![]() |
Keramat Pantai Seseh : Pangeran Mas Sepuh |
Makam Keramat Pantai Seseh
merupakan makam milik Raden Amangkuningrat yang bergelar Pangeran Mas Sepuh.
Nama lainnya Pangeran Sepuh Choirussoleh.
Lokasinya di tepi
Pantai Seseh desa Munggu, kecamatan Mengwi, kabupaten Badung. Tepatnya 6-7 km
dari sebelah timur Pura Agung Tanah Lot. Jarak antara Pantai Seseh dan Jalan
Raya Tabanan—Denpasar ± 15 km. Makam ini pada tahun 1992 dirawat oleh seorang
pendeta Hindu bernama Wayan Catri, yang diwarisi secara turun temurun dari
kakek-kakeknya.
SEJARAH TOKOH
Manurut keterangan yang diperoleh dari
bapak Mangku atau Juru kunci makam Keramat Seseh (I Wayan Catri), bahwa
Pangeran Mas Sepuh merupakan putra Raja Mengwi pertama yang bernama Ida
Cocordo I Mengwi (beragama Hindu) dengan ibu seorang putri dari kraton
Blambangan-Banyuwangi (beragama Islam).1)
Sejak ibunya hamil, sang ayah (Ida Cocordo I) meninggalkan Blambangan
dan kembali ke istananya di Mengwi. Sejak lahirnya putra Raja Mengwi yang
kemudian diberi nama Raden Amangkuningrat ini diasuh dan didik sendiri oleh
ibunya sampai menjelang dewasa dalam suasana kehidupan keluarga yang islami.
Setelah dewasa, Pangeran Mas Sepuh
menanyakan kepada ibunya tentang siapa jatidirinya dan siapa ayah kandung yang
sesungguhnya. Setelah mengetahui bahwa ayah kandungnya adalah seorang Raja di
kerajaan Mengwi, Pangeran Mas Sepuh lalu memohon izin kepada ibunya untuk
mencari ayah kandungnya tersebut, dengan tujuan untuk mencari pengakuan dari
kerajaan dan sekaligus ingin mengabdikan diri. Semula, sang ibu keberatan,
namun akhirnya diizinkan. Maka berangkatlah Pangeran Mas Sepuh berlayar dari Blambangan
dan mendarat di Pantai Seseh2) untuk menemui ayahnya di kraton Mengwi, dengan
diiringi oleh beberapa pengawal dari Blambangan dan dibekali ibunya sebilah
keris pusaka kerajaan Mengwi yang diberikan sang ayah kepada ibunya sebelum
meninggalkan Blambangan. Setelah bertemu dengan ayahnya, terjadilah
kesalahpahaman diantara keduanya, karena mereka baru sekali bertemu.
Pangeran Mas Sepuh kemudian pulang
meninggalkan Mengwi dengan sangat menyesal. Sesampainya di Pantai Seseh untuk
bersiap-siap berlayar meninggalkan Mengwi, tiba-tiba rombongan Pangeran Mas
Sepuh diserang oleh sekelompok orang bersenjata tak dikenal, sehingga banyak
korban yang berjatuhan dari kedua belah pihak.
Melihat yang demikian itu, Pangeran Mas Sepuh berusaha menghentikan
penyerangan dengan cara mencabut keris pusakanya dan mengacungkannya ke atas.
Seketika itu terjadilah keajaiban, dari ujung kerisnya keluar sinar yang terang
benderang, dan kelompok penyerang mendadak menjadi lumpuh, tak mampu bergerak.
Selanjutnya Pangeran Mas Sepuh mencoba untuk mengorek tujuan dan motif mereka
menyerang : “Hai, Ki Sanak! Mengapa kalian menyerang kami? Apa salah kami? Dan
siapa yang menyuruh kalian menyerang kami?”. Mereka diam tak menjawab.
Sekalipun mereka tidak mengaku, tetapi dengan memperhatikan pola pakaian yang
mereka pakai, Pangeran Mas Sepuh kemudian dapat menyimpulkan bahwa mereka masih
ada hubungannya dengan perintah istana. Untuk itu Pangeran Mas Sepuh memaafkan
mereka dan cepat-cepat memasukkan keris pusakanya kedalam karangkanya dan kelompok
penyerang tiba-tiba dapat bergerak dan langsung memberi hormat kepadanya. Tidak
lama setelah kejadian tersebut, Pangeran Mas Sepuh tiba-tiba wafat dan
dimakamkan di tempat itu juga.
![]() |
Dialog dengan Juru Kunci Keramat Pantai Seseh |
Oleh pihak kerajaan Mengwi, makamnya
diserahkan perawatan dan kebersihannya kepada seorang pendeta Hindu sebagai
juru kunci atau pemangku makam secara turun temurun. Ini menunjukkan adanya
perhatian dari pihak kerajaan untuk perawatan makam keramat Pantai Seseh, dan
sekaligus sebagai pengakuan bahwa pemilik makam yang bergelar “Pangeran mas
Sepuh” tersebut merupakan putra dalem atau keluarga Raja Mengwi.
Sekalipun makam ini berada di desa Munggu
yang mayoritas penduduknya beragama Hindu dan bahkan juru kuncinya pun bukan
orang Islam, akan tetapi toleransi, penghormatan dan penghargaan mereka terhadap keberadaan makam keramat
Pantai Seseh sangat tinggi. Hal ini ditunjukkan oleh kehadiran masyarakat Hindu
yang bersama-sama dengan kaum muslimin luar daerah di makam keramat ini setiap
“Rebo Kasan”, yakni hari Rabu akhir bulan Shafar, baik sekedar
berziarah, maupun kirim doa ataupun ingin memperoleh terkabulnya hajat dengan
cara dan ritualnya sendiri-sendiri. Toleransi, penghormatan dan penghargaan
yang begitu tinggi juga ditunjukkan oleh pamengku atau juru kunci makam yang dijabat
oleh seorang pendeta Hindu, I Wayan Catri. Para peziarah “Walipitu” yang
datang disambutnya dengan sangat ramah dan penuh penghormatan. Semua pertanyaan
para peziarah tentang kisah, sejarah, mitos dan informasi (jalan, lokasi, akses
jalan, parker kendaraan dll) akan ditanggapi secara jujur dan apa adanya.
Proses penemuan Makam.
Makam ini ditemukan pada tahun 1992 (Muharram 1413 H), berawal dari informasi
seorang tua tak dikenal kepada sdr. Zaenul ketika selesai sholat Jum’at di Masjid
Ukhuwwah Denpasar, bahwa di sekitar wilayah Pura Agung Tanah Lot ada satu
makam tua Islam yang dikeramatkan masyarakat. Informasi ini ditindaklanjuti
oleh sdr. Zaenul bersama sdr. Sulkan, kemudian ditelusuri dan akhirnya berhasil
ditemukan lokasinya. Hampir bersamaan dengan itu, KH Toyib Zaen Arifin di Waru
Sidoarjo juga memperoleh informasi melalui ilham atau hatif dalam
riyadhohnya 3).
Setelah ditemukannya makam Walipitu
ke-1 di atas, kemudian ditemukan 2 makam keramat lainnya di kota Denpasar,
yakni : 1) Makam keramat Pamecutan, milik Gusti Ayu Made Rai, alias
Raden Ayu Siti Khotijah di Jln. Batu Karu Pamecutan Kota Denpasar Barat, dan 2)
Makam keramat Pangeran Sosorodiningrat dari Mataram Islam di desa Ubung,
dekat terminal Bus kota Denpasar. Menurut Tim penelusuran dan penelitian
Walipitu, kedua tokoh ini tidak termasuk hitungan Walipitu Bali.
_________________________
1 ). Didalam buku “Babad Kerajaan Buleleng“ diceritakan, bahwa
Raja Buleleng I Gusti Ngurah Panji Sakti meminta bantuan kepada Raja Tabanan
dan Raja Mengwi untuk merebut kembali kerajaan Blambangan yang lepas dari
tangannya, Pada tahun + 1600 M, angkatan perang ketiga kerajaan
berangkat memerangi kerajaan Blambangan. Penguasa Blambangan, kakak-beradik :
Ki Dewa Mas Sedah dan Ki Dewa Mas Pahit berhasil dibunuh oleh Raja Buleleng
dan Mengwi, sehingga kerajaan Blambangan dapat direbut kembali dan hasil
rampasan perang dibagi-bagi. Diantara hasil rampasan tersebut terdapat
seorang putri Blambangan yang beragama Islam, yang diberikan kepada Raja
Mengwi dan dijadikan sebagai istri panjeruhan atau isteri selirnya, namun
tetap tinggal di Kraton Blambangan sampai hamil dan melahirkan seorang lelaki
yang kemudian diberi nama Raden Amangkuningrat
2 ) Menurut mitos
yang berkembang di masyarakat, seperti yang dituturkan oleh Bapak Mangu I
Wayan Catri, Juru Kunci makam Keramat Seseh,
bahwa pelayaran rombongan Raden Amangkuningrat ke Mengwi adalah dengan
mengendarai “ikan”.
3 ) Bunyi
ilham/hatif : “Ono sawijining pepunden ono ing telatah susunaning siti
sesandingan pamujaan agung kang manggon saduwuring tirto kang kaderbeni
dening suwitaning Pandito. Ojo sumelang“ (Ada satu makam di daerah Tanah
Lot, sejajar dengan Pura Agung yang berada diatas air, yang dirawat oleh
seorang pendeta. Kamu jangan ragu-ragu)