenggong kala itu memang untuk membendung pengaruh Islam Demak memasuki Bali. Logika Waturenggong ini dapat dipahami sebab kala itu Bali memang menjadi tempat pelarian  orang-orang yang pintar dan kuat-kuat akidah kehinduannya. Era keruntuhan Mojopahit memang pangeran-pangeran yang tak mau masuk Islam lari ke Bali.  Sebagian ada juga yang lari ke gunung Bromo yang kala itu rombongan dipimpinan Pangeran Seger dan istrinya Roro Anteng.  Walhasil,  anak keturunan mereka pun akhirnya disebut suku Tengger (baca: Gabungan dari Roro AnTeng dan Joko SeGer).
Lombok memang menjadi target strategis penguasaan Watu Renggong (berkuasa sejak 1460-1550) untuk menghadang Islam Demak,  sebab Lombok kala itu sudah terpengaruh Islam. Artinya,  Islam sudah masuk dan menyebar ke wilayah itu.  Kedatangan Islam ke Lombok terjadi sekitar 450 tahun lalu atau sekitar tahun 1500 an.  Islam semula masuk dari arah utara (baca: Lombok utara),  lantas untuk mengefektifkan pengaruh,  wilayah penyebaran sengaja dibagi dua sesuai dengan dua tokoh utama pelaku penyebaran, yakni: Raden Mas pengging dan Raden Mas Prapen alias Sunan Mas Ratu Pratikel (hidup tahun 1548-1605). Raden Mas Prapen  tidak lain adalah buyut dari Sunan Giri (hidup tahun 1487-1506),  sehingga dia sering disebut sebagai Sunan Giri ke IV. Sedangkan Raden Mas Pengging  atau Ki Ageng Pengging tidak lain adalah Ki Kebo Kenongo (ayah Joko Tingkir alias Mas Karebet). Raden Mas Pengging ini menjadi murid Syekh Siti Jenar. Melalui misi kedua orang itulah akhirnya Lombok menjadi penganut Islam,  meski dengan ciri dan watak yang belum murni.  Istilah Islam Wetu Telu misalnya,  refleksi dari adanya kerancuan Islam itu.
Wilayah Lombok muslim inilah yang berhasil ditaklukkan Gelgel pimpinan Waturenggong.  Namun,  Gelgel pasca Watu Renggong ”berantakan” sendiri terutama akibat konflik internal.  Banyak wilayah akhirnya mendeklarasikan sebagai kerajaan sendiri,  serta menempatkan Gelgel hanya sebagai pusat kultural belaka. Dengan rontoknya kekuatan Gelgel,  Lombok tentu lepas pula dari penguasaan Bali.  Namun,  pada perkembangan waktu Karangasem berhasil menaklukkan dan meluaskan kerajaannya ke Lombok.
Sebelum Karangasem melebarkan kekuasaan ke Lombok, untuk penjajakan raja menjalin lawatan (perkenalan-persahabatan) politik dengan beberapa raja. Di kerajaan Pejanggi Lombok Tengah, raja berkenalan dengan  Datuk Pejanggih yang memiliki anak muda  bernama Mas Pakel.  Sebagai tanda perasudaraan, raja Bali mengundang Mas Pakel datang dan tinggal di Bali alias  diangkat menjadi keluarga kerajaan Karangasem.
Mas Pakel adalah seorang pemuda gagah, ganteng, dan sangat sopan, sehingga para putri raja bahkan istri raja sangat menyukainya.  Akibatnya,  keluarga lingkungan kerajaan banyak yang merasa iri atau sakit hati.  Mereka lantas membuat fitnah bahwa: Mas Pakel merusak pagar ayu, merusak istri raja, merusak putri-putri raja,    yang mestinya dijaga. Gencarnya profokasi menyebabkan raja termakan oleh cerita ini,  sehingga membuat rekayasa untuk menyingkirkan pemuda Pakel. Pakel ditunjuk menjadi panglima,  dan seolah dikirim  untuk melawan musuh.  Namun,  di wilayah yang kini  ada di kawasan  Tohpati Mas Pakel berusaha untuk dibunuh. Mas Pakel sangat sakti,  sehingga tidak bisa mati. Meski demikian,  Pakel yang sendirian juga tidak bisa selamat dari pengeroyokan.  Konon ia lantas mengambil sikap, ”Saya sekarang tahu bahwa saya direkayasa untuk dibunuh. Kalau mau membunuh saya bawalah saya ke Pantai Ujung”. Proses berikutnya ada tiga  versi:Pertama,  Di pantai  Mas Pakel tetap gagal dibunuh, sehingga akhirnya diusir balik ke Lombok dengan memakai perahu kecil (perahu pancing). Adapun makam yang ada di dekat Panjai Ujung, Karangasem itu,  bukan makam Ratu Mas Pakel (yang dikenal dengan sebutan Sunan Mumbul) tetapi makam Raja Pejanggi yang ditawan Raja Karangasem hingga meninggal. Kedua,  ketika patih yang ditugaskan untuk membunuh mengayunkan pedang,  Mas Pakel tiba-tiba menghilang dari pandangan dan berlari di atas air.  Patih lantas membuat rekayasa untuk lapor pada raja,  dengan membunuh seekor anjing dan hatinya diserahkan pada raja sebagai bukti bahwa dia telah menjalankan perintah.  Namun,  beberapa hari setelah peristiwa itu,  tiba-tiba muncul seberkas sinar tempat Mas Pakel menghilang,  dan tanah yang semula rata berubah menjadi gundukan menyerupai kuburan.  Sejak itulah Mas Pakel dijuluki dengan sebutan Sunan Mumbul.  Ketiga,  Pakel akhirnya memang dibunuh,  karena dia telah melepaskan kesaktian. Mayatnya dikubur di Pantai itu.  Namun,  ketika hendak dibunuh dia mengeluarkan kutukan: ”siapapun yang membunuh, semua keturunannya kalau lewat lokasi ini akan sakit jika tak bisa kencing di sekitar sini”.  Perkataan Pakel ini dipercaya menjadi tuah oleh komunitas Hindu setempat. ”Saya kenal I Gede Gusti Putu. Dia nunggu dulu nggak mau lewat kalau belum kencing. Kalau belum kencing ndak berani lewat katanya. Dan itu cerita dari orang itu sendiri”,   kata H. Hasyim seorang tokoh muslim Karangasem yang sudah sepuh  menjelaskan. Makam yang dipercaya sebagai kuburan Mas Pakel ini  kini biasa diziarai terutama pada 15 hari pasca lebaran Iedzul Fitri.
Terkait Mas Pakel dalam konteks sejarah penaklukan Lombok oleh Karangasem,  terdapat dua interpretasi  sejarah.
Pertama,  Pengangkatan Mas Pakel sebagai saudara kerajaan dan dipersilahkan tinggal di Karangasem,  sejak awal telah dirancang untuk wahana penjajakan kekuatan:  Ingin tahu berapa kekutannya, dan berapa prajuritnya. Jadi dengan adanya Datuk Mas Pakel atau disebut juga Datuk Pemuda Mas diambil sebagai saudara,  kerajaan Karangasem bisa  leluasa kesana-kemari untuk menyelidiki kekuatan lawan. Setelah mengetahui kekuatan dan kelemahan Lombok,  Mas Pakel yang tidak lagi “dibutuhkan” disingkirkan,  sedangkan penaklukan atas Lombok segera dilakukan. Jadi, pengusiran/pembunuhan Pakel dengan alasan ”merusak pagar ayu keraton”,  hakekatnya sengaja direncanakan untuk  mencari alasan permusuhan alias pengabsah bagi Karangasem untuk melakukan penyerangan terhadap Lombok.
Kedua,  kemungkinan lain raja Karangasem memang tidak melakukan rekayasa, tetapi murni ingin membangun persahabatan dengan Lombok termasuk dengan mengangkat saudara Mas Pakel.  Tetapi,  raja akhirnya termakan fitnah  yang dibangun elemen kerajaan yang anti Islam dan anti Mas Pakel .   Akibatnya,  raja Anak Agung Anglurah Ketut Karangasem benar-benar marah,  mengusir/membunuh Mas Pakel,  bahkan akhirnya melampiaskan kemarahan dengan melakukan perang penaklukan terhadap Lombok (Selaparang dan Pejanggi).
Walhasil,   Lombok akhirnya berhasil ditaklukkan Karangasem (Bali) pada tahun 1692 M,  sebagai tanda penaklukan kedua setelah sebelumnya pernah ditaklukkan Gelgel era Waturenggong. Banyak hal memberi bukti terkait dengan penaklukkan ini.  ”Kampung-kampung di Lombok setelah diduduki Karangasem harus ditambah namanya dengan nama Karang. Makanya kalau ke Lombok nama kampung-kampung (kecuali yang baru) pasti pakai nama Karang. Yang dulu kampung Jangkong menjadi Karang Jangkong. Yang namanya kampong Meranggi menjadi Karang Meranggi. Semua pake Karang, Karang Gentel,  hampir seluruhnya”,    tambah H. Hasyim Ahmad.  Selain itu,  raja Karangasem juga berusaha mempersaudarakan antara Hindu dan Islam dengan cara mengakulturasi bahasa.  Maka diadopsilah bahasa Lombok, Beraye, sementara bahasa Bali yang dibawa adalah Menyame. Maka jadilah Menyame Braye. ”Awalan bahasa Bali pasti Me,  kalau tidak berteman. Sementara Beraye adalah bahasa Lombok, dengan awalan Be. Ketika menjadi bahasa Bali misalnya: Paling tiang Bebatur. Hasil akulturasi itu dijadikan satu bahasa Bali dan Lombok.  Jadi,  awalnya Menyama Braye itu di Puri Karangasem,  lantas menyebar ke seluruh Bali”,  tandas H. Hasyim yang ahli membaca lontar peninggalan generasi lampau.
Selain itu,  setelah penaklukan, orang-orang Lombok yang dianggap sakti lantas dibawa raja ke Karangasem dengan maksud agar membantu keraton.  “Menurut cerita kakek saya, mereka yang didatangkan kebanyakan orang-orang bertuah. Orang-orang yang artinya mempunyai power, tentu sesuai zaman itu. Kalau menurut saya istilahnya ndak sakti, nabi saja dilempar patah giginya. Kalau menurut saya mereka itu orang-orang yang saya anggap mempunyai power dan keberanian, mempunyai pengaruh, mempunyai kepemimpinan karismatik begitulah. Orang-orang seperti itulah yang dibawa kemari”,  tandas H. Hasyim.
Mereka inilah cikal bakal komunitas-komunitas Muslim Karangasem,  yang mayoritas berasal dari Lombok.  Orang-orang sakti ini ditempatkan sepasang-sepang (baca: suami istri) dengan:  memakai strategi mengelilingi Puri Kanginan sebagai tempat raja. Di sebelah selatan  ada Banjar Kodok, di sebelah selatannya lagi kampung Islam Dangin Seme. Di sebelah barat ada desa Hindu, sebelah baratnya lagi Kampung Islam Bangras.  Intinya,  penempatan dilakukan secara selang-seling Islam-Hindu, mengelilingi puri.  ”Itu  strategi raja untuk mempersatukan rakyat Karangasem, sekaligus mengamankan puri”,  tambah H. Hasyim.  Namun,  logika itu juga memberikan arti bahwa puri tampaknya tidak terlalu merasa aman jika hanya dikelilingi rakyat Hindu,  serta memerlukan  pengawalan dari rakyat yang justru beda agama.  Pada kenyataannya memang kalangan Islam dapat dipercaya raja untuk menjadi ”pengawal puri”. Inilah yang menjadi satu sebab kenapa Umat Islam Karangasem dengan Puri menjadi sangat akrab.
Selain Dangin Seme,  kampung-kampung kuno Islam  lain di Karangasem sejarahnya juga sama. Mereka sengaja ditaruh sepasang-sepasang (baca: kira-kira suami istri),  dengan posisi mengelilingi Puri.  Posisi mengelilingi puri dibuat dua lapis. Seperti Dangin Seme termasuk lapisan pertama. Lapisan kedua seperti Segar Katon, Ujung Pesisi, Kebulak Kesasak, Bukit Tabuan, dengan formasi juga mengelilingi puri. Lapis kedua bahkan sampai Saren Jawa dan Kecicang.
Adapun muslim yang ditempatkan di Sindu, spesifik untuk menghadang kerajaan Klungkung. Yang ditaruh di Sidemen untuk menghadang dan memata-matai gerak-gerik kerajaan Klungkung.  Dengan kata lain,  komunitas muslim Sindu –yang jaraknya sekitar 30 km dari Dangin Seme– dulunya memang spesial  untuk memata-matai Klungkung.
Selain Shindu ada kampung Islam lain yang kala itu mempunyai posisi super spesial,  sehingga nama kampung pun memiliki nama yang mencerminkan posisi dan fungsi yang super spesial.  Kamunitas Kampung Karang Tohpati,  adalah contohnya.  Toh itu artinya mempertaruhkan, sedangkan pati atinya jiwa.   “Kala itu kaum Muslim sebenarnya bukan tinggal di Karang Tohpati, tetapi mereka memang tinggal di lokasi Tohpati di wilayah Bebandem di Saren Jawa. Di situlah ada namanya Tohpati, di situlah dulunya dia tinggal,  untuk menjaga kalau ada musuh. Di lokasi itu Tohpati mempertaruhkan Jiwa”,  jelas H. Hasyim. “Kasus ini sama dengan orang-orang  Subagan yang asalnya dari Sekar Bela.  Sekar artinya kembang,  bela maknanya membela.  Jadi dia suka membela raja sampai  namanya wangi seperti kembang karena membela”.
”Makanya,  di sini orang-orang Hindu yang ndak tahu, terutama anak-anak muda, ngomong macam-macam: Kami penumpang. Kami pendatang. Saya katakan kami ke sini bukan cari kerja, kami datang bukan mengemis, kami datang dibawa dan  dibutuhkan oleh raja. Kami ditempatkan disini, dan (sejarah serta eksistensi) kami diakui oleh raja sampai detik ini”,  tambah H. Hasyim menandaskan dengan maksud meluruskan pemahaman



Kampung Muslim LEBAH **)

Awal masuknya Islam dibali tidak dapat dilepaskan dari dua kampung Islam yang menjadi tombak sejarah Islam di Bali, yaitu Kampung Lebah, dan Kampung Kecicang Islam.


Bali terkenal sebagai kota wisata. Hampir wisatawan lokal maupun mancanegara datang berkunjung untuk menikmati berbagai keindahan dan adat istiadat yang menjadi daya tarik tersendiri. Sebagian besar penduduk Bali beragama Hindu. Nuansa agama Hindu sangat kental di pulau ini, namun dibalik kentalnya agama Hindu, terdapat beberapa kampung Islam yang berkembang pesat di Pulau Seribu Pura ini, meskipun hanya menjadi penduduk mayoritas kedua, namun Islam di Bali menghadirkan keragaman bagi pulau dewata ini. Sejarah masuknya agama Islam di bukan hal baru terjadi, namun sudah sejak masa kerajaan dahulu. Ada beberapa kampung muslim yang berada di Bali, salah satunya Kampung Lebah dan Kampung Kecicang. Dua kampung Islam yang mempunyai keunikan tersendiri. Istilah kata “Kampung’’ di kawasan Bali identik dengan pemukiman Muslim.




Kampung Islam yang beralamat di Kelurahan Semarapura, Kabupaten Klungkung, Bali, tepatnya di sepanjang Jalan Diponegoro adalah salah satu tombak sejarah masuknya Islam di Bali. Di Pulau Dewata sendiri, sejarah Pertama kali masuknya islam berada di kawasan Klungkung, tepatnya di kampung Gelgel. Pada abad ke 16, beberapa utusan dari kerajaan Majapahit hijrah ke Bali dengan tujuan untuk mengislamkan Raja Klungkung, namun niat itu tidak berhasil. Hubungan baik dengan Kerajaan Majapahit menuntut Raja Klungkung untuk mempersilahkan utusan Majapahit tersebut tinggal di Gelgel Klungkung. Dari sana Islam di Klungkung mulai berkembang turun temurun. Masyarakat bermata pencaharian tetap, memilih tinggal di Gelgel dan yang berdagang memilih mendirikan perkampungan sendiri. Kampung itu dikenal dengan nama Kampung Lebah. 

Nuansa Islam: Suasana Kampung Lebah di malam hari

 Menurut H. Safwin Azrai tokoh masyarakat setempat, Kampung Lebah berasal dari kata Lembah, disebabkan kampung ini berada di dataran yang lebih tinggi dari jalan Semarapura.” Dulunya di sini lembah sebelum dibuat perkampungan seperti ini” tuturnya. Sedangkan menurut H. Abdullah Azrai, nama Kampung Lebah bisa diambil dari filosofi hewan lebah (tawon). Menurutnya Islam bisa dianalogikan dengan lebah yang menanamkan nilai-nilai kebaikan. Lebah menghasilkan madu yang mempunyai banyak khasiat untuk kesehatan. “lebah itu kan selalu terbang dan hinggap di bunga tetapi tidak sampai merusaknya, lebah juga menghasilkan madu yang dapat digunakan untuk obat”. Ujarnya.

Kampung Lebah berpenduduk sekitar 400 kepala keluarga dan sebagian besar dari mereka bermata pencaharian sebagai pedagang. Sebagian dari mereka memilih berdagang ke luar kota, dan sisanya lagi memilih berdagang di sekitar kampung mereka. “Dulu di sepanjang jalan raya ini terlihat seperti lembah karena masih belum ada yang menempati, tetapi sekarang kebutuhan menuntut warga sini mendirikan tempat usaha di sepanjang jalan” tutur H. Safwin Azrai. Untuk mendukung aktifitas peribadatan masyarakat, di kampung ini telah berdiri 5 mushola dan 1 Masjid Al Hikmah. Terkait dengan pendirian tempat ibadah di kampung ini tidak mengalamai masalah, karena di Kampung Lebah keseluruhan penduduknya beragama Islam. Beberapa sekolah Islam juga didirikan di kampung ini dengan tujuan memfasilitasi anak-anak mengenyam pendidikan bernuansa Islam sejak dini agar nantinya menjadi manusia yang berakhlakul karimah. Diantaranya adalah Yayasan Hasanuddin yang menaungi Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah Hasanuddin dan Pondok Pesantren Tarbiyatul Athfal. selain itu juga ada Taman Kanak-kanak bernuansa Islam dan Pendidikan At Khair Muhammadiyah. Tanpa harus melupakan identitas sebagai umat Islam yang tinggal di Indonesia, masyarakat Kampung Lebah masih tetap melestarikan kesenian-kesenian Islam khas Nusantara, diantaranya adalah Tari Rudat, Samrah untuk ibu-ibu, Kosidah dan lainnya.

Sebagai pemeluk agama mayoritas kedua di Bali, masyarakat Kampung Lebah sangat memahami akan pentingnya toleransi antar umat beragama. Hubungan mereka dengan pemeluk agama lain sejauh ini cukup harmonis. Menurut H. Safwin Azrai yang juga aktif di Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) ini, apabila sebelumnya sempat terjadi gesekan lebih disebabkan oleh ulah anak-anak muda yang sedang mencari jati diri dan pengakuan dari masyarakat. Beberapa tahun lalu sempat terjadi keributan ketika takbiran keliling, mungkin karena ulah beberapa anak-anak muda” tuturnya. Demi menjaga terjalinnya kerukunan antar umat beragama, saat ini malam takbiran lebih dipusatkan di masjid dan mushola yang berlokasi di Kampung Lebah sendiri. Bentuk lain dari toleransi kampung ini adalah ketika Nyepi mereka tidak menggunakan pengeras suara saat mengumandangkan adzan. Masyarakat Kampung Lebah lebih mengedepankan toleransi antar umat beragama karena sesungguhnya Islam itu sendiri telah mengajarkan amar ma’ruf nahi munkar bagi umatnya.


Kampung Kecicang Islam **) 
Kampung Kecicang Islam yang berada di kawasan Banjar Dinas Kecicang Islam, Desa Bungayan Kangin, Kecamatan Bebandem, Kabupaten Karangasem adalah sebuah kampung Islam terbesar di Kabupaten Karangasem dengan penduduk mencapai 3.402 kepala keluarga. Kampung ini berbatasan dengan Banjar Kecicang Bali di sebelah barat daya, Banjar Triwangsa di sebelah barat dan di selatan berbatasan dengan Banjar Subagan. Menurut Hasmini Kepala Dusun Kecicang Islam, penduduk kampung ini dulunya adalah penduduk Tohpati Buda Keling. Setelah sang raja meninggal, raja baru memindahkan penduduknya ke Kecicang dan Tohpati kota dengan cara babad alas (membuka hutan), “Dulunya di sini alas (hutan) bukan kampung seperti ini” ujarnya. Sedangkan nama kecicang sendiri diambil dari nama bunga berwarna putih yang biasa dimasak oleh masyarakat setempat. Selain itu Muriham Effendi salah satu tokoh masyarakat setempat menyebut kecicang berasal dari nama incang-incangan yang berarti saling mencari ketika perang pada jaman kerajaan dulu. Sedangkan tambahan nama Islam di belakang nama kecicang untuk memberikan penegasan tentang kampung Islam.



Solidaritas: Warga Kampung Kecicang bergotong royong membangun masjid
  Muriham Effendi menuturkan bahwa masyarakat Kecicang Islam keseluruhan adalah Muslim. Selain penduduk asli, di kampung ini juga terdapat beberapa pendatang dari Jawa Timur, dan lombok. Mata pencaharian masyarakat kecicang sebagian besar adalah pedagang, petani dan sebagian lainnya memilih merantau ke luar Kecicang. Bukti bahwa kampung ini adalah kampung Islam adalah dengan berdirinya Masjid Baiturrahman yang diperkirakan sejak akhir abad 17. Saat ini masjid tersebut dalam proses renovasi sejak 8 tahun lalu dan tak kunjung selesai. Rencananya masjid ini akan diperbesar dengan bangunan tiga lantai, disebabkan penduduk Kecicang yang setiap tahunnya semakin bertambah. Masyarakat saling bergotong royong bergantian untuk partisipasi dalam pembangunan masjid. Gotong royong tersebut memperlihatkan bahwa masyarakat Kecicang memiliki solidaritas yang tinggi, tidak terlihat perbedaan diantara mereka. Selain masjid, kampung ini memiliki 6 mushola untuk menunjang kegiatan peribadatan.

 Dalam hal penyediaan fasilitas pendidikan terdapat beberapa sekolah Islam, diantaranya adalah PAUD Tunas Sejahtera, RA Al-Ma’un, MIN Bungayan Kangin dan MTs Ma’arif. Kesenian bernafaskan Islam yang menjadi kearifan lokal tetap dilestarikan di kampung ini, diantaranya adalah kesenian Tari Rudat hasil dari proses akulturasi budaya Hindu dengan budaya Islam dari Timur Tengah, Kosidah dan Albanjari. Upacara-upacara keagamaan seperti pengajian, tahlilan, selamatan, ziarah juga masih tetap dilestarikan oleh masyarakat Kecicang. Selain menguatkan akidah keislaman, kegiatan-kegiatan tersebut juga berfungsi untuk meningkatkan solidaritas sesama masyarakat. “Dengan adanya kegiatan seperti itu, masyarakat jadi lebih rukun karena sering bertemu” ujar Muriham. Tingkat religiulitas masyarakat Kecicang yang cukup tinggi terhadap Islam, Kampung ini pernah mendatangkan ustadz ternama yang datang untuk memberikan tausiyah diantaranya adalah KH. Zainuddin MZ, ustadz Taufiq Rahman dan lainnya.

Disisi lain hubungan masyarakat Kecicang Islam dengan masyarakat Bali lainnya cukup harmonis. Menurut Hasmini apabila masyarakat Bali dari Banjar tetangga mengadakan acara hajatan, masyarakat Kecicang turut diundang, begitu sebaliknya. Begitu pula ketika upacara-upacara besar keagamaan, semisal ketika solat Idul Fitri di Kampung Kecicang Islam dijaga oleh pecalang keamanan dari komunitas Hindu. Sebaliknya apabila umat Hindu merayakan upacara keagamaan seperti Nyepi, maka masyarakat Muslim Kecicang turut mengamankan. Toleransi antar umat beragama tetap ditekankan di kampung ini, karena sesungguhnya Islam sendiri adalah agama Rahmatan Lil Alamin. (lw)

 

TARI RUDAT Kecicang Islam ***)

 Di kampung-kampung Islam Bali, komunitas kesenian Tari Rudat sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat. Tari rudat adalah sebuah kesenian yang mengkombinasikan antara seni tari, silat dan iringan musik bernafaskan Islam. Keunikan lain dari kesenian ini adalah kostum yang dikenakan oleh para pemain yang didesain menyerupai pakaian prajurit Islam tempo dulu. Dalam pertunjukannya, para pemain membentuk sebuah barisan mirip prajurit yang akan berangkat perang, kemudian mereka memperagakan gerak-gerak silat sambil menyanyikan lagu bernafaskan Islam. Sesekali para pemain yang berjumlah sekitar 20 orang dalam satu kelompok membentuk formasi memutari lapangan sambil memperagakan gerakan silat. Di depan barisan ada satu orang yang berfungsi sebagai Ance atau komandan dan bertugas memberi aba-aba sambil memeragakan gerak-gerak silat dan mengacung-acungkan pedang agar terlihat kompak. Di sekitar prajurit ada pemain musik yang diperankan oleh beberapa orang tua. Alat-alat musik yang digunakan adalah rebana, jidor, trenteng dan alat-alat musik Islam lainnya. Musik ditabuh bertalu-talu mengiringi penari Rudat.

Di kampung Kecicang Islam Karangasem ada tiga komunitas Tari Rudat yang anggotanya terdiri dari para pelajar sekolah Islam yang berdiri di lingkungan kampung tersebut. Diantaranya adalah komunitas Rudat Baru PP. Ar-Rohmah pimpinan H. Hamidin, Rudat Melayu pimpinan H. Safrudin, dan Rudat Melayu PP. Al-Muro’fiun. Ketiganya memiliki gerakan tarian yang berbeda bergantung pada jenis tarian yang dianutnya. Menurut

Muriham Effendi salah satu tokoh Rudat di Kampung Kecicang Islam, manfaat dari melestarikan kesenian Tari Rudat selain dapat memberikan pertunjukan yang menarik bagi masyarakat juga bertujuan memberikan sarana kegiatan bagi anak-anak muda agar jiwa mudanya tersalurkan ke hal positif dan bermanfaat.

Tari Rudat biasa dipertunjukkan ketika hari-hari besar keagamaan seperti Maulid Nabi, Idul Fitri, acara pernikahan dan khitanan. Namun, saat ini sudah biasa dipertunjukkan pada acara-acara umum, seperti pada Hari Kemerdekaan, acara-acara pemerintahan, kampanye partai politik dan lainnya. Untuk jenis musik dan tarian biasanya bergantung pada pesanan yang mempunyai hajat dan jenis acara.

Mengenai sejarah Tari Rudat masih belum ada yang bisa menjelaskan secara pasti. Konon kesenian ini mulai masuk di Kecicang Islam sekitar abad 19 di bawa oleh Tuan Ali yang berasal dari Timur Tengah dengan maksud berdakwah melalui kesenian Islam. Menurut M. Fikri salah satu tokoh Rudat, Filosofi dari tari ini adalah menanamkan jiwa ksatria bagi umat islam untuk berani berperang melawan segala bentuk kedzaliman. Proses penyebaran Islam oleh para ulama zaman dahulu tidaklah mudah, tidak serta merta dengan ceramah keagamaan masyarakat langsung percaya dan memeluk agama Islam. Oleh sebab itu para ulama banyak berdakwah melalui cara-cara yang lebih bisa diterima oleh masyarakat, salah satunya melalui kesenian yang berfungsi sebagai sarana hiburan. Sehingga beberapa kesenian Islam lahir dari proses akulturasi budaya Islam yang dibawa dari Timur Tengan dan budaya lokal. Diharapkan kita sebagai umat Islam yang tinggal di Indonesia memiliki kepedulian untuk tetap melestarikan kesenian khas Nusantara.

 

Masjid Kuno Baiturrahman di Kecicang ****)

Masjid Baiturrahman, Kecicang Karangasem Bali
Kecicang merupakan sebuah dusun yang terbagi menjadi dua yaitu Kecicang Bali (Banjar Bali) dengan mayoritas penduduknya beragama Hindu dan Kecicang Islam yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Dusun ini terletak di Desa Bungaya, Kecamatan Bebandem, Kabupaten Karangasem Bali.
Sebuah masjid berdiri megah di tengah perkampungan Kecicang Islam yang diperkirakan sudah ada sejak akhir abad 17 M – awal abad 18 M. Perkiraan tersebut didasarkan pada kekalahan kerajaan Pejanggik di Lombok Tengah pada tahun 1692 sehingga terjadi perpindahan penduduk Islam dari Lombok menuju Karangasem sebagai tentara kerajaan Karangasem. Pada tahun 1740, keseluruhan Pulau Lombok berhasil ditaklukkan oleh kerajaan Karangasem sehingga semakin memperbesar jumlah komunitas Islam di daerah tersebut. Selain Kampung Kecicang, komunitas Islam mendirikan perkampungan di luar pusat kerajaan sebagai pasukan penjaga antara lain di Kampung Ujung Desa, Ujung Sumbawa, Segara Katon, Dangin Sema, Nyuling, Tihing Jangkrik, Kampung Anyar, Karang Sasak, Bukit Tambuhan, Tibulake, Sasak, Karang Cermen, Bangras, Karang Langko, Karang Tohpati, Karang Ampel, Gerembeng, Karang tebu, Jeruk Manis, Gelumpang Sari, Karang Sokong, Telaga Mas, Kedaton, Saren Jawa dan Sindu.
Pada masjid Baiturrahman terdapat kekunaan arkeologi berupa kolam air yang mengelilingi bangunan masjid. Kolam merupakan simbol pembersihan diri (untuk jiwa dan raga) sebelum memasuki bangunan masjid. Sehingga pembangunan kolam sering fungsinya digabungkan dengan tempat berwudlu. Dalam mitos Hindu, bangunan disimbolkan sebagai gunung kehidupan (girimandala) dan kolam disimbolkan sebagai lautan (samudramantana).
Bentuk bangunan masjid berdenah bujur sangkar dengan atap tumpang tiga. Atap tumpang merupakan ciri khas masjid lama yang berkembang di nusantara, dan merupakan adopsi dari bangunan tradisional. Atap tumpang juga sudah digunakan masyarakat Hindu untuk bangunan meru di pura pada masa sebelumnya. Dinding masjid dibuat dari tembok dengan pintu dan jendela yang besar dan banyak sehingga pengaruh arsitektur Belanda terlihat pada bagian ini.
Kekunaan mimbar masjid juga terlihat dari ukiran geometris dan sulur-suluran tumbuhan. Mimbar bagian depan terdapat hiasan kurawal berupa motif sulur floris (tumbuhan) yang dianggap sebagai prototipe (penyamaran) kala makara pada masa Hindu. Masyarakat Bali menyebut hiasan tersebut dengan istilah “patra”. Patra Olanda (mendapat pengaruh motif dedaunan Belanda) merupakan patra yang dipahatkan pada mimbar tersebut dan motif ini banyak dipahatkan pada hiasan istana (puri) atau rumah bangsawan di Bali.
Bangunan Masjid Baiturrahman Kecicang Islam merupakan salah satu khasanah budaya Islam di tengah budaya Hindu yang perlu dipertahankan keasliannya, sehingga dapat dijadikan rujukan untuk menelusuri sejarah perkembangan arsitektur Islam di Bali.

Kecicang Islam adalah nama sebuah dusun di kelurahan Bungaya Kangin. Menurut cerita rakyat nama Kecicang diambil dari nama sebuah bunga liar yang tumbuh subur di sekitar wilayah desa Bungaya Kangin, tepatnya di sekitar dusun Kecicang Islam sekarang. Bunga Kecicang berwarna putih seperti bunga teratai yang sedang kuncup. Bunga ini berwarna putih bercampur pink (merah muda). Karena bunga ini tumbuh dengan mudah dan terdapat di mana-mana, oleh masyarakat bunga ini dimanfaatkan sebagai sayur atau dimasak lalapan dan sambal, sehingga masyarakat dusun menyebutnya sebagai sayur kecicang atau sambal kecicang. Menurut cerita nama dusun Kecicang diambil dari nama bunga kecicang tersebut. Sedangkan nama Islam di belakangnya berfungsi sebagai pembeda antara dusun Kecicang Islam dan Kecicang Bali. Dusun Kecicang Islam berpenduduk mayoritas beragama Islam sedangkan dusun Kecicang Bali berpenduduk mayoritas beragama Hindu (Hasmini, Wawancara : 31 Januari 2011).
Diceritakan bahwa, Islam masuk di dusun Kecicang dibawa oleh Haji Abdurrahman yang bergelar Balok Sakti. Beliau adalah salah satu di antara tujuh orang wali penyebar Islam di Bali yang disebut dengan wali pitu. Haji Abdurrahman atau Balok Sakti bersama istrinya berusaha mengajak masyarakat Kecicang masuk Islam. Beliaulah yang memberikan nama dusun Kecicang ini dengan Kecicang Islam.
Menurut sebuah sumber, dusun Kecicang Islam berasal dari istilah incang-incangan. Incang-incangan artinya bersembunyi untuk mengelabui serangan atau kejaran musuh. Diceritakan bahwa pada masa Kerajaan Karangasem berkuasa yaitu Anak Agung Ketut Karangasem sekitar tahun 1692 masehi wilayah kekuasaan kerajaan Karangasem meliputi Karangasem, Lombok dan Sumbawa (Sarlan (ed), 2009 : 23-24). Raja yang berkuasa ketika itu mengatur daerah kekuasaannya dengan memindahkan penduduk Lombok ke Bali dan penduduk Bali ke Lombok. Raja mendengar diantara masyarakat yang berasal dari pulau Lombok ada seseorang yang bernama Haji Abdurrahman, beliau dikenal sangat sakti sehingga dijuluki dengan Balok Sakti. Karena kesaktiannya, raja menugaskan Balok Sakti untuk menjaga benteng pertahanan dalam menghadapi serangan dari kerajaan Sidemen, Selat dan Klungkung di wilayah bagian utara, tepatnya di Tohpati Bebandem. Karena mendapat serangan yang begitu dahsyat dari kerajaan Sidemen dan Selat, Haji Abdurrahman atau Balok Sakti bersembunyi di sebuah hutan yang sangat lebat dan terkenal angker sambil bergerilya melawan musuh. Setelah pasukan kerajaan Klungkung dapat dikalahkan oleh Balok Sakti, ia kembali ke Tohpati. Kemudian menetap di sana dan mendirikan sebuah masjid atau musholla. Karena mendapat perlakuan istimewa dari kerajaan, masyarakat sekitar tidak senang dan memusuhinya, mereka menfitnah dan berusaha untuk membunuh Balok Sakti. Berita tentang rencana pembunuhan Balok Sakti ini sampai ke telinga raja, sehingga oleh raja diputuskanlah untuk memindahkan beliau dan para pengikutnya ke tempat lain. Raja memilihkan dua tempat, pindah ke kota (dekat dengan istana raja) atau pindah ke tanah kosong yang jauh dari kota yaitu sebuah hutan belantara yang sangat lebat dan terkenal angker. Balok Sakti memilih tanah kosong yang dipenuhi dengan bunga Kecicang. Di tempat inilah beliau mendirikan pemukiman dengan para pengikutnya (Muriham, Wawancara : 4 Februari 2011).
Sumber lain mengatakan bahwa, di antara pengikut Balok Sakti ada seseorang yang bernama Teuku Aceh. Menurut cerita dikatakan bahwa salah satu pengikut Balok Sakti ini ada yang berasal dari Sumatera, tidak diketahui nama aslinya, hanya masyarakat ketika itu memanggil beliau dengan sebutan Teuku Aceh. Menurut cerita, ketika raja memberikan pilihan untuk memindahkan penduduk Tohpati. Teuku Acehlah yang memilihkan tempat untuk Haji Abdurrahman atau Balok Sakti. Tempat yang ia pilihkan adalah sebuah hutan belantara yang ditumbuhi oleh bunga kecicang. Dengan membawa pusaka berupa kulkul Balok Sakti dan para pengikutnya pindah ke hutan lebat tersebut. Akhirnya oleh Balok Sakti, tempat baru ini di beri nama Kecicang. Di tempat inilah Balok sakti mendirikan pemukiman baru dan berdakwah menyebarkan Islam. Dalam melaksanakan misi dakwahnya, sarana yang dipergunakan oleh Balok Sakti adalah kulkul (ketongan). Kulkul berfungsi untuk memanggil dan mengumpulkan masyarakat. Akhirnya pengikutnya bertambah banyak dan terus berkembang hingga sekarang (Mahit, Wawancara : 5 Februari 2011).
Akan tetapi, menurut penuturan Hasmini, tempat mendirikan dusun Kecicang Islam ditentukan oleh Balok Sakti sendiri, bukan oleh Teuku Aceh, sebab semasa Balok Sakti hidup, Teuku Aceh belum ada. Dikatakan bahwa Teuku Aceh hidup lebih kurang se abad setelah Balok Sakti terbunuh dan bertempat tinggal di Kecicang Islam (Hasmini, Wawancara : 31 Januari 2011). Dari penuturan beberapa sumber di atas, peneliti menyimpulkan bahwa dusun Kecicang Islam didirikan oleh Balok Sakti. Nama Kecicang diambil dari asal nama bunga kecicang dan dari kata incang-incangan, sebab menurut hemat peneliti dua kata tersebut mempunyai penyebutan yang hampir sama dan secara historis ada hubungan antara bunga kecicang yang tumbuh lebat tempat Balok Sakti bersembunyi dengan kata incang-incangan yaitu melawan musuh dengan cara sembunyi-sembunyi.
Sebuah catatan penting yang perlu diungkap, bahwa pada sampai sekarang(tahun 2011), tidak terdapat bukti sejarah, baik dokumentasi maupun catatan-catatan penting tentang berdirinya dusun Kecicang Islam. Yang didapat hanya tulisan sejarah tentang sejarah masuknya Islam di Karangasem. Sehingga keseluruhan data mengenai sejarah masuknya Islam di Kecicang diperoleh melalui wawancara, maka banyak versi yang peneliti temukan. Antara satu dengan lainnya terdapat perbedaan dalam memahami sejarah berdirinya dusun Kecicang Islam tersebut. Peneliti berusaha menganalisa dari penuturan para nara sumber dan mengambil salah satu versi yang peneliti anggap lebih mendekati dan realistis. Dalam menganalisa sejarah masuknya Islam di Kecicang dari beberapa versi tersebut, peneliti berusaha mendapatkan legalitas dari beberapa sumber dengan cara membacakan hasil analisa untuk mendapatkan pembenaran.
Secara administratif, dusun Kecicang Islam berada dibawah struktur kelurahan atau desa Bungaya Kangin. Dusun yang berada di tengah-tengah desa Bungaya Kangin ini menurut letak geografisnya berada pada posisi yang berbatasan dengan dusun Abiansoan dari sebelah barat, di sisi sebelah timur berbatasan dengan dusun Kecicang Bali, di sisi sebelah selatan berbatasan dengan dusun Triwangsa dan di sisi sebelah utara berbatasan dengan sungai Karkuk yang sekaligus menjadi batas kelurahan Bungaya Kangin dan kelurahan Padang Kerta. Secara kedinasan, dusun ini dikepalai oleh seorang kepala dusun yang disebut dengan Kelian Banjar. Kelian Banjar diangkat atau dipilih oleh masyarakat dan disahkan oleh perbekel atau kepala desa. Tugas sebagai seorang kelian banjar tidak hanya membawahi beberapa tempek. Segala bentuk kegiatan dusun baik secara kedinasan maupun adat dan keagamaan, seorang kelian banjar diharapkan selalu hadir. Oleh karenanya tanggung jawab yang dilimpahkan kepadanya cukup berat dan sangat kompleks. Kompleksitas tugas kelian banjar terefleksikan dalam dinamika kesehariannya melayani masyarakat dalam kehidupan sosial masyarakat Kecicang Islam.

 


=======================
Sumber Tulisan :
*) http://dhurorudin.wordpress.com/2012/04/15/asal-usul-kampung-muslim-di-kabupaten-karangasem-
     bali-tulisan-7/
**) http://lugaswicaksono.blogspot.com/2013/06/mengunjungi-dua-kampung-islam-di-bali.html
     http://forum.kompas.com/travel/287615-mengunjungi-dua-kampung-islam-di-bali.html
***) http://lugaswicaksono.blogspot.com/2013/06/tari-rudat-kecicang-islam.html
****) http://kecicangislam.blogspot.com/2013/05/masjid-kecicang-islam.html
         http://gjb3112annapus.wordpress.com/arkeologi-islam/kekunaan-masjid-baiturrahman-
                 di-kecicang- karangasem-bali/