![]() |
Makam Keramat Habib Ali Bin Umar Bafaqih |
Makam ini milik KH Sayyid Habib Ali
Bafaqih yang wafat pada tahun 1997. Lokasi makam terletak didalam area
Pondok Pesantren “Syamsul Huda” yang didirikannya di Jln. Nangka No. 145 di
Desa Loloan Barat Kecamatan Negara Kabupaten Jembrana.
Sejarah Tokoh.
KH Sayyid Ali bin Umar Bafaqih dilahirkan di Banyuwangi pada tahun 1890 dari
pasangan Habib Umar dan Syarifah Nur. Menjelang usia 20 tahun (sekitar tahun
1910) Sayyid Ali memperdalam ilmu agama
Islam ke tanah suci Mekah atas biaya Haji Sanusi, seorang ulama terkemuka di
Banyuwangi. Di tanah suci Makkah, beliau bermukim di kampung Syi’ib Ali selama
kurang lebih 7 tahun. Sepulangnya dari Mekah, Sayyid Ali kembali ke tanah air
dan meneruskan belajarnya di Pondok pesantren di Jombang di bawah asuhan KH A.
Wahab Hasbullah. Selain mendalami ilmu-ilmu agama dan Al Quran di waktu
mudanya, beliau ternyata dikenal sebagai pendekar silat yang sangat tangguh.
KH Sayyid Ali Bafaqih mengajar di Madrasah
Khairiyah selama setahun di Banyuwangi, kemudian mengembangkan ilmunya di Bali atas permintaan Datuk KH Muhammad Said, seorang
ulama besar di Loloan. Dengan begitu, dakwah dan syi’ar Islam di kabupaten
Jembrana semakin bersinar. Baru pada tahun 1935 beliau mendirikan Pondok
Pesantren “Syamsul Huda” di Loloan Barat yang kini telah melahirkan ribuan
ulama, da’i dan ustadz. Para santri datang
dari berbagai pelosok desa di tanah air. Mereka belajar dan berbaur dengan masyarakat
Loloan. yang sejak ratusan tahun lalu
telah dikunjungi oleh ulama-ulama tangguh dari berbagai daerah.
KH. Sayyid Ali Bafaqih wafat pada tahun
1997 dalam usia 107 tahun. Oleh karena perjuangan dan kegigihanya dalam mensyiarkan agama Islam, serta karena ilmunya
yang tinggi, maka beliau dipandang sebagai salah satu “Wali Pitu” yang ada di
Jembrana Bali.
Karomahnya.
Menurut cerita yang berkembang di masyarakat Loloan, diantara karomahnya ialah,
bahwa pada suatu hari beliau berdakwah keliling memberikan pengajian di suatu
tempat, dan dalam waktu yang bersamaan, orang-orang menyaksikan bahwa beliau
juga berdakwah memberikan pengajian di tempat yang berbeda. Seolah-solah dalam
waktu yang bersamaan badan beliau dapat bercabang dua.
Proses Penemuan.
Usaha penelusuran, penelitian dan penemuan Walipitu Bali memakan waktu kurang
lebih 5 tahun, tahun 1991 s/d 1995. Hasil yang diperoleh salama masa tersebut,
menurut penggagas dan penemunya, KH Toyib Zaen Arifin, dikelompokkan kedalam
tiga bagian, sebagai berikut :
1) Ditemukannya 6 (enam) makam keramat
yang masuk kategori Walipitu, yakni makamnya Pangeran Mas Sepuh alias Raden
Amangkuningrat; Habib Ali bin Abu Bakar
bin Umar bin Abu Bakar Al-Hamid; Habib Ali bin Zainal Abidin Al-Idrus; Syekh
Maulana Yusuf Al-Baghdi Al-Maghribi; Habib Umar bin Maulana Yusuf Al-Maghribi;
dan The Kwan Lie alias Syekh Abdul Qodir
Muhammad.
2).
Ditemukannya 2 (dua) makam yang tidak masuk hitungan Walipitu, yakni
makamnya Raden Ayu Siti Khotijah dan Pangeran Sosrodiningrat.
3). Ditemukannya
seorang Waliyulloh yang makamnya “Qoblal Wujud”. Artinya makam
waliyulloh ini memang belum ada, disebabkan orangnya saat itu (tahun 1995)
masih hidup. Makam Waliyulloh ke-7 ini baru terwujud setelah yang
bersangkutan wafat pada tahun 1998, yang menurut penggagasnya, KH Toyib Zaen
Arifin, bernama KH Sayyid Ali bin Umar bin Abu Bakar Bafaqih dari Loloan Barat
kabupaten Jembrana.
Wallohu
A’lam bis-Showab