![]() |
Makam Syech Abdul Qodir Muhammad (The Kuwan Lie) |
Makam yang terkenal dengan sebutan Keramat
Karang Rupit ini milik seorang muslim asal Cina bernama asli The Kwan Pao-Lie,
disingkat The Kwan Lie, yang bergelar Syekh Abdul Qadir Muhammad.
Lokasi makamnya
di Desa Temukus (di samping Pura Agung Labuan Aji), Kecamatan Banjar, Kabupaten
Buleleng, Singaraja, Bali. Makam tersebut
berada di tepi Jalan Raya Seririt, berjarak ± 12 km sebelah barat kota Singaraja. Makam ini
cukup terkenal dan dikeramatkan oleh masyarakat muslim dan Hindu. Pada hari
Rabu terakhir (Rebo kasan) bulan Shafar, banyak diantara mereka yang
berziarah, dan uniknya masing-masing menggelar “selamatan” menurut
keyakinannya sendiri-sendiri.
Proses penemuan.
Berangkat dari isyarah (hatif) dalam riyadhoh-nya,6) KH Toyib Zaen Arfin dan timnya melakukan
pencarian makam Walipitu Bali ke-6 di wilayah kabupaten Buleleng
(Singaraja) pada akhir tahun 1995, dengan dipandu oleh adik kandung Habib
Muhdhor bin Zainal Abidin Alydrus, yakni Habib Muhammad Alydrus. Berdasarkan
ciri-ciri dalam isyarah tersebut, maka ditemukanlah sebuah makam di
samping Pura Agung Labuan Aji yang terletak di pinggir pantai desa Temukus.
Karomah. Menurut
keterangan tokoh masyarakat dan orang-orang tua di Temukus dan sekitarnya,
makam keramat Karang Rupit adalah milik seorang muslim asal Cina yang sejak
dulu dikeramatkan oleh masyarakat Hindu dan Muslim. Keanehan dari makam ini,
bahwa dulunya kedua batu nisan makam ini berada di tanah sejajar dengan tanah
lainnya. Lama-kelamaan, kedua batu nisan beserta tanah kuburannya sedikit-demi
sedikit terangkat keeatas setinggi 20 cm, lalu ditutup dengan ubin / porselin
keliling makam. Ternyata ini terus berlanjut, yakni terangkat keatas, dan
setiap tambah 20 cm lalu ditutup ubin-tegel / porselin, sampai keadaannya
sekarang setinggi 2 meter. Menurut tim peneliti, barangkali ini merupakan karomah
dari shohibul maqbaroh yang muncul setelah wafatnya.
Adapun nama pemilik makam, yakni The Kwan
Pao-Lie (disingkat The Kwan Lie) bergelar Syekh Abdul Qodir Muhammad, merupakan
hasil dari riyadhoh memohon petunjuk Alloh dan kontak batin yang
dilakukan oleh KH Toyib dan Timnya.
Persoalannya, siapa sebenarnya The Kwan
Lie? Menurut keterangan dari Bapak Abdurrahman (tetua desa Temukus, sekaligus
pengelola tanah makam), bahwa sejak jaman dulu orang-orang tua desa Temukus
tidak mengetahui secara jelas sejarahnya. Namun menurut cerita rakyat (legenda)
dari mulut ke mulut, bahwa bangsa Cina yang menjadi pemilik makam Keramat
Karang Rupit ini adalah seorang muslim yang sangat dekat dengan Prabu Erlangga
dari kerajaan Majapahit, bahkan menjadi salah satu pengawalnya yang sangat
setia. Dia bersama-sama dengan Prabu Erlangga pernah datang mengunjungi
raja-raja di Buleleng. Sewaktu akan pulang ke Jawa, Prabu Erlangga menyuruh
bangsa Cina beserta isterinya agar tetap tingal di desa Temukus untuk menjaga
busana / pakaian sang Prabu. Sementara sang Prabu sendiri pulang ke Jawa naik
perahu dengan menyamar mengenakan pakaian rakyat biasa. Tidak diketahui apa
motif sang Prabu melakukan hal itu, yang jelas sang Prabu tidak kembali lagi ke
Temukus, sampai kedua suami-isteri tersebut wafat dan dikuburkan secara Islam di
Temukus.
Sedangkan menurut kajian shohibul
hikayah (KH Toyib dan Tim) bahwa nama tersebut “mirip” dengan
nama Lie Guan Hien dan Pai Lie Bang,
yakni murid sunan Gunung Jati di Cina yang menjadi pengawal putri Cina “Ong
Tien” yang ingin menemui Sunan Gunung Jati untuk dinikahi.7) Nama “Lie Guan” dan “Pai Lei” (dengan
membuang akhiran Hien dan Bang) terdengar secara batiniah / sirri berbunyi :
The Kwan Pau Lie, disingkat The Kwan Lie.
Shohibul hikayah
menambahkan, bahwa The Kwan Lie bersama-sama dengan Prabu Erlangga pernah
mengunjungi keraton Cirebon
yang didirikan oleh Sunan Gunung Jati. The Kwan Lie sempat bertemu dan berguru
agama Islam kepada Sunan Gunung Jati. Atau setidak-tidaknya, dia adalah salah
satu murid Sunan Gunung Jati yang taat dan tekun menjalankan ajaran Islam,
sekalipun rajanya, Prabu Erlangga, beragama Hindu.8) Oleh karena ketaatan dalam menjalankan
perintah agama Islam dan perintah rajanya itulah yang mengantarkannya menjadi
seorang Waliyyulloh di Buleleng. Wallohu A’lam bis-showab.