Rabu, 30 Juli 2014

MJIB - 41. Mengenal beberapa Kampung Muslim di Kab. Bangli Bali

________________________
Oleh : Dhurorudin Mashad


Muslim di Kota Bangli

Pagi menguasai mayapada.  Sinar mentari  masih malu-malu menampakkan dirinya. Awan tipis bergerak berarak, sesekali sempat menutupi sang surya. Saya dan teman-teman sepagi itu sudah menapak bumi Bangli,  salah satu kabupaten di tanah Bali. Di lokasi ini sekali lagi,  saya ingin melanjutkan silaturrahmi ke kampung-kampung  Muslim.
“Alhamdulillah”,  desisku dengan suara pelan, nyaris tak kedengaran. Mobil kami berhenti tepat di sebuah warung makan. Di depannya terpampang tulisan  besar:  Depot Muslim. Dari tulisan ini ada dua pesan yang dapat kutangkap: pertama, pemilik warung hampir pasti berasal dari Jawa Timur. Sebab,  istilah depot  yang saya tahu memang dipergunakan orang-orang dari ujung timur pulau Jawa.  Kedua,  menu yang disajikan di warung dijamin halal bagi setiap muslim.
Hups…jangan berprasangka dulu, ya… Dalam hal ini,  saya sama sekali tak bermaksud mengembangkan primordialisme agama dan atau daerah: hanya mau beli di toko milik Muslim dan atau dari Jawa. Bahkan, sebelum masuk ke depot saja, saya telah mampir dulu ke toko warung Bali–Hindu untuk beli sesuatu.  Bagaimana saya tahu,  toko itu milik orang Hindu ? Gampang untuk mengenalinya.  Pertama,  di depan warung terdapat rangkaian wadah janur kecil berisi bunga dan atau beras persembahan (seingatku bernama canangsari). Kedua, di setiap rumah/toko orang Hindu “pasti” di depannya terdapat tempat persembahyangan kecil (seingatku bernama sangga) yang diselimuti kain khas bali.  Ketiga, saya sempat ngobrol dengan pemiliknya yang ternyata memang asli Hindu Bali. Bahkan,  sampai hari kelima di Bali,  saya lebih sering belanja di toko-toko orang Hindu-Bali untuk berbagai keperluan sehari-hari.
Hanya khusus untuk makan,  di wilayah manapun ketika Muslim minoritas –termasuk di Bali– saya memang harus meyakinkan diri menyantap makanan halal: halal dalam zat nya (bukan barang najis,  seperti mengandung babi dll) maupun dalam proses pengolahannya (termasuk sembelihan secara Islam).  “Di Bali ini,  meskipun disebut Restoran Padang,  Warung Soto Kudus,  atau apapun sebutannya,  jika tidak secara eksplisit dinyatakan: rumah makan Muslim,  atau rumah makan Halal, maka hati-hati untuk mampir makan.  Sebab,  belum tentu dijamin halal”,  kata pak Hasan Bick beberapa kali mengingatkan.  Nah,  berbekal label  “Depot Muslim” itu,  saya dkk. langsung masuk depot dengan penuh keyakinan.
Alhamdulillah,  berbekal ngobrol ringan dengan  pemilik warung yang ternyata asli Madura itu saya dapat gambaran awal tentang kantong-kantong Muslim di kota Bangli. “Dibanding wilayah lain di Bali,  Muslim Bangli terhitung paling kecil”,   jelas ibu pemilik Depot, “Di Bangli kota ada beberapa kantong komunitas Muslim,  seperti di Bebalang, banjar Blumbang, banjar Kawan, dan banjar  Cempage (Cempaka ?).  Ada juga komunitas Muslim lebih besar jumlahnya,  tetapi berada di  luar kota, yakni Kintamani. Selain itu ada pula muslim di pegunungan terpencil,  namun kecil sekali jumlahnya”.
Setelah saya mengecek data dari BPS,   jumlah Muslim di Bangli memang hanya  2.573 jiwa (Bali Dalam Angka,  2010).  Jumlah tersebut tersebar  terutama di empat kecamatan, yakni: Kecamatan Susut ada 158 jiwa,  Kecamatan Bangli terdapat 1.475 jiwa,  Kecamatan Tembuku  ada 9 jiwa, dan di Kintamani tercatat 931 jiwa.   Dari data tersebut tampak betapa jumlah Muslim sangat kecil,  apalagi dibanding komunitas Hindu yang mencapai 195.825 jiwa.  Jika dihitung dalam prosentase,  maka jumlah muslim hanya 1, 29 prosen dari  seluruh penduduk yang mencapai 199.229 jiwa.  Namun,  jumlah itu tetap lebih banyak dibanding kaum Protestan/Katolik yang hanya 0,22 persen,  apalagi Budha yang  cuma 0, 19 persen.
Untuk menampung acara peribadatan seluruh muslim Bangli,   mereka (berdasar data BPS tahun 2009) telah memiliki tiga masjid  yakni satu di Bangli dan dua di Kintamani.  Sementara untuk musholla,  di Susut ada satu dan di Bangli ada 5 buah musholla.
Berbekal informasi dari ibu Madura tadi dan ditambah data awal dari BPS Bangli,  saya dkk. berarak menuju komunitas muslim di banjar Bebalang guna mencari informasi tentang kehidupan Muslim khususnya di Bangli kota. Sampai di lokasi,  kami langsung menuju ke sebuah masjid besar, yang ternyata masjid Agung Bangli.  “Dalam pemilu kada terakhir di Bangli,  jumlah pemilih muslim tercatat 1300 jiwa. Jika ditambah dengan anak-anak di bawah 17 tahun,  maka jumlah Muslim Bangli paling sekitar 3000 jiwa”,   jelas seorang tokoh Muslim Bangli,  H. Lukman yang berhasil saya jumpai. Penjelasan itu tidak jauh berbeda dari data BPS yang mencatat sekitar 2.573. Jika ditambah dengan orang muslim yang hanya memiliki Kipem (Kartu Identitas Penduduk Musiman) atau bahkan tidak tercatat,  maka jumlah 3.000 jiwa tidaklah terlalu kebesaran.
Secara umum tercatat bahwa sejarah perkembangan komunitas Muslim Bangli dimulai sekitar tahun 1970-1980an. H. Lukman misalnya,  diajak orang tuanya, Muhammad Husin,  pindah dari Banyuwangi ke Bangli pada Juni 1976.  Kala itu di kota Bangli baru ada sekitar 12 KK Muslim. “Itupun kadar keagamaannya tidak jelas. Mereka hobi main judi, ikut sajen (adu ayam),  tidak jum’atan apalagi shalat lima waktu”,  tandas H. Lukman.  Jumlah tersebut sedikit berkembang, ketika datang Muslim lain dari aneka daerah. Mereka kebanyakan tugas sebagai PNS atau polisi,  sehingga tinggalnya pun di asrama polisi. Bersama mereka inilah orang tua saya lantas membentuk komunitas  Ikatan Keluarga Islam Bangli (IKIP) dengan diketuai R. Sumardi. Di tahun 1976 itu pula mulai digagas untuk membangun masjid. Kalau soal kuburan, sejak awal tak ada persoalan,  sebab memang sudah ada tanah kubur peninggalan Belanda. Setelah tanah berhasil didapatkan,  setahun berikutnya masjid pun pelan tapi pasti mulai didirikan.  “Waktu itu Kapolres nya pak Suseno PBA  dan Kajarinya Makmur Hadi.  Keduanya muslim”,  kenang H. Lukman.
Komunitas muslim di perkotaan Bangli mulai membesar,  terutama mulai tahun 1986, ketika para pedagang mulai masuk.  Bahkan, untuk menampung kebutuhan peribadatan masjid yang letaknya di Bebalang itu pun akhirnya tahun 1997 direnovasi hingga keberadaannya berkembang sampai sekarang menjadi masjid agung.
Di era kekinian,  komunitas Muslim khusus di sekitar Bangli kota memang tidak begitu banyak.  Keberadaan mereka terutama tersebar di empat banjar :  Bebalang,  banjar Blumbang, banjar Kawan, dan banjar Cempage,    serta sebagian lain tersebar di banyak tempat. Untuk mengikat silaturrahmi antar muslim,  telah dibentuk sekitar 14 majlis taklim, yang mencakup kecamatan Susut, kecamatan Kota, dan  Cempage. Khusus pada setiap malam Jum’at para ketua majlis taklim bersilaturrahmi di mesjid Agung di Bebalang. “Sebenarnya,  umat Islam Bangli juga memiliki sebuah masjid masjid Jami’ di kecamatan Kintamini, jauh dari kota. Selain itu masih ada beberapa musholla:  di Blumbang ada 3, di Bebalang ada 4,  sementara di Cempage,  di banjar Kawang,  dan di Susut masing-masing  punya 1 musholla”,  kata H.  Luqman menambahkan.
Berbeda dengan wilayah lain di Bali,  di  kabupaten Bangli  umat Islam tidak memiliki kampung muslim,  kecuali hanya di Kecamatan Kintamani. Kantong komunitas muslim memang ada di beberapa tempat,  tetapi tidak sampai “dilegitimasi” sebagai Kampung Muslim. Di seluruh wilayah Bangli,  komunitas muslim berada di dalam banjar adat. Dengan posisi ini,  setidaknya ada beberapa konsekuensi penting yang harus dihadapi:
Pertama, kepada komunitas muslim dikenakan pungutan-pungutan dengan alasan adat, yang tentu saja penggunaannya untuk keperluan adat Hindu-Bali. Hal ini berlaku di semua  komunitas Muslim di kota Bangli,  kecuali hanya di sekitar masjid Agung dimana  umat Islam tidak kena aturan adat.  Pengenaan adat dalam konteks ini bukan karena tanah yang ditempati merupakan bagian dari tanah adat.  Di Bebalang misalnya,  umat Islam tidak ada yang menempati tanah adat,  tetapi  tanah hak milik  asli yang telah dibeli. Meski demikian,  secara kewilayahan komunitas Islam tetap disebut tercakup dalam wilayah adat banjar tertentu,  sehingga harus membayar iuran untuk kepentingan adat. “Khusus untuk tanah adat aturannya beda lagi, karena sewa tanahnya tanah adat, bayar sewanya ke adat. Biasanya 7 bulan sekali, yakni waktu perayaan pura, penyewa harus bayar ke adat”, tambah H. Luqman.
Kedua,  terkait keterlibatan umat dalam kegiatan adat yang tentu saja memiliki substansi kehinduan. Bagi umat Islam,  realitas ini menjadi sangat problematic.  Namun,  melalui tokoh-tokoh Islam yang terlibat dalam Forum Komunikasi Antar Umat Beragama,  problem itu lantas didiskusikan bahkan disampaikan kepada Bupati.  “Bahwa umat Islam memiliki prinsip Hablum minallah (hubungan dengan tuhan) dan hablum minanas (hubungan antar sesama manusia). Untuk hablum minannasnya silahkan umat Islam diajak kerja bakti bersama.  Tetapi khusus hablum minaullah, urusan peribadatan, kita ga bisa.  Mereka mau atur, tetapi kita punya waktu sendiri yang tidak bisa mereka atur.  Persoalan ini masih   dalam proses”,   kata H. Luqman.
Ketiga, karena berada di banjar adat, maka kalau ada persoalan-persoalan tentu akan diselesaikan oleh adat. Jika seorang Muslim mati misalnya,  harus lapor ke banjar adat. “Banyak problem terkait dengan soal ini. Misalnya, ketika kematian bersamaan waktu dengan ada upacara adat, maka pemakaman harus menunggu setelah upacara adat selesai.  Umat Islam bisa juga terpaksa mensiasati pemakamannya, misalnya dilakukan pada jam 10 malam. Problem lainnya,  walaupun si muslim punya rumah,  tetapi mayat tidak boleh ditaruh rumah. Akhirnya,  terpaksa disiasati mayat ditaruh dimasjid,  setelah itu langsung dikubur agar tidak terjadi konflik”,  jelas H. Lukman.
Namun, secara umum kehidupan Muslim di Bangli sangat aman dan nyaman. Terutama,  menurut H. Luqman mantan ketua MUI Bangli,  karena ada ikatan emosional dimana para   kelian adat adalah teman-teman sepermainan diwaktu muda. Apalagi,  di Bangli tokoh muslimnya menetap, tidak pindah-pindah,  sehingga silaturrahmi dengan tokoh-tokoh Hindu lokal bersambung terus.
Dari berbagai informasi yang berhasil saya peroleh,   secara umum memang dikatakan bahwa:  sebenarnya orang Hindu Bali di Bangli  sejak dahulu bersikap sangat baik terhadap umat Islam,   muslim asli maupun pendatang.  “Dahulu kalau takbir lebaran,  kita keliling. Mereka kaum Hindu keluar menonton di pinggir jalan,  ketawa-ketawa,  tangannya dada-dada. Harmonis sekali. Dahulu kita tahlilan selamatan mereka ikut bersila, harmonis betul dulu. Tahun 1980 an harmonis sekali”,  kata H. Luqman membenarkan.
Baru sekitar sepuluh tahun terakhir ini saja,  mulai sedikit ada problem. Setelah bom Bali meletus,  sejak itulah mulai ada problem. Mereka,  yang umumnya anak muda dn tak tahu sejarah,  melihat semua orang  Islam sebagai pendatang. Padahal,  “anak saya lahir di Bali, saya dengan anak yang sudah berumur 30 tahun. Berarti,  justru lebih lama saya menginjak Bali ini, dibanding orang Hindu yang muda-muda itu.  Tapi sampai sekarang ini konotasinya masih dianggap belum orang  Bali. Sekarang konotasinya kita nomaden : di Jawa ndak dianggap orang Jawa,  di Bali ndak dianggap orang Bali”,  jelas H. Luqman,  “Jadi,  kadang-kadang lucu kalau saya bicara sama teman-teman di Parisade.  Di forum itu,  ketika kebetulan hari raya,  saya ditanya:  gak pulang ? Maksudnya apa ndak mudik ?  Jawab saya:  pulang ke mana ?  Lha wong saya ini orang Bali”.
Realitas inilah yang kini agak menjadi problem bagi umat Islam.   Meskipun lahir di Bali dan sudah turun temurun ada di Bali,  tetapi logika umum yang dibangun masih dianggap bukan orang Bali. “Jadi yang dianggap hanya yang beragama Hindu. Kalau diluar itu dianggap pendatang, walaupun lahir di Bali, hidup di Bali, sampai tua, sampai beranak cucu, tetap bukan orang Bali. Jadi  identitas Bali adalah Hindu. Kalau diluar itu tidak kategori orang Bali. Logika seperti ini perlu dibenahi”,   Kata H. Luqman mengakhiri penjelasan.
Udara masih temaram.  Mendung menggelayut di angkasa.  Meski siang hari,  tapi mentari tidak kunjung menampakkan diri.  Setelah mendapat banyak informasi dari tokoh-tokoh Muslim –juga Hindu– di Bangli,  kami masih menyempatkan waktu mengelilingi kota Bangli, terutama menyusuri  lokasi-lokasi komunitas muslim yang jumlahnya terhitung masih sedikit sekali.  Rinai turun ke bumi,   tetapi hati kami bernyanyi,   mensyukuri nikmat Ilahi yang tak terperi.***


Sudihati, Kampung Muslim di Kintamani

Danau Kintamani
Esuk Hari. Sinar mentari tampak berseri-seri. Setelah sehari sebelumnya saya menghabiskan waktu menyusuri kota Bangli, Silaturrahim ke komunitas Muslim di wilayah kota ini, hari berikutnya bersiap menuju kecamatan Kintamani. Sebagaimana mentari, wajah Pak Hasan yang akan mengantar ke lokasi juga tampak berseri. “Kita menuju tempat wisata yang super Indah”, kata pak Hasan membangkitkan penasaran di hati.
Kintamani dikenal wisatawan dunia dengan Gunung Batur dan Danau Baturnya. Posisi Kintamani sekitar 100 meter di atas permukaan laut, dihiasi oleh sawah dan pemandangan mempesona. Sedangkan, gunung Baturnya sendiri yang terakhir aktif di tahun 1926 tingginya sekitar 1.750 meter dari permukaan laut. Kompleks Batur sungguh digambarkan sebagai salah satu panorama terbaik di mayapada. Danau Batur merupakan sumber utama air irigasi bagi wilayah Bali bagian selatan dan timur. Di pantai barat Toyah Bungkah, dikelilingi landskap vulkanik secara mencolok menjadi tempat ideal untuk memancing dan berenang. Selain itu ada pula sumber air panas yang menantang untuk dikunjungi. Belum lagi desa Trunyan, terletak di panti timur laut Danau Batur, sebuah lokasi dengan adat Bali Mula alias Bali Aga (Bali asli) membuat pelancong penasaran untuk menapaki. Maklum, di tempat ini konon terdapat mayat-mayat yang tak dibakar (seperti kepercayaan Hindu) ataupun dikubur, melainkan dibiarkan tergelatak di tanah saja. Namun , konon –anehnya—tidak tercium bau busuk. Benarkah ? Wallahu a’lam, sebab saya memang tak mengagendakan mendatangi lokasi ini. Trunyan hanya dapat diakses oleh perjalanan perahu selama 30 menit, berangkat dari desa Kedisan di sisi selatan danau .
Seluruh lekak lekuk Kintamani katanya memang menjadi obyek plesiran yang cukup menarik dikunjungi. Oleh karena itu, sebagaimana mentari dan pak Hasan yang berseri-seri, hati saya dkk pun ikut berseri-seri menuju Kintamani. Di Kintamani inilah terdapat sebuah komunitas Muslim dengan nama Kampung Sudihati. “Dulu namanya Kampung Islam, tetapi akhirnya diubah menjadi Sudihati. Alasan pergantian karena mengikuti aturan dari pemerintah daerah”, jelas H. Husain, seorang tokoh Sudihati. “Kampung ini sudah menjadi dusun definitif. Dan kami telah memiliki hak pilih tetap sejak tahun 1985. Bahkan, kalau ada pemilihan kepala desa, kita sebenarnya punya hak mencalonkan juga. Sudihati merupakan satu dari delapan dusun yang ada”.
Penghuni Kampung Sudihati semuanya muslim. Pembinaan keagamaan intensif dilakukan sejak tahun 1981: mengaji Al Qur’an serta pengajian malam Jum’at. Bahkan, di tahun yang sama didirikan yayasan dan sebuah sekolah diniah, di atas sebidang tanah sewa (milik desa) secara oper sewa (dengan dibeli) dari orang Islam juga. Tanah sewa adalah tanah miliki desa, tetapi dipergunakan umat Islam Sudihati, di bawah pemeliharaan kampung Sudihati, dengan tiap tahun membayar sewa kepada desa dengan nilai sekedar simbolitas belaka.
Secara cultural komunitas Sudihati menganut paham Nahdliyyin bertipe Madura. Oleh karena itu, seperti kaum Madura pada umumnya, mereka cenderung menolak kedatangan aliran-aliran baru. “Karena ini pernah kejadian, shalat taraweh bubar. Waktu itu imamnya mantan pimpinan KUA, Abdurrahman, seorang Muhammadiyah. Karena disini shalat taraweh biasa 23 rakaat dikurangi jadi 11 rekaat. Akhirnya semua bingung, kok sudah selesai cepat sekali. Besoknya ribut warga. Akhirnya dikembalikan seperti sedia kala, 23 rakaat. Heboh. Ya betul, karena sudah membudaya dari Madura, Jawa Timur. Itu masalahnya. Jadi Muhamadiyah –apalagi aliran lain– tidak bisa masuk di Sudihati”, kata H. Husain sambil tertawa kecil.
Secara ekonomi, komunitas Islam terhitung berkecukupan. “Orang Sudihati-Kintamani hampir 90 persennya pedagang. Dagang sate dan macam-macam lainnya. Sebagian ada Guru atau PNS kiriman”, tambah H. Sulkan, tokoh Islam lainnya di Sudihati. Karena umumnya umat Islam bergerak di sector perdagangan, implikasinya restoran di wilayah Kintamani umumnya juga dijamin halal. Sebab, restoran mengambil daging sapi maupun ayam juga dari kalangan Islam. Daging ayam misalnya, dari H.Ali. Jadi seperti restauran Batursari atau Puncaksari dijamin halal. Restoran Kintamani juga ada, yang punya bahkan orang Jawa. Tetapi dia kalah ramai dibanding Grand Puncak dan Grand Kintamani. Para penjual bakso juga hampir semua muslim. Hanya satu dua yang tidak ada label, biasanya punya orang Hindu Bali.
Bagaimanakah sejarah asal usul kampung muslim Sudihati ?. Kampung itu dimulai tahun 1935, oleh empat pasang suami-istri: bapak Diye, bapak Tumah, bapak Saefudin, dan bapak Abdul Kadir. Mereka dari Madura untuk berjualan sate, kecuali Kadir asal Surabaya sebagai penjual Bandeng. Setahun berikutnya datang, Abdul Kamrah, asli Lombok pegawai kehutanan. “Dengan modal papan pemberian pak Abdul Kamrah mereka lantas membuat musholla, tepat di lokasi masjid ini”, jelas H. Husain. Keempat KK inilah yang akhirnya beranak pinak di sudut Kintamani.
Pada tahun 1970 an beberapa muslim datang lagi ke tempat ini, yakni: 3 KK dari Jawa dan 20 KK dari Madura. Pak Husain (asal Banyuwangi) sendiri juga datang di tahun 1970, setelah sebelumnya sempat di Bali Beach menjadi tenaga teknik lalu pindah ke Singaraja sampai 1970. Di tahun 2011 jumlah Muslim Sudihati mencapai 153 KK, 603 jiwa, serta yang memiliki hak pilih mencapai 402 orang.

Musholla yang dibangun tahun 1936 dikembangkan menjadi masjid (jami’). Semula masjid tidak memiliki nama, tetapi di tahun 1970 atas kesepakatan bersama diberi nama Masjid Al Muhajirin, sekaligus dibentuk pengurus dengan Ketua: H. Husain, Sekretaris: Kasim (mantan camat), bendahara: putranya Abdul Kadir, Agus Iskandar. Di tahun 1980 masjid dipugar dan dilengkapi alat pengeras suara atas bantuan dari Jakarta (Ibu Tien Soeharto) sebesar 250 juta.


Masjid Al-Muhajirin Kintamani Bangli
Tanah masjid dan sekitarnya semula hanya sewa. “Tetapi, akhirnya diberikan kepada seorang veteran etnis Madura, Saefudin oleh Wayan Jingge (seorang Hindu), sebagai tanda penghargaan bahwa Syaefuddin telah ikut berjuang dalam perang kemerdekaan di bawah pimpinan I Gusti Ngurah Rai. Tanah ini diberikan untuk tempat ibadah dan kuburan”, kenang H. Sulhan. Memang, tanah hibah yang kala itu dilegalisir camat Made Ringin tidak luas, tetapi statusnya sudah kuat sebagai tanah wakaf. Adapun tanah pemukiman sekitar masjid yang ditempati umat Islam sampai kini masih merupakan tanah desa/adat. Umat Islam punya hak pakai/sewa dengan membayar pajak (sewa) setiap tahunnya.
Semula pembayaran sewa berupa beras dan janur kelapa. Tetapi melalui kesepakatan, akhirnya diganti uang secara tahunan (bukan perbulan) sehingga lebih tepat disebut uang pajak dibanding sewa. “Pertahun per KK dikenakan 50 ribu, yang diberikan ke kas adat”, jelas H. Husain. Uang itu dapat dikatakan sekedar simbolitas, sebagai silaturrahmi terhadap adat mereka, sebab umat Islam tidak ikut ke Pura.
Perlu diketahui bahwa di Bali tanah ada tiga penggunaan: parahyangan, pawongan, pelemahan. Umat Islam hanya terkait palemahan, sehingga untuk pawongan (yang intern Hindu) umat Islam cukup mengganti dengan pajak (sewa) tadi. Sebetulnya yang dikenakan kepada komunitas Islam namanya janur busung, janur sama beras 5 kg pertahun. “Tetapi agar tidak repot akhirnya diuangkan. Pertama kali 6 ribu rupiah, lalu naik lama-lama menjadi 20 ribu, dan baru dua tahun menjadi 50 ribu rupiah. Penilaian kenaikan dilakukan oleh adat”, jelas H. Sulhan.
Hubungan umat Islam – umat Hindu relatif berjalan baik. Kalau ada pembangunan pura desa, warga kampung Islam sebenarnya tidak pernah dimintai iuran. Namun, mereka biasanya partisipasi dengan sumbangan sukarela kepada panitia. Jika kepala dusun Islam punya hajat, senantiasa mengundang tokoh-tokoh Hindu, demikian pula sebaliknya. Orang Hindu yang mengundang kalangan Islam biasanya membawa tukang masak dari kalangan Islam agar tidak menimbulkan keraguan. Selain itu, kalau ada upacara adat (seperti upacara pertama kematian) ada perwakilan yang datang. “Yang penting orang desa tahu, ada warga kampung Muslim datang. Begitu pula sebaliknya. Bahkan pecalang pun ikut terlibat bila kita ada acara, seperti hari raya”, kata H. Husain. Semua generasi anak-anak Sudihati juga bisa berbahasa bali, realisasi dari identitas kebalian mereka. Dengan komunikasi seperti itulah, maka dalam konteks kerukunan antar umat, Sudihati menjadi percontohan di Bangli.
Selain itu ada hal istimewa yang membuat komunitas Hindu menjadi bersikap baik kepada umat Islam, yakni: di tahun 1981 kampung Sudihati membela warga Hindu Kintamani ketika berselisih dengan warga Hindu dari Batur Selatan. “Terjadi pada saat hari raya nyepi. Perselisihan akibat pelemparan ketika mengusung ogoh-ogoh. Massa dari Batur Selatan keluar mengancam Kintamani. Saat itu malam hari. Kaum tua Hindu Kintamani musyawarah, dan meminta bantuan dari kampung Islam Sudihati yang kebanyakan etnis Madura. Waktu itu sebenarnya belum apa-apa, tapi kita berinisiatif barang-barang berharga ditanam agar aman. Kerugian memang ada, terutama karena tidak sempat berjualan. Kita tampil, sehingga sampai bantuan sekian kompi dari Denpasar datang mengamankan. Kita sempat dijaga Brimob, dikira kita yang memulai”, cerita H. Husain mengenang peristiwa tiga decade lalu.
Solidaritas kintamani itulah yang menjadi factor lain dimana umat Hindu bersikap baik terhadap umat Islam. Bahkan setelah peristiwa itu hal-hal terkait administrasi pertanahan misalnya, segera diselesaikan, mungkin sebagai wujud penghargaan terhadap loyalitas kampung Muslim sebagai warga Kintamani. Makam muslim juga ditata, bahkan dewasa ini sudah ada pagar, ada pintu masuk alias gapura. “Makam kita nomer satu alias paling bagus. Bangli saja kalah sama makam kita”, kata H. Sulhan bangga.
Problem kecil tentu saja ada dalam konteks hubungan antar umat beragama. “Sebelum tahun 1980an misalnya, soal bedug di masjid. Saya sampai dipanggil sama kepala desa karena dianggap menyamai kulkul. Kami memberikan sosialisasi, pengertian, dan akhirnya dibolehkan”, Timpal H. Husein. Setelah bom Bali pun di Kintamani tidak ada problema berarti. Hanya intel saja yang kadang-kadang datang, bahkan sampai di tahun-tahun sekarang. Kalau ada masalah (teroris) di Jawa misalkan, Intel dan dari Polda biasanya datang menanyakan mungkin ada orang yang dua hari terakhir datang atau pindah. “Memang, (tempat ibadah) kita sempat terusik 10 tahun lau (menyusul peristiwa bom Bali) yakni ada pelemparan baru. Hal ini kita bawa sampai ke level kabupaten. Dari Trantip, Dandim, Kapolres, Pemda kabupaten, kala itu dikumpulkan, maunya di masjid tetapi saya tidak boleh karena lebih enak di kecamatan. Setelah dimusyawarahkan bersama, sampai kini tidak ada problem lagi”, timpal H. Sulhan.
Ada juga peristiwa lain, di dusun tidak jauh dari Sudihati. Pernah seorang pendatang muslim kencing berdiri, tidak tahu bahwa itu di tempat sangga. Orang itu dihajar massa bahkan hampir dibakar. “Saya membesarkan keberanian, datang ke pak Kades, komunikasi dalam konteks hukum karena si tersangka sudah satu dua hari tidak diberi makan. Akhirnya, lelaki yang sudah babak belur itu dibebaskan. Semua problema umat Islam yang datang ke sini tetap kita bantu, kecuali kalau masalah judi, saya tidak mau”. Agar umat Islam yang datang ke Kintamani tidak mengalami problema cultural, mereka disarankan tergabung dalam Perkumpulan Suka Duka Sudihati, termasuk ikut pengajian. Memang perkumpulan itu ada iurannya, namun dari sisi jumlah (lima ribu perbulan) tidak seberapa dibanding manfaatnya, terutama untuk mengatasi bila ada problema, seperti kasus kematian, problem penguburan, masalah ketidakpahaman adat, yang semuanya menjadi problematic ketika berhubungan dengan adat lokal. “Adanya adat. Desa adat, itu yang saya takutkan”, tandas H. Husain. “Aturan pemerintah lain dengan aturan adat. Cuma adat inilah sekarang di atas pemerintahan desa. Sekarang berubah seperti itu. Bupati saja kalah. Makanya saya tidak salut dengan otonomi daerah karena menjadikan raja-raja kecil. Bagi kami, raja-raja kecil jadi muncul semua akibat otonomi daerah”, tandas H. Husain.
` Di Kintamani sebenarya terdapat komunitas muslim lain selain Sudihati. Tetapi lokasinya agak terpencil dan jumlah penduduknya tidak banyak, yaitu di wilayah Kutuh. Mereka adalah kaum muallaf yang diislamkan oleh yayasan Sudihati di tahun 1982. Asal usul mereka sebenarnya dari Karangasem, datang ke Kutuh mengungsi dari letusan gunung Agung tahun 1963. Mereka asalnya muslim, semula hanya 2 KK. Ketika suaminya meninggal si wanita kawin lagi dengan orang Hindu dan beranak pinak. Di tahun 1982, ada seorang Hindu –belakangan berganti nama Ihsan– sakit-sakitan. Dia bermimpi yang intinya menjelaskan bahwa dahulu keluarganya adalah Islam. Orang inilah yang akhirnya menyatakan diri menjadi Islam, dan lantas diikuti anggota keluarga lainnya, sekitar 27 jiwa atau 7 KK. “Ada yang namanya pak Darma, Pak Suta. Saya suruh ganti namanya menjadi Ihsan. Dialah yang disunat di tahun 1981 ketika berusia 17 tahun, dan sekarang menjadi menantu pak H. Saad”, kenang H. Husain menerangkan. Komunitas ini lantas dibina ustadz Miyadi asal Karangasem yang memang ditugaskan Habib Adnan (MUI). “Masyarakat Kutuh secara ekonomi kurang. Kalau masjid Al Muhajirin ada kelebihan, fitrah-fitrah kita kirimkan. Lokasi mereka di atas gunung”, kata H. Husain mengakhiri penjelasan.
Seiring berakhirnya keterangan itu, saya dkk segera meluncur cari makan. Setelah menyantap sate Madura ala kampung Sudihati, kami sesaat menikmati panorama indah khas Kintamani. Dari lokasi ketinggian Kintamani, kami dapat melepas pandangan ke segala posisi. Memang, Kintamani sungguh elok menawan hati. ***


Pura Langgar Di Bunutin: Bukti Sejarah Islam Permulaan di Bangli

 

Pura Langgar di Bunutin
Selama penelusuran  di Kabupaten Bangli,  umumnya saya memperoleh informasi bahwa Muslim Bangli baru mulai berkembang di tahun 1970an.  Namun,  jika ditelusuri lebih mendalam sebenarnya eksistensi Muslim di Bangli sudah ada jauh sebelum era kemerdekaan.  Tercatat misalnya,  pernah ada seorang Muslim bernama Tengku Hasan yang berasal dari Aceh. Beliau datang ke Bangli karena lari dari kejaran Belanda,  sehingga orang ini sangat dihormati orang Bali yang juga anti kolonial.  Bahkan Tengku Hasan itu akhirnya kawin dengan orang Bali.  “Konon dia punya satu anak lelaki, Tengku Zaenudin, yang juga memiliki nama Bali Putu Badung. “Jadi,  keluarga Pak Putu Badung ini dipercaya sebagai muslim yang pertama kali tinggal di kota Bangli”,  jelas H. Lukman.
Bahkan,  untuk kabupaten Bangli secara keseluruhan,  sejarah kedatangan Muslim usianya jauh lebih tua dari eksistensi Tengku Hasan tadi. Eksistensi Pura Langgar di wilayah Bunutin misalnya,  menjadi bukti otentik dari kedatangan Islam. Langgar merupakan istilah khas Jawa Timur untuk menyebut masjid kecil alias musholla, tempat ibadah orang Islam.  Sedangkan,  pura merupakan tempat ibadah orang Hindu. Dengan demikian,  Pura Langgar merupakan refleksi  nama dari dua tempat peribadatan bagi dua komunitas agama: Hindu dan Islam.
Pura Langgar berada di Desa Bunutin, Kecamatan Bangli, Kabupaten Bangli. Rumah persembahyangan umat Hindu ini dikenal pula dengan nama Pura Dalem Jawa. Perlu waktu sekitar 15 menit melaju dengan kendaraan bermotor dari Kota Bangli ke arah selatan untuk sampai ke pura ini. Lokasinya di sisi Timur jalan raya,  lantas memasuki sebuah gang sekitar 100 meter.
Pura yang dikelola Puri Bunutin ini memiliki sisi sejarah sangat panjang, yang konon ada kaitannya dengan Kerajaan Blambangan tempo dulu. Bahkan, leluhur kalangan Puri Agung Bunutin juga berasal dari trah Raja Blambangan, Jawa Timur. Apa dan bagaimana sejarah keberadaan Pura Langgar ?
Kisahnya bermula dari sosok raja Bunutin yakni I Dewa Mas Wilis yang memiliki dua istri. Sang permaisuri (padmi) melahirkan dua putra:  Ida I Dewa Mas Blambangan dan Ida I Dewa Mas Bunutin. Dari istri penawing (selir) lahir : I Dewa Wayahan Mas, I Dewa Made Mas, dan I Dewa Nyoman Mas.  Ketika Mas Wilis turun tahta digantikan Mas Blambangan,  raja baru ini mendadak sakit parah usai penobatan. Penyakit berlarut-larut bahkan sampai lima tahun,  meskipun berbagai upaya pengobatan telah diupayakan.
Adik kandungnya,  Ida I Dewa Mas Bunutin, merasa iba lantas berinisiatif melakukan dewasraya di Mrajan Agung, melakukan yoga samadhi melalui seorang perantara (balian). Ketika mengalami kerauhan dari mulutnya keluar sabda, “Wahai Mas Blambangan, Mas Bunutin, dan semua yang ada. Aku Dewaning Selam yang bernama Tuhan Allah. Aku minta supaya dibuatkan pelinggih Langgar tempatmu sembahyang kepadaKu. Jika tidak , maka terus-menerus secara turun-temurun akan menderita sakit berat, walau tidak akan mati”.   Inti perintah itu adalah:  Mrajan Agung yang sudah ada perlu dilengkapi sebuah pura berbentuk langgar. Ini dianggap sebagai Pelinggih Ida Bhatara Dalem Blambangan untuk mewujudkan bhakti kepada kawitan. Jika tidak dibuatkan pelinggih berupa langgar, penyakit sang raja tidak akan sembuh. Raja Bunutin bakal menderita selamanya. Namun, jika dibuatkan langgar, penyakit beliau akan sembuh. Prosesnya tanpa obat. Jika kelak sehat, hidupnya akan selamat sejahtera, bahagia tanpa kekurangan apa pun. Namun, jika ada yang menolak membuat langgar kelak tidak akan selamat. Bahkan, mereka yang menolak ini dibayangkan akan turun wangsa kesatriaannya.
Tiga bersaudara dari ibu selir tidak setuju membangun langgar, serta siap menerima segala risikonya. Mereka menganggap permintaan membuat langgar dalam areal pura tidak sesuai ajaran Hindu. Namun, Raja Bunutin dan adiknya, Mas Bunutin, tetap membangun langgar, apalagi setelah direstui Raja Gelgel (sekarang masuk wilayah Klungkung).  Persetujuan Gelgel ini tidak terlalu aneh, sebab Gelgel sendiri memang memiliki rakyat –yang mengabdi kepada kerajaan– dari kalangan Muslim (yang tingggal di Kampung Gelgel) yang terjadi bahkan sejak Dalem Ketut Nglesir (sebelum 1460) dan Watu Renggong di tahun 1460-1550. Bahkan,  merujuk ke era Gelgel berarti pembangunan Langgar ini pun setidaknya terjadi  di tahun 1500 an juga.
Ketiga saudara yang tak sepakat (Wayahan Mas, I Dewa Made Mas dan I Dewa Nyoman Mas) terhadap pembangunan Langgar akhirnya dipanggil untuk tinggal di Puri Gelgel. Namun, ketiga orang itu akhirnya dituduh bersekongkol saat terjadi aksi kudeta yang diotaki lima patih Kerajaan Gelgel (yakni: Kyai Batan Jeruk, I Gusti Tusan, I Gusti Abian Nangka, I Gusti Bebengan, dan I Dewa Anggungan). Para tersangka termasuk ketiga saudara seayah Mas Blambangan pun ikut hengkang. I Dewa Wayahan Mas lari ke Desa Abian Bambang, Karangasem. I Dewa Made Mas lari ke Denbukit, Desa Banjar, Buleleng.  Sedangkan I Dewa Nyoman Mas memilih ke Tukad Unda. Bahkan,  jejak keturunan mereka akhirnya tak diketahui hingga kini.  Dengan demikian,  “sabda” dari Dewaning Selam terhadap siapa yang mengikuti perintahnya dan siapa yang mengingkarinya menjadi terbukti.  Jika pembangunan Langgar itu dirujukkan pada era pemberontakan di Gelgel (oleh Patih Batanjeruk) berarti peristiwa itu terjadi di tahun 1556 M. Dengan demikian,  usia Langgar itu sudah lebih dari 450 tahun.  Atas dasar sejarah itulah, maka secara turun-temurun keberadaan Pura Langgar mendapat penghormatan sangat  besar dari masyarakat Hindu di Bunutin hingga kini.
Namun,  ada versi yang agak berbeda terkait dengan kesembuhan sang Raja.   informasi alternatif menyebutkan bahwa raja yang sakit berhasil disembuhkan oleh seorang ulama Islam.  Bahkan, ulama ini akhirnya diangkat menjadi tabib kerajaan,  serta memberi pelayanan pengobatan pula kepada masyarakat setempat. Dialah pendiri bangunan langgar sebagai tempat ibadah keluarga dan para pengikutnya. Bahkan, ditempat itu pula,  akhirnya ia dimakamkan setelah wafatnya.  Langgar  itulah yang sampai kini tetap dihormati, oleh masyarakat Bunutin.  “Bangunan langgarnya memang sudah lama hilang. Mungkin bangunan dasarnya saja yang sama : yang kalau boleh kita katakan makam ya”,  kata H. Luqman yang pernah menjadi ketua MUI Bangli,   “Peninggalannya masih,  Batu tempat sujud malah dikeramatkan oleh mereka. Terus ada air kelembutan. Air kelembutan konon oleh aulia Islam dahulunya dipakai untuk wudhu. Kini air itu malah dipakai sebagai air suci. Mereka melestarikan pada jalur spiritual yang begitu ya”.
Terlepas versi mana yang lebih akurat,  setidaknya terkait dengan keberadaan Pura Langgar,  terdapat dua hal yang patut digarisbawahi:
Pertama, Realitas Pura Langgar di puri Bunutin menunjukkan bahwa eksistensi Muslim di Bangli sebenarnya sudah ada sangat lampau,  di tahun 1500 an, hanya saja memang terhenti atau tidak berkembang seperti di wilayah-wilyah lain di Bali.  Komunitas muslim Bangli baru berkembangkan lagi di tahun 1970-1980an.
Kedua, keberadaan Pura langgar menunjukkan adanya akulturasi yang bersifat kelampauan antara budaya Islam dengan Hindu. Akulturasi itu dipegang secara kukuh oleh orang Hindu Bangli sampai saat ini. Dalam  ritual upakara Galungan di Pura Langgar misalnya,  sesajen babi hanya boleh disajikan di Pura Dalem. Sajen babi tidak boleh di bawa ke Bale Agung, Kaler, dan Pajenengan. Bahkan, Banten atau sesajen satu-satunya di Bali yang diberi nama sajen selam hanya ada di Bangli. Selam adalah penyebutan Islam oleh lidah orang Hindu Bali. Karena disebut sajen selam,  maka yang disajikan hanya makanan-makanan yang tidak diharamkan orang Islam.
Masyarakat Hindu Bunutin secara umum terus merawat pura langgar dan mengikuti apa yang sudah jadi adat leluhur. Disitu yang boleh disajikan untuk tingkatan yang tertinggi harus itik. Babi tidak boleh, dan hanya dibolehkan di luar kawasan pura langgar. Memang,  untuk kawasan pura dibolehkan babi,  tetapi habis itu ke tempat yang paling suci yang disebut  pura langgar dia harus naik tangga lagi. “Nah di lingkungan yang tertutup ini, letaknya di  tengah-tengah,   berbagai hal yang dilarang Islam,  tidak boleh ada”,  terang H. Lukman. “Tempat utama atau tertinggi di pura itu biasa pula disebut utamaning Mandala. Dengan demikian,  justru lokasi langgar  itu yang dianggap paling suci oleh umat Hindu Bunutin”.
Bangunan yang disebut langgar itu memiliki ciri khas berundak dua,  berpintu empat,  serta atapnya bertingkat dua.  “Konon, dua tingkat atap dan dua undak itu melambangkan syariat dan tarekat dalam Islam.  “Syariat adalah hukum yang mengatur tata kehidupan dan peribadatan umat,  sedangkan tarekat adalah jalan menuju Tuhan”,  demikian penjelasan Ida I Dewa Ketut Raka,  sebagaimana saya kutib dari sebuah tulisan. Ida I Dewa Ketut Raka adalah penglisir Pura Langgar alias Pura Dalem Jawa ini. Sayang sekali saya tak sempat bertemu dengan penglisir itu,  dan hanya bertemu dengan bu Mangku,  sebab suaminya memang sudah meninggal.
“Silahkan masuk saja, pak” kata bu Mangku sangat ramah mempersilahkan, “Kebetulan kita lagi ada upacara rajekwesi”.  Namun,  saya terus terang merasa tidak nyaman untuk blusukan ke dalam,  takut mengganggu acara. Hanya dua temanku,  Hamdan dan Indri yang nekad masuk dengan syarat melilitkan selendang kuning ke pinggangnya.
Meski tidak ikut blusukan masuk,  banyak hal tetap bisa saya dapatkan dengan cara ngobrol dengan seorang ibu yang sedang sibuk mempersiapkan banten untuk upacara.  Ibu itu menjelaskan bahwa upacara rajekwesi merupakan proses ritual terhadap segala perabotan yang terbuat dari besi,  termasuk kendaraan,   agar semua tidak menimbulkan celaka,  tetapi justru membawa keberkahan bagi kehidupan mereka. “Umat Hindu di sini juga mengenal istilah Qurban,  seperti dalam Islam yang kita sebut dengan upacara titimamah dengan menggunakan pakelem berupa godel bang (merah).  Bedanya, jika umat Islam melakukan korban pada hari raya Idzul Adha,  maka upacara qurban di Pura Langgar dilaksanakan pada Tilem Sasih Kawulu,  atau sekitar bulan Pebruari”,  tambah ibu tadi.
“Pakelem berupa godel bang, itu apa maksudnya bu ?,  tanya saya tak mengerti. “Maksudnya, sapi muda berambut merah,  sebagai unsur alami yaitu untuk menjaga keselarasan kosmis.  Sapi adalah simbul dari bumi ibu karena semua bagiannya dapat digunakan untuk kepentingan manusia”,  tandas ibu itu mengakhiri penjelasannya. Sayang sekali,   saya lupa menanyakan namanya. Tetapi,  saya tentu tidak lupa untuk berterima kasih kepadanya.
Senja membayang.  Angin berhembus pelan.  Dengan laju pelan pak Hasan menyetir mobil menembus gerimis timis yang  terus membayangi kami dalam perjalanan.***



-----------------------------------
Sumber :
http://dhurorudin.wordpress.com/2012/03/05/muslim-di-kota-bangli-bali-tulisan-4/
http://dhurorudin.wordpress.com/2012/03/15/sudihati-kampung-muslim-di-kintamani-bangli-tulisan-5/
http://dhurorudin.wordpress.com/2012/04/05/pura-langgar-di-bunutin-bukti-sejarah-islam-permulaan-di-bangli-bali/



MJIB - 40. Mengenal Beberapa Kampung Muslim Gelgel di Kab. Klungkung Bali

______________________
Oleh : Dhurorudin Mashad


Kampung Muslim Gelgel


Saya sungguh beruntung,  karena di tahun 2011 ini berkesempatan mengunjungi kampung  Muslim Gelgel di Bali.  Saya sebut beruntung,  karena kunjungan spesial ke kampung muslim Bali ini tentu sangat jarang dilakukan oleh Muslim lain di Indonesia.  Mereka umumnya datang ke pulau dewata,  paling-paling hanya untuk berpiknik atau maksimal  untuk keperluan konferensi. Bahkan, apa dan bagaimana umat Islam di Bali mereka mungkin tidak  tahu atau bahkan tidak mau tahu.
Selama di Bali,  Saya (dan beberapa teman dari Jakarta)  didampingi oleh Ahsanuddin Biks (Bali Islam Candi Kuning).  Pak Ahsan –kami lebih suka memanggil Hasan—memang seorang muslim Bali asli. Dia berasal dari desa Candi Kuning di Baturiti/Bedugul Kabupaten Tabanan.  “Kaum Muslim asal Candi Kuning memang biasa menambahkan nama Biks ketika berhubungan dengan orang di luar Bali.  Sebagai identitas”,  jelas pak Hasan tentang sebutan Bick dibelakang namanya. 
Bersama Hasan Bicks inilah kami bersilaturrahmi mengunjungi kampung-kampung Muslim di pulau Dewata, termasuk khususnya kampung Gel-gel, cikal bakal komunitas muslim di negeri seribu pura ini.   Sedikit orang tahu bahwa meski dikenal sebagai pulau Dewata,  tetapi Bali sebenarnya menyimpan khasanah keislaman yang terhitung luar biasa.  Di seluruh pelosok negeri yang mayoritas Hindu itu,  terselip berbagai kampung Muslim yang berumur sangat tua dengan segala kultur yang ikut mewarnai spektrum sejarah negeri itu. Sejumlah komunitas Muslim di Bali antara lain tersebar di Banjar Saren Jawa di wilayah Desa Budakeling (Karangasem), Gelgel (Klungkung), Kepaon, Serangan (Kota Denpasar), Pegayaman (Buleleng) dan Loloan (Jembrana), dan masih banyak lagi kampung kampung lain yang penduduknya mayoritas Muslim.
Apa dan bagaimanakah  Kampung Gelgel ?   Kampung ini dari pusat kota Denpasar meluncur ke arah timur melalui jalan By Pass melalui jalan pantai di Gianyar dan Klungkung (dengan menempuh sekitar 65 km). Penduduk kampung ini  menurut Kepala Kampung Gelgel, Hanani,  kini (tahun 2011) berjumlah 286 KK.  Mereka dahulunya petani dan pemelihara kuda/dokar, tetapi seiring perkembangan Pariwisata Bali mereka beralih ke usaha konveksi seperti  pakaian, kerajinan daun lontar yang antara lain berisi kaligrafi, bahkan menjadi penyuplai utama pasar Seni Sukawati yang sangat kesohor bagi para wisatawan. ”akibat bom Bali 2002 yang berimbas pada anjloknya jumlah wisatan,  menyebabkan banyak pengrajin Gelgel gulung tikar”, uangkap Kepala Kampung Gelgel, Hanani.
Desa Kampung Gelgel  ini merupakan komunitas Muslim yang paling spesial, sebab kampung Gelgel ini merupakan komunitas Muslim pertama di pulau dewata.  Kedatangan muslim generasi pelopor ini dilakukan orang Jawa di era Dalem Ketut Ngelesir berkuasa di Bali (1380-1460 M).  Sebagai wilayah taklukan Mojopahit  Dalem Ketut Ngelesir memang mengadakan kunjungan ke Mojopahit, ketika Prabu Hayam Wuruk (1350-1389 M) mengadakan konferensi kerajaan-kerajaan vassal di seluruh Nusantara di awal 1380 an. Ketika kembali ke Gelgel  Dalem Ketut Ngelesir diberi 40 orang pengiring.  Keempat puluh orang pengawal itu ternyata semua beragama Islam, serta akhirnya menetap bertindak sebagai abdi dalem kerajaan Gelgel serta  menempati satu wilayah di Gelgel.  ALASAN KENAPA ke empatpuluh pengiring yang ditugaskan Majapahit semua dipilih orang Islam,  meski mayoritas penduduk Majapahit kala itu mayoritas Hindu,  tentu sangat menarik dan menantang untuk diteliti lebih lanjut.  Hal yang sudah pasti adalah para pengiring itu lantas mendirikan sebuah masjid, sekaligus menandai sebagai tempat ibadah umat Islam tertua di Bali. Masjid yang kini bernama Masjid Nurul Huda kini terletak di pinggir jalan raya.  Sayang sekali tempat ibadah peninggalan muslim Bali generasi pertama itu kini sama sekali tak meninggalkan ciri-ciri era kelampauan  pada bentuk bangunannya.
Ketika Waturenggong (1460-1550) menjadi penguasa Bali,  kekuatan Majapahit kian surut.  Bahkan,  sekitar tahun 1518, Demak pimpinan Raden Patah (yang tak lain putra Brawijaya V) dengan berbagai alasan politik  akhirnya menaklukkan Majapahit yang kala itu telah direbut dan dipimpin orang yang menyebut diri Brawijaya VI dan berikutnya VII, meski kedua orang itu bukan dari trah Wijaya.
Berikutnya,  di era Demak inilah ekspedisi silaturahmi dari kerajaan Islam Demak datang ke Gelgel, Klungkung yang kala itu dipimpin Watu Renggong.  Ekspedisi damai  ini secara permukaan bertujuan untuk menjalin hubungan sebagai sesama mantan vassal Mojopahit, sama-sama memiliki darah Mojopahit.  Namun,  inti tujuan ekspedisi ini adalah untuk menyebarkan Islam. Tampaknya Watu Renggong tidak berkenan terhadap Islam.  Apalagi penguasa Gelgel kala itu telah menempatkan Danghyang Nirartha alias Pandita Sakti Wawu Rawuh  yang  migrasi dari Jawa (Daha lantas ke Blambangan) ke Bali justru karena menghindar dari Islamisasi. Sebab,  dengan perkembangan Islam yang pesat di Jawa, maka ruang gerak kebagawantaannya menjadi semakin pudar.  Logikanya adalah,  Nirartha hampir pasti  menasehatkan kepada sang penguasa untuk tidak menerima Islam Demak.
Penolakan Waturenggong memang tidak dilakukan secara frontal, karena:  pertama,  hubungan Muslim dan penguasa Bali  tidak ada problem bahkan telah  dicontohkan oleh Ketut Ngelesir melalui 40 pengiring muslimnya yang setia.  Kedua,  Watu Renggong tidak ingin membangun hubungan negatif dengan penguasa Demak. Ketiga,  justru karena pengakhiran Mojopahit era Brawijaya VII oleh Demak telah mengukuhkan Bali dari status vassal Mojopahit  serta menjadi kerajaan merdeka.
Seperti Mojopahit, Demak memang juga melancarkan aksi politik perluasan wilayah: mengislamkan seluruh Jawa bahkan akhirnya merontokkan kejayaan Mojopahit. Tetapi,  penguasaan Demak atas wilayah-wilayah  Mojopahit dalam konteks agama tidak sekedar melalui kekuasaan.  Menurut De Graaf dan Pigeaud, cerita yang bertebaran dalam masyarakat Jawa banyak yang menyebut Islamisasi berlangsung damai. Artinya,  peradaban Jawa-Mojopahit-Hindu sedikit demi sedikit diislamkan.  Terbukti, agama dan corak kemasyarakatan pra Islam (Hindu dan Buddha) masih tetap bertahan sampai pada abad ke 16.  Ekspedisi damai Demak terhadap Gelgel juga menjadi tambahan bukti dari logika tadi.
Dalam sejarah di sebutkan bahwa utusan (yang menghadap Waturenggong) datang dari Mekah. Berdasar sumber C.C. Bergh diketahui bahwa utusan Mekah tersebut  yang dimaksud adalah  dari Demak Bintoro.  Ekspedisi 100 orang ini dipimpin Dewi Fatimah.   Kala itu Waturenggong menantang pimpinan ekspedisi untuk mengadu kesaktian.  Watu Renggong bersedia disunat (dipotong kulup kelaminnya sebagai salah satu tanda keislaman)  asalkan Fatimah mampu memotong bulu kakinya.   Ternyata, Fatimah gagal melakukan yang berarti Waturenggong sebagai pemenang. Fatimah akhirnya dihukum mati (dengan cara membunuh dirinya) dengan tikaman keris. Mayat Dewi Fatimah lantas  dikuburkan di Desa Satra sekitar 3 km selatan Klungkung atau 1,5 km baratdaya Gelgel. Hingga sekarang lokasi kuburan Dewi Fatimah itu dikenal dengan Sema Jarat atau Sema Pajaratan.  Jarat merujuk nama Gujarat India, dimana para saudagarnya sangat berjasa dalam pengislaman di tanah air,  sehingga hampir setiap orang Islam juga dinisbahkan dengan Gujarat. Kuburan itu terletak tepat disamping sungai dan sempat terkena banjir bandang,  sehingga pekuburan terseret banjir dan hilang bekas-bekasnya.    Bahkan,  Tanah Jarat –bekas tanah makam leluhur—itu, menurut kepala Kampung Gelgel,  Hanani,  akhirnya dijual kepada orang Hindu yang tinggal di desa Satra,  dan hasil penjualan akhirnya dibelikan tanah untuk membangun madrasah di kampung Gelgel.
Dengan tidak dibunuh tetapi dihukum bunuh diri atas Fatimah,  Watu Renggong punya tujuan strategis agar tidak menimbulkan konflik bersenjata Gelgel  Vs. Demak yang telah terbukti berhasil mengalahkan kerajaan besar Majapahit.  Oleh sebab alasan itu pula,  meskipun Waturenggong tak mau menjadi Muslim,  tetapi anggota ekspedisi tidak diusir. Kaum muslim itu akhirnya bergabung dalam komunitas Muslim Gelgel 40 pengiring Muslim di era Dalem Ketut Pengelesiran. Mereka lantas kawin mawin  dengan wanita lokal serta membangun cikal bakal komunitas muslim Bali.
Meski semangat membendung Islam sangat kuat menggejala dalam benak Raja Bali dan Penasehatnya,  tetapi komunitas Muslim Gelgel tetap hidup aman.  Kepada mereka diberikan sebidang tanah di pesisir pantai  sekitar Gelgel, bahkan ditambah lagi dengan kampung Jawa kampung dan kampung Lebah seiring dengan membengkaknya jumlah umat Islam.  Ketiga kampung ini memang spesial diberi oleh Puri lengkap dengan kuburan Muslimnya. Dapat dipahami jika kampung Muslim tadi,  menurut kepala desa Kampung  Gelgel, Hanani,  sekarang memiliki status kepemilikan dengan sertifikat. Padahal kaum Hindu disekitar komunitas kampung Muslim justru hanya memiliki status tanah Magersari Puri, sebagai pekarangan  desa atau meminjam/hak pakai saja  meski untuk waktu selamanya.
Kaum Muslim di ketiga wilayah itu mempertahankan adat istiadat dan keyakinannya tetapi tetap bersosialisasi dengan masyarakat sekitar dan saling berinteraksi dengan saudara-saudaranya yang Hindu dalam pergaulan akrab dan saling menolong.  Tidak ada kultur sejarah adanya konflik terbuka antara Amat Hindu dan Muslim.  Kalaupun di era belakangan muncul letupan konflik,  hal itu terutama terjadi hanya karena persoalan anak muda. Keharmonisan historis antar komunitas ini dapat dilihat misalnya dari realitas adanya Pura di samping makam leluhur  Umat Islam yang biasa disebut Sema Jarat. Sebagai penghormatan Pura terhadap Kuburan tokoh-tokoh Islam itu,  pura sejak dahulu melarang dua hal:  membawa sesajian daging babi dan melakukan upacara sabung ayam/tajen/tumpah getih,  dua hal yang memang Sangat dilarang dalam Islam.
”Tradisi di Pura itu bahkan telah berubah menjadi kepercayaan di kalangan Hindu Gelgel bahwa pelanggaran terhadap aturan leluhur ini dipercaya dapat membawa sial. Oleh sebab itu,  aturan tersebut dipegang kokoh sampai kini”, ungkap  Nasrullah mengakhiri penjelasannya.  Ucapan guru asli kampung Gelgel itu sekaligus menandai akhir kunjungan  kami ke kampung Muslim Bali generasi paling awal ini.***

Kampung Muslim Kusamba

 Setelah hari pertama dan kedua blusukan ke Kampung Gelgel, Kampung Lebah, dan Kampung Jawa,  pada hari berikutnya  dengan diantar pak Hasan Bick saya (dan beberapa teman, yakni: mas Hamdan Basyar,  Indriana Kartini, Heru Cahyono alias Ali Abdurrahman,  dan Afadlal) meluncur ke Kampung Kusamba yang juga merupakan salah satu komunitas Muslim Bali kuno di Klungkung. Kusamba terletak di Kabupaten Klungkung, Bali bagian Timur. Dari Denpasar butuh waktu tempuh sekitar 1,5 jam sampai ke sana. Selain dikenal sebagai pantai nelayan, Kusumba konon juga menjadi pusat pembuatan garam secara tradisional yang terbesar di pulau wisata ini.
Di Kusamba,  kami lihat banyak ibu-ibu dan remaja putri yang memakai jilbab. Sedang laki-lakinya bersongkok atau berkopiah putih. Ini menjadi simbol bahwa perkampungan tersebut adalah perkampungan Muslim. Simbol ini sangat penting di Bali, untuk membedakan mana masyarakat yang beragama Islam dan yang bukan. Sebab,  kalau lelaki Hindu yang dikenakan adalah udeng, yakni ikat kepala yang terbuat dari kain, persis seperti lelaki Jawa yang sempat kulihat di masa kecilku dahulu. Selain itu,  kaum Hindu baik wanita maupun pria banyak yang melilitkan kain di pinggang mereka, yang kebanyakan kuning atau sebagian lagi putih warnanya.
Namun,  dalam beberapa segi sebenarnya antara Muslim-Hindu di Kusamba telah melakukan akulturasi,  mengingat antara kedua komunitas ini telah memiliki hubungan geneologis yang kokoh akibat proses kawin mawin antar keduanya. Di kalangan umat Islam Kusamba misalnya,  mereka memakai juga nama-nama Wayan, Ketut, Nengah sebagai ciri khas kebalian mereka.  Wayan Mohammad Syaefullah,  seorang tokoh Kusamba yang saya temui,  merupakan salah satu contoh akulturasi nama dari : kebalian dengan keislaman.    Muslim Kusamba juga memiliki kemampuan berbahasa Bali halus,  sebagai lambang bahwa mereka adalah bagian dari komunitas asli Bali.
”Legenda nama Kusamba terjadi ketika seorang muslim asal Banjar  Kalimantan datang merapat ke Pantai desa itu. Ketika orang Banjar melihat seseorang (konon  pedagang  asal  Bugis)  sedang sholat lantas didekatinya. Si Bugis lantas bertanya : ”siapa kamu ?. Si Banjar menjawab: ”Ku Sama”,  yang di telinga si Bugis  terdengar Kusamba”, jelas Wayan Mohammad Syaefullah,  tokoh asli Kusamba yang pernah menjabat kepala desa setempat sejak 1984-2002 (Wawancara di Klungkung, 25 Mei 20011).
Kampung Islam Kusamba dikenal sebagai kampung Islam yang menyimpan banyak sejarah Islam di Bali. Dalam catatan sejarah disebutkan bahwa Desa Kusamba, Klungkung memiliki ikatan sejarah yang sangat besar atas perkembangan Islam di Tanah Dewata. Bukti sejarah tersebut ditandai adanya makam Habib Ali Bin Abubakar Bin Umar Bin Abubakar Al Khamid. Letaknya tepat di pesisir pantai Kusamba, Klungkung. Semasa hidupnya Habib Ali dikenal sangat dekat dengan keluarga Kerajaan Gelgel, Klungkung. Bahkan, ia ditunjuk menduduki jabatan sebagai penerjemah atau ahli bahasa yang bertugas mengajarkan bahasa Melayu kepada Raja yang saat itu dipimpin oleh Raja Dewa Agung Jambe. Karenanya Habib Ali mendapat perlakuan yang istimewa dari Raja. Ia diberi seekor kuda jantan putih yang gagah perkasa untuk melakukan tugas kerajaan. Tak hanya itu, ia merupakan satu-satunya rakyat biasa yang bebas keluar masuk kerajaan.
Konon karena perlakuan istimewa ini  akhirnya sempat menghembuskan angin permusuhan di internal kerajaan. Apalagi ia seorang Muslim yang “oleh kelompok dengki” dinilai tidak sesuai dengan keyakinan yang dianut waktu itu. Kedekatannya dengan Raja Dewa Agung Jambe akhirnya menuai petaka. Suatu hari,  usai menghadap sang raja, Habib Ali dihadang oleh sekelompok pasukan tak dikenal. Akhirnya, terjadi pertempuran (tepatnya: pengeroyokan) sengit dan tidak imbang yang mengakibatkan Habib Ali terbunuh. Mendengar penterjemahnya tewas, raja Klungkung, Dewa Agung Jambe memerintahkan prajurit kerajaan untuk memakamkan jasad Habib Ali di tepi pantai Kusamba, tempat dimana ia wafat.
Selain makam tersebut, bukti sejarah terkait keberadaan masyarakat Islam di Kusamba adalah penemuan benda bersejarah yaitu al-Qur’an tertua. Qur’an ini diakui telah berusia hampir 400 tahun. Al-Qur’an tertua tersebut ditulis tangan oleh ulama besar asal Bugis. Konon, al-Qur’an yang ditemukan di Kusamba merupakan salah satu al-Qur’an kembar tiga. Ternyata, al-Qur’an tertua di Bali ditulis dan dibuat sebanyak 3 buah dalam kurun waktu yang berbeda oleh ulama yang sama. Sayangnya, siapa pembuat ketiga al-Qur’an kembar tersebut sampai kini belum diketahui (Bahrul Ulum/Suara Hidayatullah AGUSTUS 2008).  Dan sayang sekali juga,  saya tidak berkesempatan melihat ketiga al Qur’an itu.
Dalam konteks kekinian  Hubungan masyarakat kampung yang mayoritas keturunan Banjar ini dengan kampung lainnya yang beragama Hindu secara umum sangat baik. Masyarakat Hindu bersikap toleran terhadap warga Muslim. Di kampung ini terdapat juga sebuah masjid yang cukup besar, bernama Masjid Al-Huda. Selain itu,  kampung ini juga memiliki sarana pendidikan berupa sekolah Islam.
Hal lain yang menarik,  ternyata sebagaimana komunitas Gelgel, hubungan masyarakat Muslim di kampung Kusamba dengan pihak kerajaan juga sangat baik. Demikian juga hubungan  Muslim Kusamba dengan komunitas Hindu di sekelilingnya,  semua terjalin sangat baik.  “Memang,  pernah sekali terjadi gesekan.  Kala itu terjadi pengepungan orang-orang Hindu terhadap kampung ini. Hal itu terjadi akibat kesalahpahaman saja.  Dan kala itupun,  penyulut peristiwanya bukanlah Muslim Kusamba,  tetapi seorang pendatang yang kebetulan kurang paham terhadap kultur Bali.  Dia membentak-bentak secara keterlaluan terhadap seorang Hindu dari kasta Brahmana –tapi miskin– yang kebetulan melakukan kesalahan.  Hal ini sempat menimbulkan ketersinggungan ”secara kolektif”.  Tapi,  setelah saya lakukan dialog dengan tokoh-tokoh Hindu,  akhirnya kami saling memaafkan.  Sebab,  kami  satu sama lain  hakekatnya kan memiliki hubungan kekerabatan akibat proses kawin mawin.  Nenek saya pun berasal dari komunitas mereka, seorang muallaf asal Hindu ”,  ungkap Wayan Mohammad Syaefullah, pengusaha penyewaan alat-alat berat ini.
Umat Islam di Kusamba secara historis dikenal sebagai umat yang jujur dan teguh memegang janji. Anggapan ini sudah ada sejak zaman nenek moyang mereka. Misalnya, dalam hal perjanjian untuk tidak saling mengganggu, atau menyakiti antar umat yang berkeyakinan beda.  Umat Islam adalah kelompok yang belum pernah mengingkari perjanjian-perjanjian seperti itu.  Selain itu, umat Hindu Klungkung juga melihat kaum Muslim itu sebagai masyarakat yang memiliki aturan lengkap. Misalnya aturan dalam kehidupan sehari-hari. “Mereka sangat hormat kepada muslim yang taat menjalankan agamanya,  secara percaya diri memperlihatkan identitas keislamannya,  seperti dilakukan komunitas muslim asli Bali.  Orang-orang Islam pendatang yang tidak shalat,  mabuk, yang tidak taat agama lah yang justru menyebabkan kaum Hindu menjadi kurang respek pada umat Islam”,  tegas Wayan.
Pada dasarnya umat Hindu di tempat itu memandang positif terhadap  umat Islam. Hal ini karena sudah terbukti bahwa Islam bisa hidup berdampingan dengan masyarakat sekitarnya. Buktinya, setiap adanya perayaan nyepi yang bersamaan dengan shalat Jumat, bisa berjalan beriringan.  Pada saat Nyepi, meski umat Hindu melaksanakan catur berata panyepian (mati karya, mati lelangunan, mati geni, dan mati lelungan), namun umat Islam juga menunaikan shalat Jumat di masjid,  tentu saja dengan  tidak menggunakan pengeras suara ke luar, tapi cukup ke dalam,  agar tidak mengganggu umat Hindu yang sedang merayakan hari besarnya.
Di Kabupaten Klungkung sebenarnya terdapat satu lagi kampung kuno Muslim yaitu
Kampung Toya Pakeh di Kecamatan –atau tepatnya pulau– Nusa Penida. Untuk menuju ke tempat itu,  kita harus naik kapal –atau tepatnya perahu—rakyat dalam waktu dua setengah jam.  “Bahkan,  waktunya bisa lebih lama terutama bila ombak lautan sedang bergejolak”,  jelas pak Hasan. “Oleh karena itu,  bila bermaksud mendatangi Toya Pakeh,  minimal kita butuh waktu seharian,  untuk pulang pergi dan  sedikit menyempatkan waktu menelusuri lokasi”. Namun, sejak semula saya memang tak berniat ke lokasi itu,  mengingat perahu rakyat di tempat itu tergolong kecil, sedangkan gulungan ombaknya terbilang besar.  Hati saya merinding  membayangkan bila harus berayun-ayun di samodera menuju Toya Pakeh.
Kampung Toya Pakeh sebenarnya merupakan pengembangan dari komunitas Gelgel-Bugis-Banjar di Kusamba.  Maka hampir sama dengan masyarakat kampung Gelgel yang merasa punya hubungan genealogis dengan kampung Lebah,  komunitas Kusamba merasa punya hubungan darah dengan masyarakat Toya Pakeh.  “Dapat dipahami jika sampai kini di Kusamba misalnya,  masih beroperasi pelabuhan (rakyat)  yang sangat penting menghubungkan Pulau Bali dengan  Pulau Nusa Penida”, jelas Wayan Mohammad Syaefullah mengakhiri penjelasannya.  Dengan berakhirnya penjelasan dari tokoh asal Kusamba tadi,   maka berakhir pula kunjungan kami di kampung Kusamba ini.  Dengan menembus hujan rintik-rintik di senja hari,  mobil kami beranjak meninggalkan kampung kuno yang dihuni komunitas muslim asli Bali.


Hubungan Historis-Kultural Muslim – Hindu di Klungkung

Pada hari keempat di kabupaten Klungkung,  saya dan teman-teman diajak pak Hasan Bicks menelusuri kembali jalan di kampung-kampung kuno Muslim.  ”Agar suasana kehidupan komunitas muslim Klungkung nyantel dalam ingatan”,  tegas pak Hasan sambil menyetir mobil dengan  penuh waspada.  Maklum, hari itu kami memang berniat melanjutkan perjalanan ke kabupaten Bangli.
Pagi  itu udara terasa dingin.  Langit mendung tipis,  dan mentari malu-malu menampakkan diri.  Bahkan,  gerimis kecil mulai turun membasahi bumi.  Udara di luar membeku,  tetapi alhamdulillah kami di dalam mobil tidak ikut beku. Kami tetap terhangatkan oleh semangat  yang menyala untuk mengunjungi kampung-kampung muslim di Bali lainnya.
Sebelum meninggalkan Klungkung,  kami   diajak mampir dahulu ke pelabuhan rakyat di desa Kusamba.  Ini merupakan kunjungan yang kesekian kalinya ke pelabuhan rakyat untuk menuju pulau Nusa Penida ini. Kenapa kami merasa perlu balik ke tempat ini ?  Alasannya hanya satu: menyantap sate ikan yang luar biasa lezatnya.  Sebenarnya,  tempat dan penyajiannya  tak ada yang istimewa alias sederhana saja.  Tetapi,  rasa khas nya  benar-benar menendang lidah kita.  Menunya: sate ikan yang ditusuk dengan potongan kecil pelepah daun kelapa,  sop dengan isi pentolan bakso terbuat dari ikan juga,  plecing kangkung,  kacang goreng, ditambah sambal yang pedasnya menyengat lidah kita.   Sungguh,  kelezatannya masih kuingat kembali ketika saya menulis naskah ini.
Di Kabupaten Klungkung   komunitas-komunitas muslim yang baru tumbuh sejak era pariwisata sebenarnya tidak ada.   Lima Kampung Muslim yakni Gelgel,  Lebah,  Jawa,  Kusamba, dan Toya Pakeh semuanya merupakan kampung Kuno.  Kaum Muslim yang  datang belakangan apalagi di era pariwisata Bali sejak tahun 1970an  sebagian kecil menginduk kepada kelima kampung kuno itu, tetapi kebanyakan justru tinggal membaur di komunitas-komunitas Hindu. Kaum pendatang baru di Klungkung ini pun jumlahnya tidak terlalu signifikan. ”Di Kabupaten Klungkung jumlah seluruh Muslim maksimal hanya sekitar 30 ribu jiwa atau sekitar 8000 KK yang sebagian terbesar tinggal di 5 Kampung kuno Muslim.  Bahkan,  angka itu sebenarnya masih kebesaran,  terutama jika dirujukkan pada realitas jamaah sholat di hari raya”,  kata ketua MUI Klungkung, Mustafid Amna.
Jika jumlah itu dibagi oleh komunitas 5 kampung Muslim,  maka rata-rata maksimal hanya berpenduduk 6 ribu jiwa perkampung.  Dengan data semacam ini maka jumlah pendatang Muslim di Klungkung tentu sangat sedikit. ”Di Kampung Gelgel saja misalnya,  kampung seluas 8,5 hektar yang dihuni 288 KK Muslim itu,  ternyata pendatangnya hanya tercatat 10 KK yang umumnya berprofesi sebagai pedagang”,  ungkap Kepala Kampung Gelgel, Hanani.
Masyarakat Muslim di Klungkung secara kesejarahan memiliki hubungan khusus dengan masyarakat Hindu lokal,  termasuk khususnya dengan elit pemerintahan kerajaan. Komunitas-komunitas Muslim lama di berbagai tempat (terutama kampung Gelgel dan Kampung Lebah) memiliki hubungan historis dengan Penguasa Hindu,  sehingga mereka secara kesejarahan diperlakukan secara sangat terhormat,  termasuk dalam simbolitas undangan di setiap acara adat yang diselenggarakan  keturunan para raja. Jika di Puri ada hajatan seperti Pitra Yadnya atau potong gigi (masangih) tokoh Kampung Islam lama biasanya diundang ke Puri dengan status yang justru diistimewakan, posisi duduk setingkat dengan raja.  Kesenian Islam bahkan pula ditampilkan dalam acara-acara adat mereka.
Ada satu hal lain dimana muslim Gelgel memperoleh keistimewaan, yakni: khusus masjid kampung Gelgel mendapatkan aliran air subak secara gratis seberapapun kuantitas yang digunakannya. Air subak terus mengalir deras siang malam –untuk keperluan bersuci– tanpa dipungut biaya.  Jika ada sebagian orang Hindu mempertanyakan hal ini,  otoritas Puri langsung tampil membela,  karena perlakuan istimewa ini  memang telah dijalankan ratusan tahun lamanya,  ada sejarah di dalamnya,  sehingga sampai kapanpun tak boleh digugat apalagi dibatalkan keberlakuannya.
Realitas kedekakatan kampung Islam dengan Puri itu terbangun, karena:
Pertama,   secara historis memang terjadi ikatan emosional antara komunitas Muslim dengan sebagian besar raja Klungkung,  terutama akibat  dukungan komunitas Muslim tersebut dalam berbagai peperangan antar kerajaan di Bali.  Perlu dicatat bahwa di era lama,  peperangan antar kerajaan di Bali memang seringkali terjadi.  Dalam peristiwa-peristiwa inilah kaum Muslim  kala itu dimintai bantuan agar menjadi bagian dari pasukan khusus.
Kedua,  terdapat hubungan perkawinan antara Muslim keluarga raja, bahkan juga diikuti pada level masyarakat biasa, yakni antara para pengikut, saudara, dan keturunan tokoh-tokoh Islam dengan wanita-wanita Hindu. Proses kawin mawin ini bahkan juga terjadi di kampung-kampung Islam yang muncul pada periode-periode berikutnya (tetapi juga kampung tua),  seperti kampung Kusamba, Kampung Jawa, dan Kampung di Nusa Penida.
Realitas sosio historis ini secara psikis akhirnya menumbuhkan ikatan emosional genealogis antara komunitas Hindu lokal dengan  kaum Muslim lama.  Oleh karena itu sebutan Nyamo Slam/saudara Muslim bukan sekedar istilah basa-basi tetapi memang memiliki sejarah genealogis. Kedua hal tersebut menyebabkan hubungan erat antara komunitas muslim lama dan kaum Hindu, bahkan sampai disebutnya sebagai Nyamo Slam,  saudaraku Muslim.
Sejarah masuknya Islam ke sejumlah lokasi di Bali yang kini lebih dikenal dengan Banjar Muslim, tidak merupakan satu kesatuan yang utuh, namun satu sama lainnya kemudian saling berinteraksi. Namun perlu dicatat bahwa Keberadaan muslim Klungkung terhitung paling tua dalam catatan sejarah Muslim Bali. Mereka yang terutama tinggal di Gelgel bahkan tercatat sebagai  generasi pelopor muslim di wilayah Bali pada umumnya.
Sebagaimana telah disinggung pada tulisan sebelumnya (tulisan pertama), kedatangan Muslim pertama di Bali  terjadi sejak era Dalem Ketut Ngelesir.  Sebagai kepanjangan penguasa Majapahit,  Dalam Ketut Ngelesir  (1380-1460) memang pernah mengadakan kunjungan ke Majapahit, ketika Hayam Wuruk mengadakan konperensi kerajaan-kerajaan vasal (taklukan) di seruruh Nusantara. Ketika kembali Ketut Ngelesir diberi 40 orang pengiring beragama Islam. Kaum muslim tersebut lantas menetap di Bali bertindak sebagai abdi dalem kerajaan Gelgel,  serta  menempati satu permukiman dan membangun sebuah masjid dan menjadi  tempat ibadan umat Islam tertua di Bali. Sejak itu komunitas muslim mulai muncul di Bali dan terus berkembang, walaupun tidak sepesat di Jawa.
Ketika Dalem Waturenggong (1460-1550) menggantikan Ketut Ngelesir,  perkembangan Islam di nusantara makin pesat terutama setelah tahun 1518 Demak/ Raden Patah (putra Brawijaya V) meruntuhkan Majapahit (pimpinan orang yang menyebut diri Brawijaya VII) dengan berbagai alasan politik. Di era Demak inilah, misi Islam datang lagi ke Gelgel, Klungkung.
Memang,  waktu itu Watu Renggong yang tak lain cucu Dalem Krisna Kepakisan tidak berkenan terhadap Islam.   Banyak muncul versi bagaimana cara Waturenggong menolak himbauan Islam,  namun  satu versi yang dianggap kuat adalah Waturenggong menantang pimpinan ekspedisi (Dewi Fatimah, yang masih kerabat Waturenggong sendiri) untuk mengadu kesaktian,  dan ternyata Waturenggong menang.  Konsekuensinya misi Islam tidak dapat diterima melalui jalur kerajaan,  sedangkan  kaum muslim dalam ekspedisi itu diijinkan bergabung dalam komunitas Muslim Gelgel yang telah ada sebelumnya. Mereka membangun  misi dengan cara lain yakni kawin mawin  dengan wanita lokal serta membangun cikal bakal komunitas-komunitas muslim di Bali.  Ketika kampung Gelgel sudah tak mampu menampung,  kerajaan memberi tanah pelungguhan baru di kampung Lebah. Dua kampung itulah sebagai komunitas muslim tertua di tanah Bali. Bahkan Watureggong konon senantiasa memberikan sangu/tambahan bekal kepada umat muslim yang akan menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci Mekkah. Keturunan komunitas yang telah ada sejak 500 tahun lalu ini jejak sejarahnya masih ada dan masih mempertahankan adat istiadat dan keyakinannya. Mereka bersosialisasi dengan masyarakat sekitar dan saling berinteraksi dengan kaum Hindu.
Hubungan Muslim – Hindu Klungkung dalam konteks kekinian tetap harmonis. Kalaupun  terjadi friksi umumnya terkait dengan kenakalan remaja (seperti beberapa kali terjadi di kampung Lebah). Namun,  tetap harus dicermati bahwa: terutama seiring dengan terbangunnya Bali sebagai wilayah wisata maka problema-problema baru memang muncul.  Tetapi umumnya,  problema bukan bersifat kultural,  tetapi lebih bersifat ekonomi.  Dengan status wilayah wisata,  maka banyak pendatang baru, yang umumnya muslim. Problemnya adalah: motivasi utama mereka adalah ekonomis,  tanpa diimbangi oleh usaha pemahaman terhadap kultur dan kearifan lokal. Problema politik nasional ditambah euphoria politik otonomi daerah  –yang acapkali dibumbui oleh eksploitasi semangat primordial oleh mereka yang berebut kuasa– tampaknya ikut pula merembeskan pengaruh negatifnya terhadap konstelasi hubungan sosial  di wilayah Klungkung.
Rinai kecil pelan-pelan membesar.  Suaranya makin lama kian bergemuruh. Sesekali kilat menyambar di udara,  meski tanpa suara.  Langit menangis.  Udara membeku.  Tapi kami tetap bersemangat melanjutkan perjalanan,  menerobos hujan menuju kota tujuan: Bangli.   ***
Dhurorudin


---------------------------
Sumber :
http://dhurorudin.wordpress.com/2011/12/18/mengunjungi-kampung-muslim-gelgel-di-klungkung-bali-tulisan-1/
http://dhurorudin.wordpress.com/2012/01/19/berkunjung-ke-kampung-muslim-kusamba-bali-tulisan-2-2/
http://dhurorudin.wordpress.com/2012/02/19/hubungan-historis-kultural-muslim-hindu-di-klungkung-bali-tulisan-3/





MJIB - 39. Mengenal Beberapa Kampung Muslim di Kab. Gianyar Bali

______________________
Oleh : Dhurorudin Mashad


Kampung Islam Keramas: Sebuah Komunitas Muslim Era Lama di Kabupaten Gianyar

Hari masih pagi.  Matahari baru saja terbit. Pendaran sinar sang surya menampilkan panorama yang sungguh mempesona. Ku tatap semburat merah di ufuk timur,  sebagai biasan dari sang surya yang baru bangun tidur.  Pohon-pohon masih mengkerut kedinginan. Embun masih menempel di dedaunan. Kulihat burung-burung  berlompatan dari dahan ke dahan,  menyambut pagi dengan hati riang.  Kalbu saya pun bernyanyi riang.  Demikian juga teman-temanku seperjalanan,  wajah mereka memancarkan suasana hati yang lagi diwarnai  keindahan pagi.
Saya bernyanyi-nyanyi kecil sepanjang perjalanan menuju Gianyar. Baru kali ini saya akan menapaki kota ini,  meski telah seringkali saya mendengar keindahan wilayah ini. Ubud misalnya, sepengetahuanku konon identik dengan sentra  keindahan akan alamnya dan keelokan akan karya-karya seninya. Benarkah ? Wallahu a’lam,  sebab saya memang baru menuju ke arah kota ini.
Konon,  kota Gianyar telah berdiri sejak dua seperempat abad lalu,  atau tepatnya 19 April 1771.  Sejarah kota ini tercatat sejak Gianyar dipilih menjadi nama sebuah keraton, Puri Agung yaitu Istana Raja (Anak Agung) oleh Ida Dewa Manggis Sakti.  Sejak itulah lahir sebuah kerajaan yang berdaulat dan otonom yang ikut serta dalam percaturan kekuasaan kerajaan-kerajaan di Bali.
Namun,  jika ditelusuri lebih dalam,  sejarah dari perkembangan wilayah ini jauh lebih tua dibanding tahun 19771.  Perlu dicatat bahwa setelah ekspedisi Gajah Mada (Majapahit) berhasil menguasai Bali, maka di bekas pusat markas laskarnya didirikan sebuah Keraton Samprangan sebagai pusat pemerintahan kerajaan yang dipegang oleh Raja Adipati Ida Dalem Krena Kepakisan (1350-1380), sebagai cikal bakal dari dinasti Kresna Kepakisan. Samprangan ini konon berada di wilayah yang sekarang termasuk Gianyar ini. Di era Ida Dalem Ketut Ngulesir (1380-1460),  pusat kerajaan vassal Mojopahit ini  barulah dipindah ke Gelgel (kini masuk wilayah Klungkung),  dan terus berlanjut di era  Ida Dalem Waturenggong (1460-1550), Ida Dalem Sagening (1580-1625), dan  Ida Dalem Dimade (1625-1651).
Dua Raja Bali yang terakhir yaitu Ida Dalem Segening dan Ida Dalem Dimade telah menurunkan cikal bakal penguasa di daerah-daerah. Ida Dewa Manggis Kuning (1600-an) penguasa di Desa Beng adalah cikal bakal Dinasti Manggis yang muncul setelah generasi II membangun Kerajaan Payangan (1735-1843). Salah seorang putra raja Klungkung Ida Dewa Agung Jambe yang bernama Ida Dewa Agung Anom muncul sebagai cikal bakal dinasti raja-raja di Sukawati (1711-1771) termasuk Peliatan dan Ubud. Pada periode yang  sama yaitu periode Gelgel muncul pula penguasa-penguasa daerah lainnya yaitu I Gusti Ngurah Jelantik menguasai Blahbatuh dan kemudian I Gusti Agung Maruti menguasai daerah Keramas yang keduanya adalah keturunan Arya Kepakisan.
Melalui proses dinamis selama beberapa decade dalam pergumulan antar elit-elit  tradisional, salah seorang diantaranya sebagai pembangunan kota kerajaan yang disebut Gianyar. Dialah Ida dewa Manggis Sakti (generasi IV dari Ida Dewa Manggis Kuning). Peristiwa ini terjadi pada 19 April  1771.
Nah,  lantas apa dan bagaimana  komunitas Islam era lama di Gianyar ?  serta adakah hubungan erat antara kampung lama komunitas Islam dengan puri Gianyar,  seperti terjadi di wilayah lain di Bali ? Saya dan kawan-kawan berusaha menelusuri persoalan ini.  Berbeda dengan kompung-kampung Islam era lama di berbagai wilayah lain di Bali yang kebanyakan memiliki hubungan erat dengan puri agung,  ternyata dalam konteks Gianyar saya tidak mendapatkan datanya.  Memang,  saya dkk  mendapatkan satu kampung lama komunitas Islam, yakni kampung Islam keramas.  Juga, memang saya mendapatkan bahwa kampung Keramas memiliki hubungan erat dengan puri,  tetapi ternyata yang disebut puri dalam konteks ini bukan puri Agung,  tetapi  puri Keramas.
Puri adalah nama sebutan tempat tinggal bangsawan Bali, khususnya mereka yang masih merupakan keluarga dekat raja-raja Bali. Berdasarkan sistem pembagian triwangsa atau kasta, puri ditempati oleh bangsawan berwangsa ksatria. Sedangkan untuk tempat kaum Brahmana biasa disebut dengan Griya.
Perlu diingat bahwa setelah Kerajaan Gelgel mulai terpecah pada pertengahan abad ke-18, terdapat beberapa kerajaan, yaitu Badung (termasuk Denpasar), Mengwi, Tabanan, Gianyar, Karangasem, Klungkung, Buleleng, Bangli dan Jembrana.  Di era Indonesia sekarang ini  dari berbagai kerajaan tadi  yang tidak memiliki kabupaten hanyalah Mengwi saja,  yang sekarang sebagian besar menjadi wilayah kabupaten Badung dan Tabanan.
Puri-puri di Bali dipimpin seorang keturunan raja, yang umumnya dipilih oleh lembaga kekerabatan puri. Pemimpin puri yang umumnya sekaligus pemimpin lembaga kekerabatan puri, biasanya disebut sebagai Penglingsir atau Pemucuk.  Para keturunan raja/ wangsa kesatriya tersebut  bisa dikenali dari gelar pada nama mereka, seperti: Ida Bagus,  I Gusti, Cokorda, Anak Agung Ngurah, Dewa Agung, Ratu Agung, Ratu Bagus dan lain-lain.
Dalam kasus Gianyar ini,  setelah saya telusuri  ternyata terdapat beberapa nama puri antara lain: Puri Agung Payangan, Puri Gianyar, Puri Agung Ubud (Puri Saren), Puri Agung Peliatan,  Puri Keramas, Puri Medahan, Puri Agung Sukawati, Puri Agung Singapadu , Puri Agung Tegal Tamu, Puri Agung Negara, Puri Kaleran Negara, Puri Agung Lebih, Puri Kedisan Tegallalang, Puri Pejeng, Puri Ageng Blahbatuh, Puri Agung Blahbatuh (Kaleran), Puri Agung Blahbatuh (Kelodan),  Jero Karang Kasap (“http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Puri_di_Bali&oldid= 5191 805).
Nah,  dari sekian puri tadi,  yang memiliki hubungan erat dengan kampung muslim Keramas adalah  Puri Keramas. Dari sisi historis,  Kampung Islam Keramas ini keberadaaannya ternyata telah ada jauh sebelum kolonial Belanda bercokol di tanah Bali. Kampung Muslim Keramas bermula dari Raja Gusti Agung Keramas (Puri Keramas)  yang kala itu membutuhkan seorang pedanda untuk menjadi pemuka agama di wilayahnya.  Setelah melakukan serangkaian pencarian, raja akhirnya menemukan seorang resi yang dianggap  pas, yang kebetulan berasal dari Kampung Sindu di wilayah Karangasem. Sindu kala itu memang  menjadi sentra kaum Brahmana alias berisi kaum Griya,  sebutan sentra tokoh agama.
Resi dari Griya Sindu bersedia menerima tawaran Puri Keramas dengan syarat diperbolehkan mengajak serta beberapa rekan muslim  untuk menemani  tinggal di Keramas.  Persyaratan diterima,  sehingga sang resi mengajak enam orang Muslim  Sindu menuju Keramas.  Nah,  di Lokasi inilah, kepada kaum muslim lantas diberikan tanah untuk sawah,  kebun,  serta untuk tempat ibadah, pemukiman, dan pemakaman.
Tujuan utama sang resi mengajak serta beberapa orang Muslim adalah untuk menjadikan mereka sebagai pengawal atau pelindung di tempat barunya.  Oleh karena itu,  sangat dipahami jika keenam muslim tersebut tentu orang-orang pilihan,  keturunan kaum bertuah yang dibawa raja Karangasem dari Lombok setelah penaklukan atas wilayah itu.   Dari 6 pria sakti asal  Sindu (yang akhirnya mengawini wanita hindu lokal) inilah akhirnya beranak pinak membentuk komunitas muslim Keramas hingga saat ini. Di tahun 1963 ketika gunung Agung meletus,  beberapa keluarga dari Kampung Sindu di Karangasem mengungsi ke tempat ini.  Sebab,  mereka memiliki jalinan kekeluargaan dengan komunitas muslim Keramas.  Kedatangan kaum Muslim dari Sindu Karangasem “periode Indonesia”  ini akhirnya ikut mewarnai  komunitas Muslim lama di Keramas.
Dahulu Ketika terjadi konflik-konflik di tingkat lokal,  komunitas muslim Keramas konon menjadi satu kekuatan terpenting dalam membela puri. Kaum Muslim Keramas asal usulnya memang dari warga kampung  Sindu    –  Karangasem yakni keturunan warga Lombok yang dikenal sebagai komunitas yang memiliki tuah. “Mitos kesaktian itu bahkan berlanjut hingga sekarang, sehingga  komunitas Kampung Keramas hingga kini masih diperhitungkan karena kemampuan pencak silatnya”,  jelas Syamsuddin tokoh Keramas yang berhasil saya dkk.  jumpai di masjid Keramas.
Karena sejarahnya yang khas inilah,  maka hubungan warga muslim Keramas dengan Puri Keramas hingga kini tertap terjalin dengan cukup baik. Setiap  ada acara di Puri Keramas,  kaum Muslim Keramas  selalu dilibatkan. Bila mengundang kaum Muslim,  Puri tak hanya mengundang secara lisan atau tulisan,  tetapi sekaligus menyertakan bahan makan mentah agar diolah sendiri oleh kaum Muslim.  Hasil masakan ini dibawa dalam acara Puri sebagai santapan kaum muslim selama acara. Secara bergenerasi, Puri memang sangat memahami bahwa orang Islam tidak makan babi dan tidak memakai alat apapun yang tersentuh zat babi.  Oleh karena itu bahan dan proses pemasakan termasuk alat masaknya diserahkan sepenuhnya kepada umat Islam.
Realitas perbedaan ini secara ratusan tahun ternyata tak menjadi ganjalan dalam prosesi acara di Puri apalagi dalam hubungan kehidupan sehari-hari Muslim-Hindu.  Sebab umat Islam Keramas dalam kegiatan Puri  turut membantu dan membaur dalam warga Hindu,  misalnya ketika membuat anyaman atau janur. “Bahkan,  berpijak pada sejarah itu pula,  maka eksistensi kampung Keramas  sampai kini dianggap sebagai kampung khusus dan tidak tersentuh oleh ketentuan adat alias Banjar.   Kaum Keramas sejak dahulu hingga kini memiliki kebebasan dalam mengekpresikan kehidupan keberagamaan. Ketika puasa Ramadan misalnya, warga bebas memukul beduk tanda sahur,  dan tak ada teguran dari masyarakat banjar sekitar.  Hal ini sangat sulit dilakukakan oleh muslim di lokasi lain,  terutama di kabupaten  Gianyar”, jelas Kholid Mawardi tokoh Keramas lain yang juga berhasil saya temui.
Kampung Keramas   jumlah penduduk muslimnya hanya 50 jiwa (tahun 2010). Sebagian warganya ada yang pindah ke lokasi lain,  baik karena alasan menikah maupun karena bekerja.  “Saya juga berasal dari kampung keramas,  tetapi setelah kawin diajak suami tinggal di sini”,  kata seorang wanita,  ibu dari pak Luqman hakim yang berhasil juga saya jumpai di rumahnya, di Gianyar kota.  Sementara itu,  untuk lokasi kampung Keramas sendiri,  mungkin dapat saya katakan terhitung steril dari pendatang muslim,  mengingat sangat sedikitnya pendatang muslim yang ikut bergabung tinggal di lokasi ini.  Kalaupun ada pendatang,  maksimal disebabkan oleh adanya jalur perkawinan.  Singkat kata,  komunitas muslim kampung keramas tampaknya lebih banyak menjalin hubungan dengan komunitas hindu di sekitarnya dibanding kontak sosial dengan komunitas Islam di tempat-tempat lain yang memang lebih jauh jaraknya.
Mungkin karena interaksi kurang optimal terhadap komuntas muslim lain di Gianyar menyebabkan warga Kampung keramas mengalami dua hal: “Pertama,  secara ekonomi lambat berkembang, bahkan dapat  dikatakan sebagai kampung tertinggal.  Kedua,  pembinaan keagamaan terhadap masyarakatnya juga kurang”.   Jika saya perhatikan Kampung keramas secara fisik  memang didominasi oleh pemukiman sangat sederhana.  Oleh karena itu,  bahwa kampung Keramas disebut sebagai kampung miskin oleh kebanyakan warga Islam yang saya wawancarai di banyak tempat tidaklah terlalu keliru.  Bahkan,  “image” ini diakui juga oleh tiga sesepuh kampung Keramas sendiri yang berhasil saya temui.  Bahkan mereka mengakui pula bahwa realitas itu berimplikasi pula pada ghirah keagamaan.  “Ketika hari Jum’at misalnya,  dari 50 warga muslim yang ikut jumatan maksimal hanya dua shaf  (barisan)”, kata Syamsuddin yang diamini Khalid Mawardi.
Setelah menyempatkan shalat dluhur di masjid Keramas yang tergolong sederhana,  pak Hasan segera mengantar kami mencari rumah makan untuk mengisi perut yang sudah keroncongan. Quo vadis kampung Keramas ?***


Masjid Agung Gianyar Bali

Setelah seharian menelusuri Kampung Islam Keramas, dua hari berikutnya secara berturut-turut saya mengunjungi beberapa kampung Islam yang keberadaannya terhitung lebih muda, seperti: Kampung Semebaung, Kampuing Jawa/Pas Dalam,  Samplangan, dan komunitas muslim di wilayah Ubud. “Komunitas muslim ini relatif lebih baru, dan  datang secara bergelombang  terjadi sejak awal kemerdekaan. Sebagian kecil datang karena tugas,  baik sebagai PNS, polisi atau tentara”,  kata  Khalid Mawardi, seorang tokoh kampung Kramas,  “Tetapi kebanyakan bahkan lebih dari 95 persen datang sendiri dan menjadi pekerja sector informal,  terutama berdagang.  Mayoritas pedagang makanan kelas kaki lima”.  Penjelasan Khalid Mawardi ini akhirnya memang saya  buktikan. Ketika mencari makan malam misalnya,   saya  tidak terlalu sulit  menemukan warung makan khas kaki lima yang terjamin kehalalannya, baik di lokasi pasar senggol atau  di lokasi lainnya.
Hari masih pagi.  Kulihat anak-anak dengan baju seragam lalu lalang berangkat menuju sekolah.  Begitu juga,  banyak pria-wanita paruh baya dengan berseragam pula bersliweran berangkat menuju tempat kerja.  Saya dkk santap pagi di warung pak Lukman,  warga Gianyar  keturunan Pakistan tetapi ibu asli kampung Keramas.  Selama di Gianyar saya  memang sering makan di tempat ini.  Maklum,  lokasinya tidak jauh dari penginapan, plus menunya dijamin halal alias tak meragukan.   Letak warung dan atau rumah pak Luqman tepat di samping alun-alun kota,  dengan karakteristik bangunan yang tergolong era lama. “Komplek bangunan ini usianya sudah lebih 100 tahun pak,  peninggalan kakek saya”, kata pak Luqman menjelaskan.
Keluarga pak Luqman –meski leluhurnya asli Pakistan—memang tergolong pelopor untuk penghuni di wilayah yang sekarang menjadi  pusat kota ini.  Oleh karena itu banyak sekali informasi yang dapat digali dari pak Luqman terkait tentang apa dan bagaimana komunitas Islam di Gianyar. Bahkan,  akhirnya saya sempat pula mampir ke rumah orang tua pak Lukman untuk mendapat informasi lebih dalam tentang Islam dan Muslim Gianyar. Dari jalur lelaki,  orang tua pak Luqman beretnis Pakistan,  tetapi dari jalur ibu asli warga lokal kampung Keramas.
Selepas sarapan,  saya  meluncur ke komunitas Muslim di Kampung Jawa.  Kampung ini lebih dikenal dengan sebutan Desa Pas Dalam.  Komunitas ini konon berkembang seiring dengan didirikannya Yayasan Nurul Hikmah di tahun 1987.  Sebelum yayasan didirikan sebenarnya sudah ada  beberapa keluarga Muslim yang tinggal di sekitar lokasi.  Mereka lah yang lantas berinisiatif mendirikan yayasan,  dengan maksud untuk membangun dan atau mempertahankan identitas Islam di tengah kehidupan masyarakat yang sangat kental dengan kultur Hindunya.
Keluarga Muslim yang jumlahnya hanya beberapa itu bersepakat mencari dana dengan menyebar sekitar 6000 proposal kepada umat Islam di seluruh Bali. Hasil sumbangan yang masuk  lantas dibelikan tanah di tengah-tengah sawah.  Mereka membangun kesepakatan dengan warga Hindu pemiliki sawah untuk membuat jalan umum membentang di persawahan.  “Dengan jalan umum yang membelah sawah, harga tanah diproyeksikan akan meningkat. Prediksi ini terbukti,  pelan tapi pasti banyak orang berdatangan membeli lokasi ini.  Pelan tapi pasti pula,  persawahan ini akhirnya berubah menjadi perkampungan.  Lokasi ini (tahun 2010) dihuni sekitar 80 KK. Mereka umumnya datang dari Jawa (Banyuwangi, Jember),  Sumatera, Lombok, dan Madura. Karena etnis Jawa sangat dominan,  maka wilayah ini  lebih dikenal sebagai Kampung Jawa”,  jelas Abdul Muhri Mulyono,  salah satu tokoh Kampung Jawa sekaligus Sektretasis Yayasan Nurul Hikmah.
Yayasan Nurul Hikmah bentukan warga kampung Jawa ini sangat besar pengaruhnya bagi pembinaan keagamaan umat Islam di sekitar kota Gianyar.  Yayasan ini memiliki Madarasah Diniah, Taman Pendidikan Al Qur’an,  bahkan juga pesantren malam.  Yayasan juga memiliki Majelis Taklim,  termasuk punya Rukun Suka Duka Amaliah yang secara umum menangani berbagai persoalan yang dihadapi komunitas Muslim, termasuk khususnya dalam soal kematian. “Kematian di Gianyar memang bukan masalah sederhana, tetapi sangat problematic terutama terkait dengan soal penguburan. Sebab, kuburan  Muslim di Beng sudah super padat,  sementara untuk membuka lokasi baru sulit diwujudkan,    karena terbentur alasan adat”,  kata pak Mulyono mengakhiri penjelasan. Setelah cukup banyak mendapat informasi seputar Desa Pas Dalam, dan setelah melihat-lihat  lingkungan lokasi yang dikenal pula sebagai kampung Jawa ini,   saya  bersegera mencari sasaran makan siang, karena jam makan sebenarnya telah jauh terlewatkan.
Menjelang sore  pak Hasan Bick sudah mengantar kami ke Semebaung, sentra komunitas muslim laindi kota Gianyar. Sejarah komunitas Muslim Semebaung  tampaknya lebih lama  dibanding kampung Jawa.  Kampung Semebaung secara administrative masuk wilayah Banjar Marga Sengkala. Komunitas ini mulai “dibangun“ sejak tahun 1960 an oleh sejumlah pendatang Muslim dari Jawa Timur (Banyuwangi).  Komunitas kecil ini membentuk kelompok pengajian di sebuah bengkel sepeda motor,  yang statusnya masih kontrak.  Kelompok  ini terus berkembang.  Walhasil,  “Di tahun 1976 umat Islam lantas mendirikan sebuah musholla  di sepetak tanah yang luasnya hanya 10 are.  Tanah itu dibeli dengan harga satu juta rupiah  dari dana hasil patungan”,  kata seorang tokoh sepuh “pendiri” kampung Semebaung.  Setelah lokasi itu berhasil didaftarkan sebagai tanah Wakaf di tahun 1989,  musholla lantas dikembangkan menjadi masjid Jami’ Semebaung,  dengan bantuan dana dari Jakarta (dan Arab Saudi).   “Bersama dibangunnya masjid Semebaung,  kami juga membentuk Yayasan As Syu’la”, kata H. Amru,   seorang pengusaha mebel keturunan Arab yang sejak tahun 2010 dipercaya menjadi pemimpin yayasan.
Sejak  berdirinya masjid Semebaung,   para keluarga Muslim yang semula terpencar di banyak lokasi,  akhirnya pelan tapi pasti mendekat ke kampung ini.  Masjid Semebaung ibarat magnit  bagi kaum Muslim sekitar untuk berdatangan menuju dan tinggal di tempat ini.   Alasan mereka tentu bukan karena semangat eksklusivisme,  melainkan dalam rangka untuk mendapatkan pembinaan keagamaan,  serta tersedianya fasilitas ibadah yang sangat mereka butuhkan untuk hidup keseharian.  Di tahun-tahun inilah (terutama sejak 1996) muslim Semebaung telah berubah menjadi sebuah komunitas dengan warna berbhinneka, sebab  etnis dan daerah penghuninya memang beraneka ragam asal usulnya. Di tahun 2010 diperkirakan komunitas muslim Semebaung sekitar 830 KK.  Namun,  dari seluruh warga muslim  itu hanya 30 % yang memiliki KTP,  sementara 70 persen hanya punya Kipem (Kartu Identitas Pendatang Musiman) ”,  tandas H. Amru.
Menurut berbagai informasi,  wilayah Gianyar merupakan kabupaten yang paling problematic untuk mendapatkan KTP.  KTP dimungkinkan terutama bagi mereka yang dapat menunjukkan kepemilikan rumah dan atau sertifikat tanah.  “Karena kebijakan ini bahkan banyak dari penduduk yang telah belasan tahun tinggal di Bali,  bahkan lahir dan besar di Gianyar,  hanya karena tak mempunyai tanah apalagi rumah,  akhirnya tak bisa mendapatkan KTP.  Malahan yang tadinya punya KTP,  ketika memperpanjang tidak lagi bisa didapatkan,  karena tidak memiliki persyaratan aneh tadi.  Ini terjadi terutama sejak era otonomi daerah.  Otonomi daerah dalam prakteknya tidak membawa kebaikan,  tetapi banyak menimbulkan kerusakan.  Akibatnya,  banyak dari kami yang notabene WNI,  namun tidak memiliki KTP sebagai identitas WNI”,  tambah H. Amru.  Informasi ini ternyata dibenarkan pula sumber alternatif  lain yang saya  dapatkan di lokasi-lokasi lain.
Selain di Kampung Jawa dan Semebaung,  komunitas Muslim di Gianyar terdapat pula di desa Samplangan. Komunitas ini benihnya sudah lama ada,  tetapi semula tersebar di berbagai tempat.  Mereka baru membentuk sebuah komunitas terutama seiring dengan berhasil didirikannya sentra Yayasan Pendidikan Anak Yatim (Yapenatim) di lokasi ini.   Yapenatim dibentuk tahun 1981 oleh sejumlah tokoh dari Departemen Agama dan Depdiknas seperti KH Munajat (Ketua MUI Gianyar), Mukhson Efendi, Abdurrohim, dan Ansori.  Namun,  aktivitas Yapenatim mulai optimal sejak 17 Agustus 1985,  ketika para pendiri yayasan secara terbatas mendata anak-anak miskin dan yatim untuk dibina.
Di awal kegiatan, yayasan menampung 17 anak  dengan lokasi pertamakali kontrak di desa Pas Dalem (kampung Jawa).  Dua tahun berikutnya, Yapenatim pindah ke Desa Ketewel, lantas pindah lagi ke Sukowati.  Di Sukowati inilah Yayasan memiliki lokasi sendiri,  dengan membangun sebuah rumah di sebuah tanah wakaf.  Namun,  warga Hindu sekitar Yayasan protes alias mengajukan keberatan terhadap yayasan Islam,  sehingga Yapenatim terpaksa pindah lokasi,   kontrak di  daerah Beng dekat pekuburan Muslim.  Namun, atas dukungan donatur  pada tahun yang sama (1987) Yapenatim membeli tanah di Desa Samplangan,  lantas didirikan lembaga pendidikan dan panti asuhan.  Hanya saja sampai sekarang,  jalan menuju lokasi ini statusnya masih sewa pada warga Hindu lokal,  sehingga sewaktu-waktu bila timbul konflik,  akses jalan  bisa ditutup kembali. Kekhawatiran ini beralasan, sebab  diawal pendirian Yapenatim dilokasi ini (tahun 1987) prosesnya juga tidak gampang,  bahkan sempat mengalami pengepungan. “Masalah bahkan sempat dibawa  ke level bupati.  Setelah melalui negosiasi dan penjelasan logika historis:  bahwa mereka hakekatnya sama-sama pendatang asal Jawa hanya saja beda periodenya,  bahwa mereka secara historis adalah bersaudara,  akhirnya dicapai kesepakatan untuk mengijinkan”,   kenang KH Munajad.  Salah satu cara yang ditempuh untuk merangkul komunitas Hindu, Yapenatim yang telah memiliki fasilitas pendidikan MI, MTsN, MA,  serta pesantren ini,  sengaja mengangkat  dua staf yayasan dari kalangan Hindu (satu lelaki satu perempuan).
Di Gianyar terdapat satu lagi lokasi komunitas muslim yang cukup unik yakni di wilayah wisata : Ubud.  Bahkan,  di tempat ini berdiri sebuah yayasan Islam bernama Yayasan Ubudiah.  Komunitas di lokasi ini dipelopori sejumlah pelukis muda muslim yang datang dan bermukim di Ubud sejak 1960-1970an.  Salah satu tokohnya yang berhasil saya temui adalah W. Hardja, seorang pelukis asal Surabaya yang menetap di Ubud sejak tahun 1969.     Kaum seniman muslim di Ubud ini  berkehendak mendirikan sebuah musholla.  “Alasannya : pertama, umat Islam memang memerlukan tempat ibadah untuk menjalankan kewajiban keagamaan di tengah realitas bahwa mereka adalah minoritas.  Kedua,  umat Islam mulai memikirkan masa depan pemahaman agama anak-anak mereka,  ketiga,  banyak wisatawan muslim yang datang ke Ubud menanyakan dan atau memerlukan tempat untuk beribadah”,  kata . W. Hardja yang kawin dengan wanita hindu lokal. Atas pertimbangan itulah lelaki yang  lebih dikenal dengan mbah Hardja ini lantas menjadikan mushola yang semula hanya untuk keluarga,  akhirnya difungsikan pula untuk  umum.  Bahkan,  karena dalam perkembangan waktu mushola tidak lagi mampu menampung jumlah jama’ah,  akhirnya dikembangkan menjadi masjid dengan “mengorbankan”  beberapa kamar yang sebelumnya dijadikan penginapan.
Tempat ibadah yang diberi nama masjid Ubudiah tersebut didirikan tahun 1991.  Dana pembangunan diperoleh dari lelang lukisan para pelukis muslim, termasuk W. Hardja.  Lelang diselenggarakan ICMI yang kala itu mengadakan pameran lukis hasil karya pelukis muslim se Indonesia.  Masjid yang berada di bawah naungan Yayasan Ubudiah,  kini telah dilengkapi dengan TPA sebagai sarana penanaman nilai keislaman di kalangan generasi muda Islam yang dalam konteks Bali sangat minoritas jumlahnya
Masjid Ubudiah ini sebenarnya tidak penuh mengantongi izin dari banjar, karena izin yang dimiliki hanya mendirikan TPA dan bukan tempat ibadah.  Langkah ini tentu bukan tanpa alasan,  karena jika ijin yang diajukan adalah tempat ibadah, hampir pasti akan mendapat tantangan. Karena statusnya inilah,  maka pasca peristiwa Bom Bali tahun 2002,  masjid Ubudiah sempata ditutup  paksa.  Sampai  kini perintah penutupan masjid secara formal  belum pernah dicabut.  Tetapi dalam realitas, masjid sudah mulai difungsikan kembali,  terutama dilakukan melalui komunikasi informal antar pemuda (Islam – Hindu) yang sejak kecil memang  telah berteman. Apalagi,  komunitas Islam di lokasi  ini hakekatnya memiliki jalinan genealogis dengan warga Hindu akibat terjadinya kawin mawin antara kedua komunitas. W. Hardja sendiri misalnya,  istrinya seorang mualaf,  sehingga secara genealogis anak keturunannya memiliki hubungan darah dengan keluarga besar pihak istri yang tak lain warga Hindu.
Tidak jauh dari lokasi Yayasan Ubudiah,  atau sekitar 12 km dari Ubud ke arah utara juga terdapat sebuah komunitas muslim di daerah Tegalalang. Meskipun jumlahnya sangat kecil,  tetapi  di tempat itu terdapat TPA  ( sekaligus  sebagai musholla) yang terutama beraktivitas di Sore hari. Hal yang unik dari TPA ini adalah : pertama, lokasi nya di tempat pencucian mobil milik orang Hindu. Warga Hindu pemilik pencucian merelakan sebagian tempatnya  dijadikan TPA, karena untuk memenuhi kebutuhan anak-anak karyawannya yang kebanyakan muslim. Kedua, pelanggan cuci umumnya tentu warga Hindu juga,  sehingga mereka setiap sore melihat aktivitas  pengajian di lokasi ini.
Kasus di Tegalalang ini menunjukkan manisnya sebuah toleransi,  sebuah realitas yang sayangnya tidak bisa dirasakan warga perumahan BTN Bega.  Padahal lokasi itu penghuninya para pegawai pengadilan agama sehingga mayoritas warganya adalah muslim.  Tetapi ketika mereka mendirikan mushola dan atau TPA untuk memenuhi kebutuhan rohani internal warga penghuninya,  mereka mendapat resistensi  dari warga Hindu di sekitarnya.
Langit kelabu. Hati saya juga kelabu mendengar informasi itu.  Langit turun gerimis.  Mata hatiku juga gerimis,  menangis, mendapat kabar tentang kasus  intoleransi di negeriku  tersayang ini.  Ya Tuhan,  taburkanlah sinar kasih Mu ke dalam hati semua saudara ku (se bangsa dan se negara ini)  agar  jantung hati mereka senantiasa menebarkan benih-benih kasih sayang pada sesama,  seperti dalam kasus toleransi di Tegalalang tadi. Amin. ***
 
DHURORUDIN MASHAD

-------------------------------------
Sumber :
http://dhurorudin.wordpress.com/2012/08/15/beberapa-kampung-islam-di-gianyar-dari-semebaung-sampai-pas-dalam-tulisan-12/